Peraturan Permainan Bola Tangan

 

  1. Lapangan Permainan

 lapangan

 

Lapangan handball berbentuk persegi panjang, dengan panjang 40 meter, dan lebar 20 meter.

Di depan sebuah gawang terdapat area gawang. Area gawang adalah garis area gawang 6 meter (600 cm),

Garis lemparan bebas (garis 9 meter) adalah garis putus-putus, dibuat 3 meter di bagian luar area garis gawang. Kedua garis memiliki lebar 15 cm.

Garis 7 meter/penalty adalah garis dengan panjang 1 meter tepat didepan area gawang 6 meter.

 

2. Gawang

Gawang memiliki tinggi 2 meter (200 cm) dan lebar 3 meter (300 cm).

gawang

  1. Waktu bermain, Akhir Permainan & Time Out

Waktu permainan untuk semua team adalah 2 babak dengan istirahat 10 menit. Berikut kategori waktu menurut umur :

Umur 16 tahun lebih           :           2 x 30 menit

Umur 12-16 tahun               :           2 x 25 menit

Umur 8-12 tahun                 :           2 x 20 menit

Penambahan waktu (Overtime), dimainkan jika permainan seri. Waktu overtime terdiri dari 2 kali selama 5 menit, dengan istirahat 1 menit antara babak tambahan. Jika permainan masih berakhir seri, keputusan diambil dengan menggunakan lemparan 7 meter/penalty untuk menentukan pemenang. Tiap team mencalonkan 5 pemain.

Time Out

timout

diwajibkan ketika:

  1. 2 menit pemberian hukuman, diskualifikasi atau diberikan izin pengeluaran.
  2. Time Out tim yang sudah ditentukan.
  3. Tanda peluit oleh pencatat waktu atau oleh delegasi teknis pertandingan.
  4. Perundingan antara para wasit yang diperlukan dalam keadaan yang sesuai dengan peraturan

Time Out di berikan 3 x dengen ketentuan :

  1. Babak pertama boleh melakukan 3x Time Out
  2. Babak kedua hanya diberikan 2x Time Out,
  3. Apabila di babak pertama Time Out tidak dipakai sama sekali maka di babak kedua jatah Time Out di kurangi 1x
  4. Apabila Time Out di babak pertama dipakai 1x atau 2x maka di babak kedua menggunakan sisa Time Out yang diberikan di babak kedua.

 

  1. Bola

Ukuran bola, yaitu keliling dan berat, dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yang berbeda dalam tim, mengikuti :

bola.jpg

  • 58-60 cm dan 425-475 gr (ukuran IHF 3) untuk pria dewasa dan remaja putra (diatas umur 16 tahun).
  • 54-56 cm dan 325-375 gr (ukuran IHF 2) untuk wanita dewasa dan remaja putri (diatas umur 14 tahun), dam remaja putra (umur 12 sampai 16 tahun).
  • 50-52 cm dan 290-330 gr (ukuran IHF 1) untuk anak putri (umur 8 sampai 14 tahun) dan anak putra (umur 8 sampai 12 tahun).

 

  1. Tim, Pergantian & Perlengkapan

           Tim terdiri dari 14-16 orang. Tidak lebih dari 7 pemain dapat masuk dalam lapangan dalam waktu yang sama. Dan sisanya adalah pemain cadangan. Tim diperbolehkan untuk menggunakan maksimum 4 tim official selama permainan berlangsung. Tim official tersebut tidak dapat diganti selama jalannya permainan. Tim official biasanya tidak diizinkan untuk memasuki lapangan selama permainan.

Pemain pengganti

  1. Penggantian pemain di lapangan dapat dilakukan berkali-kali, tanpa memberitahukan kepada pencatat waktu/pencatat angka, selama para pemain yang menggantikan sudah meninggalkan lapangan.
  2. Syarat ini juga berlaku untuk pemain pengganti dan penjaga gawang.
  3. Kesalahan penggantian akan mendapat hukuman pengskorsan selama 2 menit untuk pemain yang salah tersebut.

