Catatan Lapangan (Penelitian Kualitatif)

BAB I

PENDAHULUAN

            Penelitian kualitatif mengandalkan pengamatan atau wawancara dalam pengumpulan data di lapangan, Pada waktu berada di lapangan peneliti membuat catatan, setelah pulang ke rumah atau tempat tinggal barulah menyusun catatan lapangan. Catatan yang dibuat di lapangan sangat berbeda dengan catatan lapangan. Catatan itu berupa coret-coretan yang sangat dipersingkat, berisis kata-kata inti, frase, pokok-pokok isi pembicaraan atau pengamatan, mungkin gambar, sketsa, sosiogram dan lain-lain.

Catatatan itu hanya berguna untuk alat perantara antara apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan diraba dengan catatan sebenarnya dalam bentuk catatan lapangan. Catatan itu baru diubah ke dalam catatan yang lengkap dan dinamakan catatan lapangan setelah penelitian tiba dirumah. Proses itu dilakukan setiap kali selesai mengadakan pengamatan, wawancara, tidak boleh dilalaikan karena akan tercampur dengan informasi lain dan ingatan seseorang itu sifatnya terbatas (Moelong, 2005:153)

Catatan lapangan terdiri dari dua suku kata, yakni catatan dan lapangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “catatan“ mengandung arti; hasil pencatatatan; peringatan. Sedangkan kata “lapangan” sebagai bentuk kata benda mengandung tiga arti, yakni tempat atau tanah yang luas (biasanya rata); alun-alun; medan; tempat (gelanggang) pertandingan (bulutangkis, bola voli, bola basket); atau bidang (pekerjaan, pengetahuan, dan sebagainya), (Pusat Bahasa,2008). Catatan lapangan secara bahasa berarti hasil mencatat suatu bidang pengetahuan.

Menurut Bogdan dan Biklen (1982) catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif (Moloeng, 2005:153). Selain itu catatan penelitian merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran (Septiadi, 2008).

Idrus (2007:85) juga berpendapat bahwa catatan lapangan merupakan catatan yang ditulis secara rinci, cermat, luas, dan mendalam dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti tentang aktor, aktivitas ataupun tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Dalam penjelasan yang lebih lengkap mengenai pemahaan Idrus berkenaan dengan pendapat Bogdan dan Binklen (1982) tentang makna catatan lapangan di atas, ia memahaminya sebagai hasil observasi atau wawancara yang bermakna lebih kolektif, karena terdiri dari catatan lapangan yang dibuat oleh peneliti sendiri, dan ditambahkan dengan hasil karya orang lain yang berupa transkrip wawancara (transkip wawancara ini mungkin saja merupakan hasil karya orang lain, karena si peneliti sendiri menyerahkan hasil rekamannya kepada seorang ahli yang telah terbiasa menulis transkip hasil wawancara, sehingga tidak perlu dirinya sendiri yang mentranskripkannya), dokumen resmi yang ada, statistik resmi, gambar, foto, rekaman video, ataupun catatan resmi lainnya yang dikeluarkan pihak yang terkait dengan situasi fokus penelitian (Idrus,2007:85).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

            Catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Menurut Mandolang (2007) catatan lapangan adalah tulang punggung riset aksi etnografis (ethnographic action research). Catatan lapangan adalah catatan yang dibuat peneliti dalam sebuah penelitian etnografi dari lapangan. Catatan tersebut dapat bersifat deskriptif (sesuai yang teramati) atau reflektif (mengandung penafsiran peneliti).

Adapun krakteristik catatan lapangan, yakni meliputi:

  1. Akurat
  2. Rinci, namun bukan berarti memasukkan semua data yang tidak berkaitan
  3. Luas, agar pembaca memahami situasi dijelaskan
  4. Data dapat menyediakan ikhtisar budaya atau pengaturan.
  5. Para pengamat harus melakukan lebih dari sekedar melakukan perekaman situasi sederhana

2. Bentuk Catatan lapangan

Menurut Moelong (2001:154) bentuk catatan lapangan pada dasarnya adalah wajah catatan lapangan yang terdiri dari halaman depan dan halaman-halaman berikutnya disertai petunjuk paragraf dan baris tepi.

1) Halaman Pertama

Menurut Lexy J. Moleong (2001:154) pada halaman pertama  setiap catatan lapangan diberi judul informasi yang dijaring, waktu yang terdiri dari tanggal dan jam dilakukannya pengamatan dan waktu menyusun catatan lapangan, tempat dilaksanakannya pengamatan itu, dan diberi nomor urut sebagai bagian dari seluruh perangkat catatan lapangan.

2) Alinea dan batas tepi

Alinea atau paragraf dalam catatan lapangan memegang peranan khusus dalam kaitannya dengan analisis data. Oleh karena itu, setiap kali menuliskan satu pokok persoalan, peneliti harus membuat alinea baru. Kemudian, batas tepi kanan catatan lapangan harus diperlebar dari biasanya karena akan digunakan untuk memberikan kode pada waktu analisis. Kode tersebut berupa nomor dan judul-judul tertentu. Atas dasar pemberian kode dengan judul-judul tersebut dapat diperkirakan berapa lembar batas tepi yang perlu disisakan. Menurut Idrus (2007:93) mengenai bentuk catatan lapangan pada dasarnya belum ada kesepakatan antar para ahli ethnografi tentang bagaimana bentuk catatan lapangan yang baik. Namun demikian sebagai persiapan tentang isi catatan lapangan itu harus memuat:

1) Judul atau tema yang ditulis

Penulisan tema ini penting agar memudah peneliti dalam membuat kategori-kategori. Tentu saja tema ini dapat diambil sesuai topik yang dibicarakan. Hanya saja perlu diingat tema tersebut tidak boleh lepas dari kerangka besar desain penelitian yang sedang dirancang.

2) Menjelaskan tentang kapan aktivitas itu terjadi (jam, tanggal, hari).

Peneliti hendaknya menuliskan secara rinci kapan suatu dialog itu terjadi lengkap denga tanggal, hari, jam saat di mulai dan saat wawancara itu selesai dilakukan. Proses ini berguna saat peneliti hendak melakukan uji keabsahan data. Dari catatan tersebut peneliti dapat memperkirakan kapan lagi jika suatu data hendak dilakukan keabsahannya.

3) Menyebutkan siapa yang terlibat dalam aktivitas itu (baik si pengamat maupun yang diamati).

Pada bagian ini sebutkanlah siapa yang diamati dan siapa yang berposisi sebagai pengamat. Menjelaskan aktivitas apa yang sedang terjadi. Paparkan aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh subyek. Penggambaran aktivitas ini penting agar peneliti dapat memahami perilaku sesuai konteks yang dialami oleh informan. Di mana aktivitas itu terjadi. Jelaskan di mana aktivitas itu berlangsung.

3. Model Catatan Lapangan

Dalam penjelasannya, Moleong mengungkapkan bahwa model suatu catatan lapangan membaginya ke dalam tiga macam, yakni catatan pengamatan, catatan teori, dan catatan metodologi (2001:154-156).

a. Catatan Pengamatan (CP)

Catatan pengamatan adalah pernyataan tentang semua yang dialami yaitu yang dilihat dan didengar dengan menceritakan siapa yang menyatakan atau melakukan apa dalam situasi tertentu (Moleong, 2001:155). Catatan pengamatan dilakukan selama tindakan berlangsung (Widyawati, 2008). Pernyataan tersebut tidak boleh berisi penafsiran, hanya merupakan catatan sebagaimana adanya dan pernyataan yang datanya sudah teruji kepercayaan dan keabsahannya.

Setiap catatan pengamatan mewakili peristiwa yang penting sebagai bagian yang akan dimasukkan ke dalam proposisi yang akan disusun atau sebagai kawasan suatu konteks atau situasi. Moleong (2001:155) menambahkan bahwa catatan pengamatan merupakan catatan tentang siapa, apa, bilamana, di mana, dan bagaiamana suatau kegiatan manusia. Hal itu menceritakan ”siapa mengatakan” atau ”melakukan apa” dalam kondisi tertentu.

Setiap catatan pengamatan merupakan suatu kesatuan yang menunjukkan adanya satu datum atau sesuatu yang sangat berkaitan atau menjelaskan peristiwa atau situasi yang ada pada catatan pengamatan lainnya. Jika catatan pengamatan itu merupakan kutipan, sebaiknya dikutip secara tepat.

b. Catatan Teori (CT)

Catatan teori yakni digunakan untuk menampung peneliti yang ingin mempersoalkan melebihi fakta. Catatan teori mewakili usaha yang terkontrol dan dilakukan secara sadar untuk memperoleh pengertian dari satu atau beberapa catatan pengamatan. Peneliti sebagai pencatatan senantiasa berpikir tentang apa yang dialaminya dan membuat pernyataan khusus tentang arti sesuatu yang dirasakannya sebagai sesuatu yang menghasilkan suatu pemikiran konseptual. Dengan demkian ia mulai menafsirkan, menyimpulkan, berhipotesis, bahkan berteori. Ia mulai mengembangkan konsep baru, menghubungkannya dengan konsep lama, atau menghubungkan antara sesuatu yang diamatinya dari segi lain yang akan menghasilkan suatu perubahan sosial.

c. Catatan Metodologi (CM)

Menurut Moleong (2001:156) catatan metodologi ialah pernyataan yang berisi tindakan operasional yang berpengaruh terhadap suatu kegiatan pengamatan yang direncanakan atau yang sudah diselesaikan. Jadi, catatan metodologi berupa instruksi-instruksi terhadap pengamat sendiri, peringatan, kritik terhadap taktiknya. Hal itu berisi soal waktu, penata urutan kegiatan, penetapan dan kestabilan langkah, pengaturan situasi dan tempat, cara pengamat berkelit dalam taktik, dan lain sebagainya. Catatan metodologi mempermasalahkan tindakan diri peneliti dan proses metodologinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

            Catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialamai, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitif (Moloeng,2005:153). Selain itu catatan penelitian merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran (Septiadi, 2008).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

—-http://andiprastowo.wordpress.com/2010/07/09/mengenal-teknik-catatan-lapangan-dalam-penelitian-kualitatif/ diakses pukul 12.10 tanggal 10 oktober 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Evaluasi Olahraga: Pelaporan evaluasi

Pelaporan Evaluasi

A. Rasional

Evaluasi merupakan kegiatan yang harus dikuasai oleh seorang guru, sebab jika terdapat kekeliruan melakukan evaluasi akan merugikan siswa yang dievaluasi. Maksudnya jika terjadi kesalahan dalam mengevaluasi, bisa terjadi siswa yang seharusnya lulus menjadi tidak lulus, atau sebaliknya, artinya akan terjadi kesalahan dalam penilaian terhadap siswa. Pada akhir proses evaluasi tentu ada suatu laporan. Laporan ini disebut pelaporan evaluasi yang memuat hasil nyata proses evaluasi. Sehingga perlu diperhatikan bahwa laporan ini sangat bermakna. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh guru, dan anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai. Mengingat betapa pentingnya pelaporan evaluasi, maka untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bahasan berikut ini.

B. Pembahasan

Defenisi, Tujuan dan Pelaporan

Pelaporan merupakan salah satu tahapan evaluasi yang amat penting. Pelaporan ini dibuat dan diberikan kepada siswa, orang tua siswa dan pihak sakolah. Pelaporan merupakan salah satu bukti diselenggarakannya evaluasi yang selanjutnya dipakai sebagai umpan balik yang sangat berguna. Pelaporan evaluasi dapat didefenisikan sebagai laporan akhir dari suatu proses kegiatan (dalam hal ini adalah pembelajaran peserta didik), yang mana kegiatan tersebut telah menjalani proses evaluasi. Tujuan pelaporan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana perkembangan, peningkatan, dan pencapaian kegiatan belajar peserta didik. Beberapa bentuk-bentuk pelaporan yang sering kita jumpai di sekolah-sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam:

1. Isi Laporan Isi laporan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu memuat:

• Nilai

• Data

• Data dan saran

• Nilai, data, dan saran

Sedangkan beberapa bentuk nilai yang biasanya diberikan oleh para guru penjas antara lain adalah:

• Dalam bentuk angka, misalnya: merentang dari 1 hingga 10

• Dalam bentuk huruf, misalnya: merentang dari A, B, C, D, dan E atau G

• Dalam bentuk kata

• Dalam bentuk prosentasi

• Dalam bentuk dua kelas dikotomi, misalnya: berhasil dan gagal. Dilihat dari sisi format laporan, paling tidak ada tiga format yang sering digunakan, yaitu format laporan tradisional, format kartu fortofolio, dan format gabungan atau modifikasi.

Kedua format terakhir biasanya berisikan data perkembangan kemajuan belajar siswa berikut saran-sarannya bagi orang tua siswa. Sementara itu format laporan tradisonal biasanya terbatas hanya pada melaporkan nilai saja. Format ini merupakan format tradisional yang sering kita jumpai di sekolah-sekolah dasar negeri di Indonesia.

2. Manfaat Laporan

Secara sistematis dapat dikemukakan bahwa laporan tentang siswa bermanfaat bagi beberapa pihak yaitu sebagai berikut:

1) Siswa sendiri

Bagi siswa, laporan kemajuan atau laporan prestasi akan sangat bermanfaat karena :

• Secara alamiah setiap orang selalu ingin tau akibat dari apa yang telah mereka lakukan, apakah hasil itu menggembirakan atau mengecewakan. Menurut Gestalt (Arikunto, 2009: 282) menyatakan “perbuatan-hasil” merupakan satu keseluruhan yang tidak terpisahkan. Dengan demikian, jika ada perbuatan tetapi belum ada hasil berarti kesatuan itu belum selesai dan manusia selalu menuntut keutuhannya.

• Dengan mengetahui hasil yang positif dari perbuatannya, maka pengetahuan yang diperoleh akan dikuatkan.

• Dengan mendapat informasi bahwa jawabannya salah, maka lain kali siswa tersebut tidak akan menjawab seperti itu lagi.

2) Guru yang mengajar

Seperti halnya siswa yang ingin tau akan hasil usahanya, guru-guru yang mengajar siswa pun pasti juga ingin tau hasil usaha yang telah dilakukannya terhadap siswa. Dengan melihat catatan laporan kemajuan, maka guru akan merasa tenang mengamati hasil tersebut. Daftar nilai yang disimpan oleh guru masih merupakan catatan sementara, dan masih bersifat rahasia. Tetapi laporan kemajuan siswa yang berupa raport atau STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) sudah merupakan laporan resmi yang bersifat tetap dan terbuka. Oleh karena laporan itu merupakan titik tolak bagi guru untuk menentukan langkah selanjutnya, maka laporan itu dibuat sejujur dan setepat mungkin. Amat disayangkan bahwa apa yang dicantumkan dibuku rapor kadang-kadang sudah tidak murni merupakan cermin siswa lagi karena sudah dibumbui oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan.

3) Guru lain Yang dimaksud dengan guru lain di sini adalah guru yang akan mengggantikan guru yang mengajar terdahulu karena siswa tersebut sudah naik kelas atau adanya perpindahan baik siswa yang pindah atau guru yang pindah dari tempat lain. Apabila tidak ada catatan atau laporan mengenai siswa, maka guru yang mengganti dan mengajar akan tidak tau bagaimana memperlakukan siswa tersebut.