Kaosteam 1 team, team lawan, penjaga gawang dari kedua team harus berbeda

5. Penjaga Gawang

.          Penjaga Gawang  jaga gawang diperbolehkan untuk :

  1. Menyentuh bola dengan seluruh bagian dari badan selama melakukan tindakan pertahanan di dalam area gawang
  2. Memainkan bola di dalam area gawang, penjaga gawang tidak diperbolehkan, bagaimanapun, untuk menunda melakukan lemparan (pegang bola 3 detik).
  3. Meninggalkan area gawang tanpa bola dan ikut serta dalam permainan di area permainan, penjaga gawang harus patuh pada peraturan yang berlaku sama seperti para pemain lainnya di area bermain.
  4. Meninggalkan area gawang dengan bola, ini mengacu pada lemparan bebas atau pelanggaran

Penjaga gawang tidak diperbolehkan untuk :

  1. Membahayakan lawan ketika melakukan pertahanan.
  2. Meninggalkan area gawang dengan bola.
  3. Menyentuh bola yang berada diluar area gawang, ketika penjaga gawang berada di dalam area gawang.
  4. Mengambil bola kedalam area gawang ketika bola bergerak dan berputar di lantai di luar area gawang.
  5. Memasuki area gawang dari area bermain dengan bola.
  6. Menyentuh bola dengan kaki atau kaki dibawah lutut, ketika bola sedang diam atau bergerak di area gawang atau bergerak keluar kearah area bermain. Melintasi garis pertahanan penjaga gawang (sepanjang 4 meter), sebelum bola jatuh ketangan lawan yang melakukan lemparan sejauh 7 meter.

 

6. Wilayah Gawang

area gawang.jpg

  1. Hanya seorang kiper saja yang diijinkan berada dalam wilayah gawang. Seorang pemain di lapangan dianggap telah memasuki wilayah gawang jika bagian dari tubuh pemain menyentuh wilayah gawang contohnya menginjak daerah gawang.
  2. Ketika seorang pemain memasuki wilayah gawang, keputusan yang diambil harus seperti dibawah ini :
  • Lemparan kiper dilakukan ketika seorang pemain dari tim yang menyerang  memasuki wilayah gawang dan menguasai bola atau memasuki tanpa bola tetapi mendapatkan keuntungan dengan masuk ke wilayah gawang.
  • Lemparan bebas ketika seorang pemain dilapangan dari tim yang bertahan memasuki wilayah gawang dan mendapatkan sebuah keuntungan, tapi tanpa merusak kesempatan untuk mencetak skor.
  • Lemparan 7-meter ketika seorang pemain dari tim yang bertahan memasuki wilayah gawang dan situasi ini merusak kesempatan untuk mencetak gol.

7.Memainkan Bola, Bermain Pasif

 Hal yang diijinkan adalah :

  1. Melempar, menangkap, menghentikan, mendorong bola dengan menggunakan tangan (terbuka atau tertutup), lengan, badan, paha atau lutut.
  2. Memegang bola hanya diijinkan maksimum 3 detik, juga ketika bola tersebut sedang bergulir dilapangan pertandingan.
  3. Melakukan maksimum 3 langkah dari bola

 – Bermain Pasif

Tidak diijinkan memegang bola dalam penguasaan tim tanpa membuat gerakan apapun untuk menyerang untuk mencetak gol.

8. Kesalahan-kesalahan dan Permainan Tidak Sportif

 Hal yang diijinkan :

  1. Menggunakan telapak tangan dan tangan dalam mengambil penguasaan bola
  2. Merentangkan tangan saat bola melewati tim lawan adalah tidak dalam penguasaan bola
  3. Menggunakan badan untuk menghalangi lawan, bahkan dalam posisi lawan tidak sedang menguasai bola
  4. Bodi kontak dengan lawan, ketika menghadapi lawan.

Hal yang tidak diijinkan :

  1. Menarik atau memukul bola dengan tangan lawan
  2. Menghalangi laju lawan dengan dengan tangan atau kaki
  3. Menarik atau menahan ( tubuh atau pakaian ), mendorong, lari atau melompat kearah lawan
  4. Membahayakan lawan ( dengan atau tanpa bola).