4) Petugas lain di sekolah Siswa yang berada di suat sekolah, sebenarnya bukan hanya merupakan asuhan atau tanggung jawab guru yang mengajar saja. Kepala Sekolah, Wali Kelas dan Guru Pembimbing, ketiganya merupakan personal-personal penting yang juga memerlukan catatan tentang siswa. Dengan demikian maka hasil belajar siswa akan diperhatikan dan dipikirkan oleh beberapa pihak.

5) Orang tua Secara alamiah orang tua mempunyai tanggung jawab utama terhadap pendidikan anak. Akan tetapi karena berkembangnya pengetahuan secara pesat, meyebabkan orang tua kurang mampu menguasai seluruh ilmu yang ada. Ditambah juga dengan kesibukan orang tua mencari nafkah, maka tugas mendidik sebagian dilimpahkan kepada sekolah. Dengan menyerahkan ke sekolah bukan berarti orang tua dapat lepas pemikiran dan menyerahkan tanggungjawabnya kepada guru. Orang tua masih tetap merupakan penanggung jawab utama, dan masih pula menentukan cita-cita bagi anaknya. Itulah sebabnya maka orang tua masih ingin selalu mengetahui kemajuan anaknya dari hari ke hari, yang dapat dilihat melalui laporan yang diberikan oleh guru.

6) Pemakai lulusan Setiap siswa yang sudah lulus dari pendidikan, selalu membawa bukti bahwa ia telah memiliki suatu pengetahuan dan keterampilan tertentu. Namun pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari suatu sekolah, tidaklah sama bagi semua siswa. Ada siswa yang sangat berhasil, berhasil atau agak berhasil. Tingkat keberhasilan ini dinyatakan secara lengkap dalam laporan prestasi. Catatan tentang diri lulusan akan berguna baginya apabila:

1. Mencari pekerjaan Dengan gambaran yang tercantum dalam laporan, maka lapangan kerja akan mengetahui sesuai atau tidaknya bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh lulusan dengan tuntutan bagi pekerjaan/tugas yang akan diembannya.

2. Mencari kelanjutan studi Seperti halnya lapangan kerja, lembaga pendidikan yang merupakan kelanjutan dari lembaga di mana siswa belajar, juga menginginkan adanya catatan yang menggambarkan keadaan atau keberhasilan siswa selama menuntut ilmu. Catatan ini akan berguna untuk:

(1) Memupuk apa yang sudah berhasil di lembaga sebelumnya

(2) Mengatasi masalah yang ada, baik yang sudah dicoba untuk diatasi maupun yang belum.

3. Cara Membuat Laporan Pada dasarnya, catatan/laporan tentang diri siswa ini diusahakan selengkap mungkin agar dapat diperoleh informasi yang selengkapnya pula. Akan tetapi kita sadari bahwa membuat catatan yang lengkap setiap saat, merupakan tugas yang berat dan meminta banyak waktu. Oleh karena itu, pembuatan catatan/laporan ini kadang-kadang lalu disingkat, hanya disesuaikan dengan kondisi yang mendesak. Secara garis besar catatan/pelaporan evaluasi tentang siswa, dapat dibuat dengan dua macam cara, yakni sebagai berikut:

(1) Catatan lengkap

Catatan lengkap adalah catatan tentang siswa yang berisi baik prestasi maupun aspek-aspek pribadi yang lain, misalnya kejujuran, kebersihan, kerajinan, sikap social, kebiasaan bekerja, kepercayaan terhadap diri sendiri, disiplin, ketelitian dan sebagainya. Tentang isi catatannya ada yang dinyatakan dengan singkat seperti “Baik”, “Sedang”, “Kurang”, atau dengan keterangan yang lebih terperinci.

(2) Catatan tidak lengkap adalah catatan tentang siswa yang hanya berisi gambaran tentang prestasi siswa, dan hanya sedikit saja menyinggung tentang kepribadian. Tentang prestasi belajar siswa itu sendiri dapat dibedakan atas 2 cara:

• Dengan pernyataan lulus-belum lulus Penilaian atas prestasi belajar dalam system pengajaran yang menganut prinsip belajar tuntas didasarkan atas sudah berhasil atau belumnya seorang siswa dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini bahan pelajaran dibagi atas unit-unit kecil yang masing-masing unit sudah disertai dengan tujuan yang sudah dirumuskan secara terperinci. Apabila seorang siswa telah mencapai tujuan (paling sedikit 75% tujuan), maka pada unit tersebut diberi tanda (misalnya tanda silang), untuk membedakannya dari unit yang belum diselesaikan. Dengan demikian maka akan tergambar banyak sedikitnya unit yang telah diselesaikan per bidang studi. Gambaran inilah yang disebut profil keberhasilan siswa.

• Dengan nilai siswa Pencatatan dengan nilai dilakukan apabila seluruh siswa dalam suatu kelompok berjalan bersama-sama secara klasikal. Dengan demikian maka prinsip belajar tuntas sangat sukar dilaksanakan dan pencatatan nilai didasarkan atas nilai-nilai ulangan yang telah diikuti.

C. Karakteristik Tes

Agar pelaporan evaluasi itu berhasil dan teruji kebenarannya, maka saat proses evaluasi dilakukan harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Dan tes yang mana sebagai alat ukur dalam evaluasi harus memiliki karakteristik agar dapat dipercaya, diyakini penggunaan dan hasilnya. Karakteristik itu pada bab-bab sebelumnya telah dibahas, antaralain:

• Kehandalan (reliable) Apabila suatu tes diberikan kepada suatu kelompok sampel dan kemudian tes itu diberikan kembali pada waktu yang berlainan pada kelompok lain, jika hasil pertama dan kedua tetap, maka itu dikatakan reliable.

• Objektivitas Identik dengan kejujuran.

• Validity (ketepatan)

• Norma Suatu norma adalah suatu standard, di mana suatu skor yang diperoleh dapat dibandingkan dengan norma tes tersebut sehingga diketahui kedudukan skor yang diperoleh.

D. Kegiatan Pelaporan

Ada dua wadah untuk menyampaikan laporan evaluasi terhadap hasil belajar siswa, yakni:

1. Pertemuan dengan orang tua peserta didik.

2. Buku laporan kemajuan atau buku rapor.

E. Penutup

Pada akhir proses evaluasi tentu ada suatu laporan. Laporan ini disebut pelaporan evaluasi, yang memuat hasil nyata dari belajar siswa yang telah menjalani proses evaluasi. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh guru, aparat sekolah, dan anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai. Pelaporan evaluasi sangatlah penting. Pelaporan ini dibuat dan diberikan kepada siswa, orang tua siswa dan pihak sakolah. Pelaporan merupakan salah satu bukti diselenggarakannya evaluasi yang selanjutnya dipakai sebagai umpan balik yang sangat berguna. Pelaporan evaluasi dapat didefenisikan sebagai laporan akhir dari suatu proses kegiatan (dalam hal ini adalah pembelajaran peserta didik). Tujuan pelaporan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana perkembangan, peningkatan, dan pencapaian kegiatan belajar peserta didik. Isi laporan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu memuat: 1) nilai, 2) data, 3) data dan saran, 4) nilai, data, dan saran. Dilihat dari sisi format laporan, paling tidak ada tiga format yang sering digunakan, yaitu format laporan tradisional, format kartu fortofolio, dan format gabungan atau modifikasi. Dan pelaporan evaluasi ini ada yang dibuat dengan lengkap mencakup seluruh aspek tujuan/ranah pendidikan, dan ada yang tidak lengkap.

Disusun Oleh

 Desi Selvia Syahzi,S.Pd & Wahyu Nopianto,S.Pd

Evaluasi Proses Pembelajaran

 EVALUASI PENDIDIKAN

“EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN”

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pembelajaran sebagai suatu sistem yang memiliki berbagai komponen yang saling berinteraksi, berinterelasi dan berinterdependensi. Dimana salah satu komponen pembelajaran adalah evaluasi. Dalam sistem pembelajaran, evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh guru atau dosen untuk mengetahui keefektifan suatu pembelajaran. Hasil yang diperoleh suatu evaluasi dapat di jadikan feed back bagi pengajar untuk memperbaiki dan menyempurnakan program dalam kegiatan pembelajaran.

Evaluasi juga dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah. Ruang lingkup evaluasi pembelajaran dapat ditinjau dari berbagai perspektif, yaitu domain hasil belajar, sistem pembelajaran, proses dan hasil belajar serta kompetensi. Dalam tulisan ini hanya akan membahas evaluasi hasil belajar saja. Hal ini dimaksudkan agar guru atau dosen betul-betul dapat membedakan antara evaluasi pembelajaran dengan penilaian hasil belajar sehingga tidak terjadi kekeliruan atau tumpang tindih dalam penggunaannya.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru atau dosen dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi adalah suatu proses mengukur dan menilai (Uno, 2006). Sedangkan Bloom dalam Daryanto (2007) mengungkapkan bahwa evaluasi sebagaimana dapat dilihat adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam keyataan terdapat perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri siswa.

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan Sesuai pendapat Grondlund dan Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secaras sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran.

Untuk memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi.

Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi konteks, input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:

(1)perencanaan,

(2)pengumpulan data,

(3)verifikasi data,

(4)analisis data, dan

(5)interpretasi data.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai

B.Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

1).Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

2).Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.

3).Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.

4).Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik,guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:

a).Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.

b).Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.

c).Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.

C. Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. Oleh karena itu, pembahasan evaluasi hasil pembelajaran dengan lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil tes, juga secara khusus akan membahas pengembangan tes untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi.

1).Teknik Tes

Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinyapiring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.

Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.

Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:

a).Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.

b).Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.

Fungsi (a) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran, sedang fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.

2) Tes Menurut Tujuannya

Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi menjadi:

a).Tes Kecepatan (Speed Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. Waktu yang disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif singkat dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya.Tes yang termasuk kategori tes kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu alat.

b).Tes Kemampuan (Power Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif maupun psikomotorik. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan segala kemampuannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.

c).Tes Hasil Belajar (Achievement Test)

Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan. Tes Hasil Belajar (THB), baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.

d).Tes Kemajuan Belajar ( Gains/Achievement Test)

Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk mengetahui kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan kondisi akhir testi digunakan post-tes.

e).Tes Diagnostik (Diagnostic Test)

Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.

f).Tes Formatif

Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pembelajaran tertentu.

g).Tes Sumatif

Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti jumlah. Dengan demikian tes sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.

3).Bentuk Tes

Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis :

a).Tes lisan (oral test)

b).Tes tertulis (written test)

c).Tes tindakan atau perbuatan (performance test)

Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap.

D. PENDEKATAN ACUAN DALAM EVALUASI

Pendekatan merupakan sudut pandang seseorang dalam mempelajari sesuatu. Dengan demikian pendekatan evaluasi merupakan sudut pandang seseorang dalam menelaah atau mempelajari evaluasi. Uno (2006) menyatakan bahwa ada 2 (dua) jenis acuan penilaian dalam pengambilan keputusan saat evaluasi yaitu :
1. Penilaian acuan patokan (PAP)

Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik.  Dengan kata lain, kemampuan-kemampuan apa yang telah dicapai peserta didik sesudah menyelesaikan satu bagian kecil dari suatu keseluruhan program. Jadi penilaian acuan patokan meneliti apa yang dapat dikerjakan oleh peserta didik dan bukan membandingkan seseorang peserta didik dengan teman sekelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau patokan yang spesifik. Kriteria yang dimaksud adalah suatu tingkat pengalaman belajar yang diharapkan tercapai sesudah selesai kegiatan beljar atau sejumlah kompetensi dasar yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar berlangsung (Arifin, 2009).
Tujuan dari PAP adalah untuk mengukur secara pasti tujuan atau kompetensi yang ditetapkan sebagai kriteria keberhasilannya. PAP sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar sebab peserta didik diusahakan untuk mencapai standar yang telah ditentukan dan hasil belajar peserta didik dapat diketahui derajat pencapaiannya.

Dengan menggunakan PAP kita akan melakukan pengambilan keputusan yang mengacu pada nilai baku yang telah ditentukan terlebih dahulu sebelum ujian. Nilai baku ini merupakan kriteria kelulusan. Nilai baku tersebut dapat berupa persyaratan jumlah nilai misal ≥ 60 maka mahasiswa yang memiliki nilai 60 atau lebih dinyatakan lulus. Dapat juga nilai lulus tersebut berupa persyaratan jumlah sasaran belajar misalnya 5 sasaran belajar, yang artinya jika mahasiswa sudah mencapai 5 sasaran belajar berarti lulus. Dengan menggunakan PAP akan memungkinkan mutu pendidikan dapat dipertahankan. Hanya siswa yang dapat menyamai atau melampaui nilai baku yang dapat lulus.
2. Penilaian acuan norma (PAN)

Pada umumnya PAN dipergunakan untuk seleksi, disisi lain penggunaan PAN merupakan cara pengambilan keputusan dengan menggunakan norma kelas atau norma kelompok sebagai acuan pengambilan keputusan. Tujuan PAN adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Adapun norma ini tidak dapat ditentukan sebelum ujian tetapi justru setelah ujian ini terselenggara. Akan didapatkan kurva dengan rata-rata sebagai nilai rata-rata kelas ditetapkan sebagai norma kelulusan.

Dengan PAN ini maka jumlah kelulusan akan menjadi tinggi karena hasil tidak terikat pada nilai baku yang telah ditentukan terlebih dahulu. Namun standar mutu pendidikan dengan demikian akan menurun.Oleh sebab itu penggunaan PAN sulit untuk mengevaluasi standar mutu pendidikan, disamping PAN kurang memacu mahasiswa untuk mencapai prestasi tinggi. Oleh karena itu sebaiknnya PAN digunakan sebagai diagnostik maupun seleksi karena lebih tepat menggambarkan kemampuan umum mahasiswa dibandingkan dengan PAP.

BAB III

KESIMPULAN

BErdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa:

-          Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.

-          Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Selain itu yaitu Fungsi seleksi. Fungsi Penempatan. Fungsi Diagnostik.

-          Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati, Mudjiono., 2006, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Kiranawati, 2008, Evaluasi Pembelajaran,http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/, di ambil tanggal 26 April 2010.

Rusliana, Ade, 2007, Konsep Dasar Evaluasi Hasil Belajar, http://aderusliana.wordpress.com/2007/11/05/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar/, diambil tanggal 2 Mei 2010.