9. Mencetak Gol

Terjadinya Goal

gol.jpg

10. Lemparan Awal

lemparann awal.jpg

  1. Saat memulai pertandingan, lemparan awal diambil oleh tim yang menang dalam lempar koin dan memutuskan untuk memulai permainan dengan memilih bola di posisinya. Lawannya memiliki hak untuk memilih gawang.
  2. Tim akan berganti gawang di babak kedua. Lemparan awal di babak kedua diambil oleh tim yang tidak melakukannya di babak pertama.
  3. Setelah ada gol yang dicetak, permainan akan dilanjutkan dengan lemparan awal oleh tim yang kemasukan gol.
  4. Lemparan awal diambil dari arah mana saja dari tengah lapangan (dengan toleransi garis pinggir sekitar 1,5 meter). Lemparan dilakukan setelah peluit wasit dan harus dilakukan dalam 3 detik.
  5. Pemain yang mengambil lemparan awal harus mengambil posisi setidaknya satu kaki dari garis tengah dan kaki yang lainnya berada di garis atau di belakang garis, dan berada pada posisi tersebut sampai bola telah meninggalkan tangannya.
  6. Teman satu tim dari pelempar tidak diperbolehkan untuk melewati garis tengah sebelum ada peluit dari wasit.
  7. Lemparan awal pada permulaan babak (termasuk pada babak tambahan), semua pemain yang kemasukan harus berada di areanya masing-masing. Kecuali si pelempar diijinkan untuk berada di kedua area lapangan, tanpa harus kembali ke daerahnya.
  8. Di kedua situasi ini, pihak lawan harus setidaknya berada 3 meter dari pemain yang melakukan lemparan bebas.

 

11. Lemparan Ke Dalam

kedalam.jpg

  Lemparan kedalam diberikan saat bola sudah sepenuhnya melewati garis samping, atau saat pemain di tim yang bertahan adalah yang terakhir menyentuh bola sebelum bola itu melewati garis gol luar di timnya. Ini juga diberikan saat bola menyentuh langit-langit atau instalasi yang ada di atas lapangan.

  1. Lemparan kedalam dilakukan tanpa peluit dari wasit.
  2. Pelempar harus menginjak garis dan tetap dalam posisi tersebut sampai bola itu lepas dari tangannya. Tidak ada batas dalam penempatan kaki.
  3. Saat lemparan kedalam sedang dilakukan, lawan tidak boleh mendekat lebih dari 3 meter dari si pelempar. Tetapi pemain diijinkan untuk berdiri di luar garis area mereka walupun jarak di antara mereka dan pelemparnya kurang dari 3 meter.

 12.  Lemparan Kiper

 Lemparan kiper diberikan saat :

  • Pemain lawan sudah memasuki area pertahanan dan melakukan pelanggaran.
  • Kiper sudah menguasai bola di area pertahanan atau bolanya tidak bergerak di lantai dalam area gawang.
  • Pemain lawan telah menyentuh bola saat bola tersebut menggelinding atau diam di lantai dalam area gawang.
  • Saat bola telah melewati garis luar gawang, setelah terakhir disentuh oleh kiper atau pemain penyerang.
  1. Lemparan kiper dilakukan oleh kiper tanpa peluit dari wasit, dari area gawang keluar dari garis gawang.
  2. Pemain dari tim lain diperbolehkan untuk berada di luar area gawang, tapi mereka tidak diperbolehkan untuk menyentuh bola sampai bola itu sudah sepenuhnya melewati garis area gawang.

 