http://materibidan.blogspot.com/2010/05/evaluasi-hasil-pembelajaran.html

http://ventidanokarsa.blogspot.com/2009/05/evaluasi-pembelajaran.html

Koordinasi

BAB I
PENDAHULUAN

Komponen biomotor koordinasi diperlukan hampir disemua cabang olahraga pertandingan maupun perlombaan, sebab unsur-unsur dasar teknik gerak dalam cabang olahraga meliatkan sinkronisasi dari beberapa kemampuan. Dimana beberapa kemampuan tersebut menjadi serangkaian gerak yang selaras, serasi, dan simultan, sehingga gerak yang dilakukan nampak luwes dan mudah. Dengan demikian sasaran utama dalam latihan koordinasi adalah untuk meningkatkan kemampuan penguasaan gerak. Oleh karena itu tanpa memiliki kemampuan koordinasi yang baik, maka atlet akan kesulitan dalam melakukan teknik secara selaras, serasi, dan simultan.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Koordinasi
Koordinasi adalah kemampuan otot dalam mengontrok gerak dengan tepat agar dapat mencapai suatu fungsi khusus (Grana dan Kalenak, 1991:253). Menurut Schmidt(1988:265) dalam Sukadiyanto, koordinasi adalah perpaduan gerak dari dua atau lebih persendian, yang satu sama lainnya saling berkaitan dalam menghasilkan satu keterampilan gerak. Koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari kualitas otot, tulang, dan persendian dalam menghasilkan satu gerak yang efektif dan efesien.
Di mana komponen gerak terdiri dari energi, kontaksi otot, syaraf, tulang dan persendian merupakan koordinasi neuromuskuler. Koordinasi neuromuskuler adalah setiap gerak yang terjadi dalam ururtan dan waktu yang tepat serta gerakannya mengandung tenaga. Sebab terjadinya gerak timbul oleh kontraksi otot, dan otot berkontraksi karena adanya perintah yang diterima melalui sistem syaraf.
Koordinasi neuromuskuler meliputi koordinasi intramuskuler dan intermuskuler. Koordinasi intramuskuler adalah kinerja dari seluruh serabut syaraf dan otot dalam setiap kerja otot yang berkontraksi secara maksimum. Kinerja otot tergantung dari interaksi serabut syaraf dan serabut otot di dalam otot itu sendiri. Sedangkan koordinasi intramuskuler menurut Pyke dalam Sukadiyanto (1991:140) yaitu melibatkan efektivitas otot-otot bekerjasama dalam menampilakan satu gerak, sehingga dalam koordinasi intramuskuler kinerjanya tergantung dari interaksi beberapa otot.

2. Macam-macam Koordinasi
Pada dasarnya koordinasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu koordinasi umum dan koordinasi khusus (Bompa,1994:322).
a. Koordinasi umum merupakan kemampuan seluruh tubuh dalam menyesuaikan dan mengatur gerakan secara simultan pada saat melakukan suatu gerak (Sage,1984:279). Artinya, bahwa setiap gerak yang dilakukan melibatkan semua atau sebagian besar otot-otot, sistem syaraf, dan persendian. Untuk itu, koordinasi umum ini diperlukan adanya keteraturan gerak dari beberapa anggota badan yang lainnya, agar gerak yang dilakukan dapat harmonis dan efektif sehingga dapat harmonis dan efektif sehingga dapat menguasai keterampilan gerak yang dipelajari. Koordinasi umum merupakan unsur penting dalam penampilan motorik dan menunjukkan tingkat kemampuan yang dimiliki seseorang
b. Koordinasi Khusus merupakan koordinasi antar beberapa anggota badan, yaitu kemampuan untuk mengkoordinasikan gerak dari sejumlah anggota badan secara simultan (sage,1984:278). Pada umumnya setiap teknik dalam cabang olahraga merupakan hasil perpaduan antara pandangan mata-tangan (hand eye-coordination) dan kerja kaki (footwork). Koordinasi khusus merupakan pengembangan dari koordinasi umum yang dikombinasikan dengan kemampuan biomotor yang lain sesuai dengan karakteristik cabang olahraga. Ciri-ciri orang yang memiliki koordinasi khusus yang baik dalam menampilkan keterampilan teknik dapat secara harmonis, cepat, mudah, sempurna, tepat, dan luwes.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan:
- Koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari kualitas otot, tulang, dan persendian dalam menghasilkan satu gerak yang efektif dan efesien
- Koordinasi neuromuskuler adalah setiap gerak yang terjadi dalam ururtan dan waktu yang tepat serta gerakannya mengandung tenaga.
- Sebab terjadinya gerak timbul oleh kontraksi otot, dan otot berkontraksi karena adanya perintah yang diterima melalui sistem syaraf.
- Koordinasi intramuskuler adalah kinerja dari seluruh serabut syaraf dan otot dalam setiap kerja otot yang berkontraksi secara maksimum. Kinerja otot tergantung dari interaksi serabut syaraf dan serabut otot di dalam otot itu sendiri.
- koordinasi intramuskuler yaitu melibatkan efektivitas otot-otot bekerjasama dalam menampilakan satu gerak, sehingga dalam koordinasi intramuskuler kinerjanya tergantung dari interaksi beberapa otot.
- Koordinasi umum merupakan kemampuan seluruh tubuh dalam menyesuaikan dan mengatur gerakan secara simultan pada saat melakukan suatu gerak
- Koordinasi Khusus merupakan koordinasi antar beberapa anggota badan, yaitu kemampuan untuk mengkoordinasikan gerak dari sejumlah anggota badan secara simultan

PERATURAN PERMAINAN SEPAKTAKRAW

1. LAPANGAN

o Lapangan sepaktakraw seukuran dengan lapangan badminton; 13,40m x 6,10m

o Takraw dapat dimainkan di dalam gedung dan juga dapat di luar gedung (apabila dimainkan didalam gedung maka tinggiloteng minimal 8 m dari lantai)

o Keempat sisi lapangan ditandai dengan/cat atau lakban yang lebarnya 4 cm, diukur dari pinggir sebelah luar

1.2 Area bebas : adalah minimal 3 meter dari garis luar lapangan harus bebas rintangan. (lihat gambar)

1.3 Center Line : adalah garis tengah dengan lebar 2 cm

1.4 Quarter Circle : adalah garis seperempat lingkaran dipojok garis tengah dengan radius 90 cm diukur dari garis sebelah dalam sbb:

1.5 The Service Circle : adalah lingkaran servis dengan radius 30cm berada ditengah lapangan, jarak dari garis belakang 2,45 M dan jarak dari titik tengah garis lingkaran kegaris tengah (centre line) 4,25 m, jarak titik tengah lingkaran adalah 3,05 meter dari kiri dan kanan garis pinggir lapangan.



 

 

 

 

 

II. Tinggi tiang (sama dengan net)

- Putra

Tinggi net 1,55 meter dipinggir dan minimal 1,52 meter ditengah

- Putri

Tinggi net 1,45 meter dipinggir dan minimal 1,42 meter ditengah

- Kedudukan tiang 30 cm di luar garis pinggir

III. Net :

- Net terbuat dari tali/benang kuat atau nilon, dimana tiap lubangnya lebar 6-8 cm

- Lebar net 70 cm dan panjang 6,10 meter

4. Bola Takraw

- Terbuat dari plastik (sytetic fibre) dimana awalnya adalah terbuat dari rotan

- Lingkaran 42-44 cm (putra) dan 43-45 cm (putri).

- Berat adalah 170-189 gr (putra) dan 150-160 gr (putri)

5. Pemain

5.1 Permainan ini dimainkan oleh dua “regu” masing-masing regu terdiri dari 3 orang pemain, dan setiap regu dilengkapi dengan 1 (satu) pemain cadangan.

5.2 Satu dari 3 pemain di posisi belakang disebut Back atau “Tekong” (yang melakukan Sepakmula)

5.3 Dua pemain berada didepan; yang sebelah kiri kita sebut “Apit Kiri” sebelah kanan disebut “Apit Kanan”

6.Pakaian Pemain

6.1 Semua pemain putra diharuskan memakai pakaian kaos seragam yang berlengan T-shirt dan bersepatu karet, dan untuk putri diharukan memakai kaos bundar leher serta celana sebatas lutu. Tidak diperkenankan pemain memakai pakaian yang membahayakan lawan selama pertandingan.

Catatan: Kecuali dalam kondisi cuaca dingin pemain diperkenankan memakai track suits.

6.2 Pakaian yang pantas untuk seorang pemain adalah yang menutupi badan sepeti baju kaos/T-shirt (dipakai rapi/dimasukkan)

6.3 Pakaian pemain yang membantu kecepatan bola tidak diperbolehkan

6.4 Kapten regu harus memakai band tangan disebelah kiri

6.5 Semua pemain diharuskan memakai pakaian dengan nomor punggung yang tetap selama Tournament

7. SUBTITUTION

7.1 Setiap “Regu” hanya diperbolehkan sekali penggantian pemain dalam satu pertandingan. (tidak diperkenankan penggantian pemain yang sama dalam 1 Tim pada Regu lain).

7.2 Penggantian pemain diperbolehkan setiap saat ketika bola mati, melalui Tim Manager/Pelatih yang disetujui oleh Official Referee.