13. Lemparan Bebas

  1. Prinsipnya, wasit akan menghentikan pertandingan dan memulainya kembali dengan lemparan bebas saat :
  • Tim yang memegang bola melakukan pelanggaran dan itu akan menyebabkan tim tersebut kehilangan kepemilikan bola
  • Tim lawan melakukan pelanggaran yang menyebabkan tim tersebut kehilangan kepemilikan bola
  1. Lemparan bebas juga digunakan sebagai cara untuk memulai kembali permainan dalam situasi tertentu dimana permainan telah dihentikan (saat bola masih dalam permainan), bahkan saat tidak ada pelanggaran dilakukan:
  • Saat satu tim yang mempunyai kepemilikan bola saat itu telah diberhentikan permainannya, maka tim ini akan mempertahankan bola nya.
  • Jika kedua tim tidak ada yang memegang bola, maka tim yang terakhir memegang bola akan diberikan kepemilikan bola lagi.
  1. Pada saat peluit wasit dibunyikan jika ada keputusan lemparan bebas, maka pemain yang memegang bola pada saat itu harus secepatnya menjatuhkan atau menaruh bola di lantai dimana dia berada.
  2. Saat lemparan bebas sedang dilakukan, pihak lawan harus tetap berada pada jarak setidaknya 3 meter dari si pelempar.

 

14. Lemparan-7 Meter

 7 meter.jpg

  1. Lemparan 7 meter diberikan saat :
  • Kesempatan untuk mencetak angka dihancurkan oleh tim atau pemain lawan secara illegal.
  • Ada peluit yang tidak sah saat kesempatan emas untuk mencetak angka.
  • Kesempatan emas untuk mencetak angka dihancurkan karena partisipasi orang yang tidak ada hubungannya dengan permainan, contohnya penonton memasuki lapangan atau menghentikan permainan dengan meniupkan peluit.
  1. Lemparan 7-meter dianggap sebagai lemparan untuk mencetak angka, dalam 3 detik setelah peluit dari wasit.
  2. Pemain yang melakukan lemparan 7-meter harus mengambil posis dibelakang garis 7 meter, tidak lebih jauh dari 1 meter dari garis tersebut.
  3. Setelah peluit dari wasit, pelempar tidak diperbolehkan menyentuh atau melewati garis 7-meter sebelum bola telah lepas dari tangannya.
  4. Teman satu tim dari si pelempar harus memposisikan diri mereka diluar garis lemparan bebas dan tetap berada disana sampai bola telah lepas dari tangan si pelempar. Jika mereka tidak melakukannya, maka tim lawan akan mendapatkan lemparan bebas.
  5. Saat pelaksanaan lemparan 7-meter, pemain tim lawan harus berada di luar garis lemparan bebas dan setidaknya berada 3 meter dari garis lemparan 7-meter sampai bola telah meninggalkan tangan di pelempar. Jika mereka tidak melakukannya, kalau lemparan 7-meter tidak menghasilkan gol, maka lemparan akan diulang kembali. Tetapi tidak ada hukuman pribadi.
  6. Lemparan 7-meter diulang kembali, kecuali kalau terjadi gol, jika kiper melewati garis 4-meter.

15. Instruksi Umum untuk Pelaksanaan Lemparan (Lemparan Awal, Lemparan ke Dalam, Lemparan Kiper, Lemparan Bebas dan Lemparan 7-Meter)

     Sebelum pelaksanaan, pelempar harus menentukan posisi yang benar untuk melempar.

  • Diulang apabila melempar bukan pada posisinya (di TKP)

 

16. Hukuman

 Peringatan

  1. Suatu peringatan akan diberikan apabila:
  • kecurangan dilakukan berkali-kali
  • kelakuan yang tidak sportif dari seorang pemain atau ofisial tim.

Skorsing

  1. Suatu skorsing selama 2 menit akan diberikan apabila:
  • Untuk kesalahan pergantian, jika pemain tambahan memasuki lapangan, atau jika pemain yang secara tidak sah ikut campur dalam permainan dari area penggantian
  • Untuk jenis kecurangan yang diulang, mereka akan dihukum secara.
  • Untuk kelakuan tidak sportif yang dilakukan oleh seorang pemain di dalam atau di luar lapangan
  • Untuk kelakuan tidak sportip oleh setiap ofisial dari seuah tim, setelah salah satu dari mereka sebelumnya mendapat suatu peringatan.
  • Untuk jenis kelakuan yang tidak sportif yang diberikan untuk menjamin keabsahan skorsing selama 2 menit pada masing-masing kesempatan.
  • Sebagai konsekuensi dari suatu diskualifikasi dari suatu ofisial atau pemain.
  • Untuk kelakuan yang tidak sportif yang dilakukan oleh pemain sebelum permainan dimulai, setelah ia diberikan skorsing selama 2 menit.
  1. Skorsing dikenakan selama 2 menit, skorsing ketiga untuk pemain yang sama akan dikeluarkan