7.3 Setiap Regu dapat menominasikan maximum 2 orang cadangan tetapi hanya melakukan penggantian 1 kali dalam pertandingan yang berlangsung tersebut.

7.4 Pemain yang mendapat “Kartu Merah” dan dikeluarkan oleh wasit, dapat diganti dengan ketentuan belum ada penggantian pemain sebelumnya

7.5 Suatu “REGU” apabila yang bermain kurang dari 3 (tiga) orang pemain, maka tidak boleh melanjutkan permainan dan regu tersebut dinyatakan kalah.

8. OFFICIAL (PETUGAS PERTANDINGAN)

Suatu pertandingan resmi harus dipimpin Technical Official sebagai berikut:

- 2 (dua) Technical Delegate

- 6 (Enam) juri (Dewan hakim)

- 1 (satu) Official Referee

- 2 (dua) wasit (wasit utama dan wasit dua)

- 6 (enam) penjaga garis/linesman’s (4 disisi lapangan dan 2 digaris belakang)

9. UNDIAN & PEMANASAN PEMAIN

- Sebelum permainan dimulai, wasit (official Referee) akan melakukan undian dalam hal ini yang menang undian berhak memilih “sepakmula”atau”tempat”

- Regu yang menang undian akan pertama melakukan pemanasan selama 2 (dua) menit, dan hanya 5 (lima) orang saja yang diperkenankan berada dilapangan pada saat pemanasan serta hanya 2 (dua) bola yan dipakai Panitia

Catatan : Kombinasi dari 5 (lima) orang tersebut selama pemanasan diperbolehkan,sbb:

a. Pelatih/ass. Pelatih

b. 3 Pemain

10. POSISI PEMAIN PADA WAKTU SERVIS

10.1 Sebelum permainan dimulai, kedua regu harus berada di lapangan masing-masing dalam posisi siap bermain

10.2 Dalam melakukan sepakmula,salah satu dari kaki tekong berada dalam lingkaran sevis, dan satu lagi diluar lingkaran untuk melakukan sepakmula

10.3 Kedua pemain apit ketika dilakukan servis, harus berada dalam seperempat lingkaran

10.4 Lawan atau Regu penerima servis bebas bergerak di dalam lapangan sendiri

11. PERMULAAN PERMAINAN & SEPAKMULA

11.1 Regu yang memilih Sepakmula pada waktu undian akan memulai permainan pada set I. Pemenang set I akan memulai permainan pada set II

11.2 Pelambung harus segera melambungkan bola begitu wasit menyebut posisi angka jika pemain mendahuluinnya maka lambungan bola harus diulang dan pemain tersebut mendapat peringatan dari wasit

11.3 Bola harus disepak pada saat si pelambung melambungkan bola kepada “TEKONG” begitu bola berhasil disepak dengan baik semua pemain baru boleh bebas bergerak di lapangan sendiri

11.4 Sepakmula dinyatakan sah jika bola telah melewati net, baik menyentuh ataupun tidak dan jatuh dilapangan lawan

12. KESALAH (BATAL):

12.1. Kesalahan pihak penyepakmula

12.1.1. Apit sebagai pelambung masih memainkan bola, melemparkan bola kepada teman sendiri, memantulkan, melemper dan menangkap lagi setelah wasit menyebut posisi angka.

12.1.2 Apit mengangkat kaki, menginjak garis,menyentuh atau melewati bawah net ketika melakukan lambungan bola.

12.1.3 Tekong melompat saat melakukan servis, kaki tumpuan tidak berada dalam lingkaran atau menginjak garis lingkaran servis

12.1.4 Tekong tidak menyepak bola yang dilambungkan kepadanya

12.1.5 Bola menyentuh salah seorang pemain (teman sendiri) sebelum bola melewati net

12.1.6 Bola jatuh diluar lapangan

12.1.7 Bola tidak melewati net

12.1.8 Pemain menggunakan tangan atau ke dua tangan bagian lengan untuk bantuan saat melakukan servis walaupun tangan tidak terus langsung pengenaan bola tapi menyentuh objek ketika melaksanakan servis

12.2. Kesalahan dipihak penerima servis dan sepakmula

12.2.1 Berusaha mengalihkan perhatian lawan seperti; (isyarat tangan, menggeretak, berusaha keras dan membuat keributan).

12.3. Kesalahan pada kedua pihak

12.3.1 Ada pemain yang mengambil bola dilapangan lawan

12.3.2 Menginjak dan melewati satu telapak kaki garis tengah (centre line)

12.3.3 Ada pemain (perlengkapan sekalipun) melewati lapangan lawan, walaupun di atas/di bawah net kecuali pada saat “The Follow through ball”

12.3.4 Mempermainkan bola lebih dari 3 kali

12.3.5 Bola mengenai tangan

12.3.6 Menahan/menjepit bola diantara lengan dan badan antara dua kaki atau badan

12.3.7 Ada bagian badan atau perlengkapan pemain seperti; sepatu, pengikat kepala dan lain-lain, menyentuh net tiang, atau kursi wasit atau jatuh di lapangan lawan. Batal juga diberikan kepada pemain yang menyentuh kursi wasit/linesman atau memegang pembatas sebelum menendang bola

12.3.8 Bola mengenai loteng/atap atau dinding pembatas (objek lainnya)

12.3.9 Ada pemain sengaja memperlambat permainan yang tidak perlu (peringatan)

13. Sistem perhitungan angka

13.1 Apabila penerima servis, atau yang melakukan sepakmula terjadi kesalahan otomatis akan peroleh angka sekaligus melakukan sepak mula lagi

13.2 Angka kemenangan setiap set maximum 21 angka,. Kecuali pada saat posisi angka 20-20, pemenang akan ditentukan pada saat selisih 2 angka sampai batas akhir 25 point, ketika 20-20 wasit utama menyerukan batas angka 25 point.

13.3 Memeberikan kesempatan istirahat 2 menit masing-masing pada akhir set pertama/kedua termasuk Tie Break

13.4 Apabila masing-masing regu memenangkan 1 set, maka permainan akan dilanjutkan dengan set “Tea break” dengan 15 point, kecuali pada posisi 14-14, pemenang ditentukan pada selisih 2 angka, sampai batas akhir angka 17

13.5 Sebelum set tie break dimulai wasit II akan melakukan undian “Toss”. Regu yang menang undian toss akan melakukan sepak mula pada set tie break ini. Pada pertukaran tempat pada set tie break akan dilakukan apabila salah satu regu mencapai angka 8.

14. Setiap regu dapat meminta “TIME OUT” 1 menit setiap setkepada wasit melalui Tim Manager atau pelatih (termasuk set “ie break”),ketika bola mati. Selama time out hanya 5 orang yang diperbolehkan berada di garis belakang/base line. (3 pemain dan 2 pelatih)

15. Penghentian permainan sementara

15.1 Wasit yang sedang memimpin pertandingan dapat menghentikan permainan sementara yang disebabkan karena gangguan lapangan, gangguan keamanan, gangguan cuaca atau ada pemain cedera dengan waktu lebih dari 5 menit

Apabila lebih dari 5 menit pemain tidak dapat melanjutkan permainan maka penggantian pemain dapat dilakukan sepanjang belum ada penggantian sebelumnya

15.2 Pemain yang cidera diizinkan 5 menit sebagai injury time out setelah 5 menit pemain tersebut tak dapat melanjutkan permainan, maka penggantian dapat dilakukan selama belum terjadi penggantian sebelumnya.

15.3 Selama penghentian sementara, semua pemain tidak diperbolehkan meninggalkan lapangan untuk menerima minuman/makanan atau bantuan lainnya.