Diskualifikasi

  1. Diskualifikasi akan diberi:
  • Untuk kelakuan yang tidak sportif oleh tim tersebut, setelah mereka telah mendapatkan peringatan sebelumnya dan skors 2 menit.
  • Untuk kecurangan yang membahayakan keselamatan lawan
  • Untuk kelakuan tidak sportif yang dilakukan oleh pemain atau tim, atau diluar lapangan dan untuk kasus khusus atau kelakuan tidak sportif yang berulang-ulang yang dilakukan selama tie-breaker seperti lemparan 7-meter
  • tiga kali skors untuk pemain yang sama.

Pengeluaran

  1. Suatu pengeluaran akan diberi: Manakala seorang pemain bersalah melakukan tindakan kasar selama permainan dan di dalam atau di luar lapangan.
  2. Pemain yang dikeluarkan tidak boleh digantikan dan harus meninggalkan baik area penggantian pemain dan lapangan dengan segera. Selanjutnya, pemain tidak diijinkan untuk memiliki kontak dengan tim.

 

Pelanggaran di Luar Waktu Pertandingan

  1. Sebelum Pertandingan :
  • Sebuah peringatan akan diberikan dalam kasus tindakan tidak sportif.
  • Diskualifikasi dari kesalahan pemain
  1. Setelah Pertandingan :

Sebuah laporan tertulis.

17.Wasit

  1.  Dua orang wasit dengan hak yang sama akan memegang pimpinan di setiap pertandingan.
  2. Pakaian seragam berwarna hitam diharapkan diutamakan untuk wasit.

 

18. Pencatat Waktu dan Pencatat Skor1. 

  1. Pada prinsipnya, seorang pencatat waktu memiliki tanggung jawab yang utama untuk waktu pertandingan, waktu istirahat, dan waktu pengskorsan dari penundaan pemain.
  2. Pencatat skor memiliki tanggung jawab utama untuk daftar nama tim, lembar skor, mencatat pemain yang baru sampai setelah pertandingan dimulai, dan mencatat pemain yang tidak berhak untuk berpartisipasi.
  3. Tugas yang lain, seperti memeriksa para pemain dan ofisial tim di area pergantian, dan keluar-masuknya pemain pengganti, dihormati sebagai tanggung jawab bersama.
  4. Jika papan skor umum tidak mampu menunjukkan waktu skorsa juga (setidaknya 3 per-menitnya selama pertandingan IHF) pencatat waktu akan menunjukkan sebuah kartu dari meja pencatat waktu, yang memperlihatkan waktu berakhirnya pengskorsan, bersamaan dengan nomor pemain.

 

Sumber: IHF Rules OF The Games  & Peraturan Pertandingan PB ABTI

Hary Muhardi Syaflin.2016

 

 

 

 

 

Tantangan Dunia Pendidikan dalam Menghadapi Globalisasi

  1. Pendahuluan

            Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat.

            Melalui globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri. Pendidikan model ini juga membuat siswa memperoleh keterampilan teknis yang komplit dan detil, mulai dari bahasa asing, komputer, internet sampai tata pergaulan dengan orang asing dan lain-lain. sisi positif lain dari liberalisasi pendidikan yaitu adanya kompetisi. Sekolah-sekolah saling berkompetisi meningkatkan kualitas pendidikannya untuk mencari peserta didik.

            Globalisasi seperti gelombang yang akan menerjang, tidak ada kompromi, kalau kita tidak siap maka kita akan diterjang, kalau kita tidak mampu maka kita akan menjadi orang tak berguna dan kita hanya akan jadi penonton saja. Akibatnya banyak Desakan dari orang tua yang menuntut sekolah menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional dan desakan dari siswa untuk bisa ikut ujian sertifikasi internasional. Sehingga sekolah yang masih konvensional banyak ditinggalkan siswa dan pada akhirnya banyak pula yang gulung tikar alias tutup karena tidak mendapatkan siswa.

            Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

 

 

  1. Pembahasan

2.1. Guru Dalam Globalisasi Pendidikan

Mengingat bahwa dalam era global, pendidikan nasional harus pula memperhatikan perkembangan yang terjadi secara internasional, maka kajian kompetensi  guru sebagai  unsur  pokok  dalam  penyelenggaraan  pendidikan  formal, perlu  pula  mempertimbangkan  bagaimana kompetensi guru dibina dan dikembangkan pada beberapa negara lain. Departemen Pendidikan dan Latihan Australia Barat (Department of Education and Training, Western Australia) menentukan kerangka kompetensi untuk guru dengan menerbitkan Compentncy Framework For Teachers. Standar kompetensi guru ditentukan dalam tiga fase yang merupakan suatu kontinu dalam praktek pembelajaran.  Fase tersebut  bukan merupakan  sesuatu  yang dinamik dan bukan merupakan  suatu bentuk penjenjangan  atau lama waktu bertugas. Misalnya seorang  guru  yang  baru  bertugas,  mampu menunjukkan kompetensinya dalam bebarapa indikator dalam setiap fase. Berdasarkan hal itu guru tersebut dapat menentukan sendiri kompetensi apa yang belum dikuasai, baik pada fase pertama, kedua maupun ketiga, dan kemudian berusaha untuk   dapat melaksanakan kompetensi dengan berbagai cara yang dimungkinkan.

Di  Amerika  Serikat,  masing-masing  negara  bagian  mempunyai  ketentuan dalam memberikan lisensi kepada guru baru. Sedangkan untuk guru berpengalaman diterbitkan panduan oleh National Board for Professional Teaching Standards. Panduan ini sifatnya sukarela, tidak ada keharusan bagi negara bagian untuk menggunakan dalam memberikan   pengakuan atas kompetensi guru. Panduan tersebut diterbitkan dengan judul What Teachers Should Know and Be Able to Do (apa  yang  perlu  dipahami  dan  mampu  dilaksanakan oleh guru). Proposisi inti tentang kompetensi guru meliputi: (1) Guru mempunyai komitmen terhadap siswa dan belajar mereka; (2) Guru menguasai materi yang pelajaran dan cara mengajarnya; (3) Guru bertanggung jawab dalam mengelola dan memonitor belajar siswa; (4) Guru berpikir secara sistematik mengenai tugasnya dan    belajar dari pengalamannya; dan (5) Guru menjadi anggota dari masyarakat belajar.

Berkaitan dengan pelaksanaan  pembelajaran,  guru  perlu  memperhatikan bahwa siswa memiliki berbagai potensi dalam dirinya. Di antaranya rasa ingin tahu dan  berimajinasi, dua  hal  ini  adalah  potensi yang  harus  dikembangkan   atau distimulasi melalui kegiatan  pembelajaran. Karena kedua hal tersebut adalah modal dasar bagi berkembangnya  sikap berpikir kritis dan kreatif. Sikap berpikir kritis dan kreatif adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Agar mampu berpikir kritis dan kreatif,  sifat rasa  ingin  tahu dan berimajinasi  yang  sudah  dimiliki  siswa  perlu dikembangkan.   Untuk  mengembangkan   kedua  sifat  yang  dimiliki  siswa  tersebut secara optimal perlu diciptakan suasana pembelajaran yang bermakna.

Di lain pihak, perlu diperhatikan  bahwa  para siswa berasal  dari lingkungan keluarga   yang  bervariasi   dan  memiliki   kemampuan   yang  berbeda. Perbedaan individual  perlu  diperhatikan  dan  harus  tercermin  dalam  kegiatan  pembelajaran. Semua siswa dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda  sesuai  dengan  kecepatan  belajarnya.  Siswa  yang  memiliki  kemampuan lebih  dapat  dimanfaatkan  untuk  membantu  temannya  yang  lemah  (tutor  sebaya). Dengan  mengenal  kemampuan  siswa,  guru  dapat  membantunya  bila  mendapat kesulitan sehingga siswa tersebut belajar secara optimal.