16. Dicipline (tata tertib)

16.1 Setiap pemain harus mematuhi peraturan permainan

16.2 Selama permainan berlangsung, hanya kapten regu yang diperbolehkan berhubungan dengan wasit, kecualu atas kehendak wasit

17. Pinalty (hukuman)

Pemain yang melanggar peraturan dibawah ini akan mendapat hukuman pernyataan dari wasit apabila:

17.1 Memeperhatikan sikap tidak sopan kepada, pamain lain atau penonton juga kepada wasit atas keputusan yang diambil

17.2 Menampakkan sikap tidak bersahabat dan tidak sopan

17.3 Menghubungi wasit yang bertugas secara kasar mengenai suatu keputusan yang diambil

17.4 Meninggalkan lapangan permainan tanpa permisi kepada wasit yang memimpin pertandingan

17.5 Memberikan bola kepada pihak lawan dengan menggunakan kaki atau melemparkannya dengan kasar

17.6 Berkelakuan tidak sopan selama permainan

Catatan: wasit menggunakan kartu sebagai berikut:

Kartu Kuning - Peringatan

Kartu Merah -Pengusiran

Kartu Merah akan diberikan apabila:

a. Apabila pemain telah menerima kartu Kuning pada pertandingan yang sama

b. Sikap kasar (tidak sopan) seperti: memukul, menendang, meludah dll

c. Menggunakan kata-kata kotor atau caci maki

Catatan: pemain yang mendapat kartu merah, harus segera keluar lapangan sebagai ganjaran indicipline

- Penggantian pemain diizinkan sesuai dengan peraturan butir (7.4)

- Pemain yang telah dikenai kartu merah tidak diizinkan bermain pada permainan berikutnya sampai dikeluarkan keputusan lain Dewan hakim

20. Kelakuan buruk para Tim Official (Manager atau Pelatih)

Tindakan tat tertib diberikan kepada Tim Official karena

a. Melanggar tata tertib dan peraturan permainan

b. Mendukung tindakan pemainnya yang melanggar tata tertib dan peraturan permainan

c. Menganggu jalannya permainan

21. U m u m

Wasit yang memimpin pertandingan bersama Official Referee akan menggunakan kebijaksanaannya untuk menyelesaikan masalah yang belum tercantum dalam peraturan ini. Keputusan Official Referee adalah mutlak (tidak dapat diganggu gugat)

sumber: pedoman peraturan permainan dan pertandingan PB PSTI

FISIOLOGI OLAHRAGA “EFEK LATIHAN”

BAB I

PENDAHULUAN

 Latihan fisik merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk meningkatkan atau memelihara kebugaran tubuh. Latihan fisik umumnya dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, tergantung pada pengaruh yang ditimbulkannya pada tubuh manusia. Latihan mengakibatkan perubahan fisiologis hampir seluruh sistem tubuh, khususnya pada sistem otot dan kardiovaskuler.

Efek latihan pada tubuh adalah semua yang terjadi dalam latihan. Bagaimanapuun, jika pembebanan latihan terlalu ringan, efek latihan setelah pemulihan akan menjadi kurang dari yang diharapkan. Jika pembebanan latihan terlalu besar / berat maka kondisi akan kembali seperti semula.

Konsep efek pelatihan tergantung pada poin kunci. Ketika seorang atlet melakukan latihan aerobik, jantung dan otot-otot pernafasan menjadi lebih kuat. Juga, tekanan darah menurunkan atlet, dan jumlah sel darah meningkat. Tubuh menjadi lebih efisien dan, sebagai hasilnya, latihan yang sebelumnya akan sangat berat menjadi lebih mudah dan menambah beban sedikit pada tubuh. Latihan menjadi lebih mudah, sehingga kemampuan mereka untuk meningkatkan berkurang secara keseluruhan atlet kebugaran.

 

BAB II

PEMBAHASAN

Efek dari pelatihan dapat dipelajari paling mudah dengan mengelompokkan perubahan sebagai berikut, Fox (1988:324):

1)     Yang terjadi pada lavel jaringan, yaitu, perubahan biokimia;

2)     Yang terjadi secara sistemik, yaitu orang mempengaruhi sistem peredaran darah dan pernapasan, termasuk tranport oksigen sistem; dan

3)     Perubahan lain seperti kita mereka yang peduli dengan komposisi tubuh, kolesterol darah dan trigliserida, perubahan tekanan darah, dan perubahan sehubungan dengan panas aklimatisasi.

 Adapun penjelasannya:

 1) Perubahan Biokimia,

Didalam perubahan biokimia terdapat tiga inti yaitu perubahan aerobik, perubahan anaerobik, dan perubahan relatif dalam Cepat dan lambat.

 a) Perubahan aerobik

Dalam fox (1988:324-325),  perubahan yang terjadi pada sistem aerobik setelah latihan, yaitu:

-        Meningkatkan kandungan myoglobin, kandungan mioglobin dalam otot rangka telah terbukti secara substansial peningkatan kualitas pelatihan. Mioglobin adalah pigmen yang mengikat oksigen yang mirip dengan hemoglobin. Dalam hal ini, ia bertindak sebagai toko untuk oksigen. Namun, hal ini dianggap sebagai fungsi kecil dalam memberikan kontribusi bagi perbaikan sistem aerobik. Fungsi utamanya dalam membantu pengiriman (difusi) oksigen dari selaput sel ke mitokondria mana dikonsumsi

-        Peningkatan oksidasi karbohidrat (glikogen). Pelatihan meningkatkan kapasitas otot rangka untuk memecah glikogen dengan adanya oksigen (oksidasi) untuk CO2 + H2O dengan produksi ATP. Dengan kata lain, kapasitas otot untuk menghasilkan energi aerobik ditingkatkan. Bukti untuk perubahan ini adalah peningkatan daya aerobik maksimal (VO2 max).

b) Perubahan anerobik

Dalam fox (1988:327-328),  perubahan yang terjadi pada sistem anerobik setelah latihan, yaitu:

-        Peningkatan Kapasitas dari Phospagen (ATP-PC) sistem. Kapasitas dari sistem ATP-PC ditingkatkan dengan dua perubahan biokimia utama: (a) peningkatan tingkat toko otot ATP dan PC, dan (b) kegiatan peningkatan enzim kunci yang terlibat dalam sistem ATP-PCListen

Read phonetically

-        .

-        Listen

-        Read phonetically

-        Peningkatan kapasitas glikolitik. Tidak hampir sebanyak mungkin informasi mengenai dampak pelatihan pada glikolisis anaerobik (sistem asam laktat) tersedia dibandingkan dengan bahwa untuk sistem aerobik. Namun demikian, sejumlah penelitian yang dirancang dengan baik telah menunjukkan bahwa beberapa enzim glikolisis kunci yang mengendalikan secara signifikan diubah oleh pelatihan fisik Pentingnya aktivitas enzim glikolisis meningkat adalah bahwa mereka mempercepat laju dan kuantitas glikogen dipecah menjadi asam laktat

 c) perubahan relatif dalam Otot Cepat dan lambat.

Dalam fox (1988:327-328),  perubahan yang terjadi pada perubahan ralatif dalam otot cepat dan lambat setelah latihan, yaitu:

-        Efek yang terjadi  pada kapasitas aerobik, adalah cukup baik setuju bahwa potensi aerobik otot rangka pelatihan berikut ini meningkat sama kedua otot. Ini berarti bahwa perbedaan yang melekat dalam kapasitas oksidatif antara jenis otot tidak diubah oleh pelatihan

-        Efek yang terjadi pada kapasitas glikolitik hanya terjadi pada peingkatan pada tipe serabut otot cepat

-        Efek latihan tidak akan terjadi pada tingkatan yang sama diantara kedua tipe serabut otot. Efek latihan terhadap keduanya dipengaruhi oleh tipe latihan, intensitas latihan dan lamanya latihan

-        Efek latihan tidak bisa mengubah (mengkonversi otot).