Ruang  kelas  yang  menarik  merupakan  hal yang  sangat  disarankan  dalam pembelajaran.  Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas   seperti   itu.   Selain   itu,   hasil   pekerjaan   yang   diapajangkan   diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Benda  yang dipajangkan  dapat berupa  hasil kerja perorangan,  berpasangan,  atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan   dan   sebagainya.   Ruang   kelas   yang   penuh   dengan   pajangan   hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

Selain  itu,  lingkungan  (fisik,  sosial  atau  budaya)  merupakan  sumber  yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan  dapat berperan  sebagai media belajar,  tetapi juga sebagai  objek kajian (sumber  belajar).  Penggunaan  lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar. Belajar dengan  menggunakan   lingkungan   tidak  harus  selalu  keluar  kelas.  Bahan  dari lingkungan   dapat  dibawa  ke  ruang  kelas  untuk  menghemat   biaya  dan  waktu.

Mutu  hasil  belajar   akan  meningkat   bila  terjadi   interaksi   dalam  belajar. Pemberian  umpan  balik  dari  guru  kepada  siswa  merupakan  salah  satu  bentuk interaksi   antara   guru   dan   siswa.   Umpan   balik   hendaknya   lebih   mengungkap kekuatan  daripada  kelemahan  siswa. Selain itu, cara memberikan  umpan balikpun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan  siswa  dan  memberikan  komentar  dan  catatan.  Catatan  guru  berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan  diri siswa dari hanya sekedar angka.

Berdasarkan uraian tersebut kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan  yang dimaksud  dalam  pengkajian   ini adalah  seperangkat  karakteristik umum  dari  kinerja  seseorang  guru  dalam  bentuk  pelaksanaan  prosedur pembelajaran  dalam  menyajikan  bahan  ajar  yang  bersifat  mendasar  dan  umum. Indikator  dari  kompetensi  mengelola  pembelajaran   tersebut  meliputi  kompetensi dalam  mendemonstrasikan:  (1) memulai  pelajaran;  (2) mengelola  kegiatan  belajar dan  pembelajaran  termasuk;  (3)    mengorganisasikan   waktu,  siswa  dan  fasilitas belajar; (4) melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar; serta (5) menutup pelajaran.

Dari beberapa pendapat tentang kompetensi guru tersebut, pada penelitian ini baru meliputi kompetensi pedagogik dengan indikator-indikator: menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar dan pembelajaran siswa, serta pengawasan dan tindak lanjut hasil pembelajaran; serta kompetensi  profesional  guru,  dengan  indikator:  guru  komitmen  terhadap  belajar siswa, guru menguasai  materi pembelajaran  secara  luas, guru bertanggung  jawab mengatur dan memonitor belajar siswa, guru belajar reflektif dari apa yang dilakukan, serta guru adalah bagian dari warga belajar.

2.2. Tantangan Pendidik dalam Globalisasi Pendidikan

            Globalisasi, menurut Stiglitz (2003), merupakan interdependensi yang tidak simetris antar negara, lembaga dan aktornya. Karena itu interdependensi antar Negara yang seperti tersebut lebih menguntungkan negara yang memiliki keunggulan ekonomi dan teknologi. Padahal, pada awalnya globalisasi bertujuan untuk membuka perluang bagi Negara-negara berkembang untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui perdagangan global.

            WTO telah mengidentifikasi 4 mode penyediaan jasa pendidikan sebagai berikut: (1) Cross-border supply, institusi pendidikan tinggi luar negeri menawarkan kuliah-kuliah melalui internet dan on-line degree program, atau Mode 1; (2) Consumption abroad, adalah bentuk penyediaan jasa pendidikan tinggi yang paling dominan, mahasiswa belajar di perguruan tinggi luar negeri atau Mode 2; (3) Commercial presence, atau kehadiran perguruan tinggi luar negeri dengan membentuk partnership, subsidiary, twinning arrangement dengan perguruan tinggi lokal., atau Mode 3, dan (4) Presence of natural persons, dosen atau pengajar asing mengajar pada lembaga pendidikan lokan, atau Mode 4. Liberalisasi pendidikan tinggi menuju perdagangan bebas jasa yang dipromosikan oleh WTO adalah untuk mendorong agar pemerintah negara-negara anggota tidak menghambat empat mode penyediaan jasa tersebut dengan kebijakan-kebijakan intervensionis.