2) Perubahan Sistemik,

Didalam perubahan sistemik terdapat tiga inti yaitu sistem peredaran darah dan pernapasan, termasuk tranport oksigen sistem

a) Sistem Perdaran Darah dan Pernapasan

pertama kita akan membahas beberapa perubahan yang dibuktikan dalam kondisi istirahat, dan kemudian kita akan menjelaskan perubahan-perubahan sistemik yang menonjol selama latihan submaksimal dan maksimal.

Ada lima perubahan utama yang dihasilkan dari pelatihan yang jelas pada saat istirahat:

1.       perubahan ukuran jantung,

2.       detak jantung yang menurun,

3.       stroke volume meningkat,

4.       peningkatan volume darah dan hemoglobin dan

5.       perubahan dalam otot rangka.

Beberapa perubahan penting dalam fungsi transportasi oksigen dan sistem terkait berikut pelatihan dibuktikan selama steady state, latihan submaksimal.

1.       Tidak ada perubahan atau sedikit Penurunan konsumsi oksigen

2.       Penurunan pemanfaatan glikogen otot

3.       Penurunan produksi asam laktat (Kenaikan anaerobik Threshold)

4.       Tidak ada perubahan atau sedikit Penurunan cardiac output

5.       Peningkatan stroke volume

6.       Penurunan denyut jantung

7.       Perubahan aliran darah otot

Perubahan selama latihan maksimal itu adalah pengetahuan umum bahwa pelatihan fisik sangat meningkatkan kapasitas kerja maksimal. Beberapa perubahan perubahan fisiologis yang diperlukan untuk membawa perbaikan tersebut.

1.   Peningkatan Daya aerobik maksimal

2.   Peningkatan cardiac output

3.    Peningkatan volume Stroke

4.   Tidak ada perubahan atau sedikit penurunan denyut jantung

5.   Peningkatan produksi asam laktat

6.    Tidak ada perubahan dalam aliran darah otot

b) Perubahan Respiratory

1.   ventilasi menit maksimal dalam pelatihan berikut berkerut. Karena ventilasi bukan merupakan faktor pembatas untuk VO2 max, peningkatan ventilasi maksimal harus dipertimbangkan sekunder untuk meningkatkan dalam VO2 max. Namun demikian, kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan baik volume tidal dan frekuensi pernafasan.

2.   Pelatihan menyebabkan peningkatan efisiensi ventilasi. Efisiensi ventilasi yang lebih tinggi berarti bahwa jumlah ventilasi udara pada tingkat konsumsi oksigen yang sama lebih rendah dari pada orang terlatih. Karena biaya oksigen meningkat ventilasi sangat dengan meningkatnya ventilasi, ventilasi sebuah efisiensi yang lebih besar, khususnya melalui upaya berkepanjangan (misalnya maraton) akan menghasilkan kurang oksigen ke otot pernapasan dan lebih untuk bekerja otot skeletel.

3.   Volume berbagai paru diukur dalam kondisi istirahat (dengan pengecualian volume tidal) lebih besar dalam dilatih dari pada orang terlatih. Sebagian besar perubahan ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa hasil pelatihan dalam fungsi paru membaik dan oleh karena itu dalam volume paru-paru yang lebih besar. Ini harus disebutkan, bagaimanapun, bahwa ada sedikit, jika ada, hubungan antara kinerja atletik dan perubahan volume paru-paru ini.

4.   Atlet cenderung memiliki kapasitas difusi yang lebih besar saat istirahat dan selama latihan dibandingkan non atlet,. Hal ini terutama berlaku untuk atlet ketahanan. Diperkirakan bahwa difusi kapasitas per detik tidak langsung dipengaruhi oleh pelatihan melainkan bahwa volume paru yang lebih besar dari atlet memberikan daerah permukaan lebih besar alveolar-kapiler.

 3. Perubahan Lain

selain perubahan biokimia dan perubahan dalam sistem kardiorespirasi, pelatihan menghasilkan perubahan penting lainnya. Yaitu

a.    komposisi tubuh,

Perubahan komposisi tubuh yang disebabkan oleh pelatihan adalah sebagai berikut: (1) penurunan lemak tubuh total, (2) tidak ada perubahan atau sedikit peningkatan bobot tubuh total, dan (3) penurunan berat badan kecil di total. Untuk sebagian besar, perubahan-perubahan, khususnya yang kehilangan lemak, lebih jelas untuk pria obse dan perempuan daripada individu yang sudah “ramping”.

Dalam membahas perubahan komposisi tubuh, penting untuk diingat bahwa hilangnya lemak tubuh adalah tergantung pada keseimbangan antara kalori diambil dan pengeluaran kalori. Arti penting dari penelitian ini adalah bahwa biaya kalori berjalan dan berjalan tidak tergantung pada kecepatan. Dalam hal berapa kalori yang dikeluarkan, tidak seberapa cepat Anda menjalankan atau berjalan, tetapi sejauh mana Anda bepergian. Selain itu, perhatikan sangat penting bahwa (1) lebih banyak kalori yang dikeluarkan ketika menjalankan daripada berjalan dalam jarak tertentu dan (2) perempuan mengeluarkan lebih banyak kalori per kilogram berat badan dibandingkan laki-laki baik berjalan atau menjalankan suatu jarak tertentu.

b.   kolesterol darah dan trigliserida,

program latihan teratur menyebabkan penurunan baik kolesterol darah dan trigliserida. Perubahan ini terutama terlihat pada individu yang awalnya memiliki kadar darah yang sangat tinggi sebelum pelatihan. Yang menarik baru-baru ini adalah jenis spesifik ditemukan kolesterol dalam darah, disebut sebagai high density lipoprotein (HDL), low-density lipoprotein (LDL) dan lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL). Mereka disebut lipoprotein karena kolesterol adalah lemak dan dilakukan dalam darah dalam kombinasi kimia dengan protein tertentu.

 c.    tekanan darah

Mengikuti pelatihan, tekanan darah pada beban kerja mutlak yang sama lebih rendah dibandingkan sebelum pelatihan. Selanjutnya, individu dengan hipertensi menunjukkan penurunan yang signifikan dalam beristirahat tekanan darah diastolik dan sistolik juga.

 d.   aklimatisasi panas, dan

aklimatisasi panas melibatkan penyesuaian fisiologis yang memungkinkan kita untuk bekerja lebih nyaman dalam panas. mempromosikan pelatihan fisik tingkat tinggi aklimatisasi panas bahkan jika sesi pelatihan tidak dilakukan di lingkungan panas. Sebagai contoh latihan interval 50% dari total penyesuaian fisiologis akibat aklimatisasi panas.

Aklimatisasi panas meningkat dipromosikan oleh latihan fisik tampaknya dirangsang oleh jumlah besar panas yang dihasilkan selama sesi pelatihan. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu kulit dan tubuh dalam suatu kulit suhu tubuh dibandingkan dengan yang dihadapi ketika bekerja di lingkungan panas

BAB III

KESIMPULAN

 Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa: Efek dari pelatihan dapat dipelajari paling mudah dengan mengelompokkan perubahan sebagai berikut, Fox (1988:324):

1)     Yang terjadi pada lavel jaringan, yaitu, perubahan biokimia;

2)     Yang terjadi secara sistemik, yaitu orang mempengaruhi sistem peredaran darah dan pernapasan, termasuk tranport oksigen sistem; dan

3)     Perubahan lain seperti kita mereka yang peduli dengan komposisi tubuh, kolesterol darah dan trigliserida, perubahan tekanan darah, dan perubahan sehubungan dengan panas aklimatisasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

FOX, . 1988. The Physiological Bhasis of Physical Education and Atheletics. New York : W.B Saunders Company.

Nawawi,Umar, . 2007. Diktat Fisiologi Olahraga. Padang. Universitas Negeri Padang

Sahara, Sayuti; 2003. Konsep Rangkuman dan Penjelasan : The Physiological Bhasis of Physical Education and Atheletics, Padang. Pasca Sarjana UNP