            Perlu disadari bersama bahwa globalisasi bukanlah merupakan suatu proses alami melainkan suatu proses yang dimunculkan berdasarkan gagasan, yang selanjutnya ditawarkan kepada dunia untuk diikuti oleh bangsa lain. Dengan demikian, globalisasi yang telah menghasilkan kesepakatan bersama sangat syarat dengan muatan kepentingan dan keuntungan bagi yang menciptakan. Proses globalisasi yang telah berlangsung pada semua bidang kehidupan (seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosiologi, kebudayaan pertahanan keamanan, politik internasional dan lain-lain) akan memberikan dampak negatif pada negara-negara yang tidak memiliki jatidiri yang jelas. Adanya globalisasi sudah barang tentu akan memunculkan negara-negara sebagai subyek dan objek yang masing-masing perannya sangat berbeda.

            Banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya. Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi pendidikan sekolah (Tanje, 2008). Mastuhu dalam Wicaksono (2008) mengemukakan bahwa Globalisasi sering diterjemahkan “mendunia” atau “mensejagat”.

            Sesuatu entitas, betapapun kecilnya, disampaikan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun, dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia, baik berupa ide, gagasan, data, informasi, produksi, temuan obat-obatan, pembangunan, pemberontakan, sabotase, dan sebagainya; begitu disampaikan, saat itu pula diketahui oleh semua orang di seluruh dunia. Hal ini biasanya banyak terjadi di lingkungan politik, bisnis, atau perdagangan, dan berpeluang mampu mengubah kebiasaan, tradisi, dan bahkan budaya. Menurut pendapat Scholte (2002) dalam Suroso (2010) menyatakan bahwa setidaknya ada lima kategori pengertian globalisasi yang umum ditemukan dalam literatur. Kelima kategori definisi tersebut berkaitan satu sama lain dan kadangkala saling tumpang-tindih, namun masing-masing mengandung unsur khas yang dapat dikemukakan sbb.

  1. Globalisasi sebagai internasionalisasi

            Globalisasi dipandang sebagai sebuah kata sifat (adjective) untuk menggambarkan hubungan antar-batas dari berbagai negara. Ia menggambarkan pertumbuhan dalam pertukaran dan interdependensi internasional. Semakin besar volume perdagangan dan investasi modal, maka ekonomi antar-negara semakin terintegrasi menuju ekonomi global di mana ekonomi nasional yang distingtif dilepas dan diartikulasikan kembali kedalam suatu sistem melalui proses dan kesepakatan internasional

  1. Globalisasi sebagai liberalisasi

            Dalam pengertian ini, globalisasi merujuk pada sebuah proses penghapusan hambatan-hambatan yang dibuat oleh pemerintah terhadap mobilitas antar negara untuk menciptakan sebuah ekonomi dunia yang terbuka dan tanpabatas. Mereka yang berpendapat pentingnya menghapus hambatan-hambatan perdagangan dan kontrol modal biasanya berlindung di balik mantel globalisasi.

  1. Globalisasi sebagai universalisasi

            Dalam konsep ini, kata global digunakan dengan pemahaman bahwa proses mendunia dan globalisasi merupakan proses penyebaran berbagai obyek dan pengalaman kepada semua orang ke seluruh penjuru dunia. Contoh klasik dari konsep ini adalah penyebaran teknologi komputer, televisi, internet, dll.

  1. Globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi (lebih dalam bentuk yang Americanised)

            Globalisasi dalam konteks ini dipahami sebagai sebuah dinamika, di mana struktur-struktur sosial modernitas (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme, dsb.) disebarkan ke seluruh penjuru dunia, yang dalam prosesnya cenderung merusak budaya setempat yang telah mapan serta merampas hak self-determination rakyat setempat.

  1. Globalisasi sebagai penghapusan batas-batas teritorial (atau sebagai

persebaran supra-teritorialitas)

            Globalisasi mendorong rekonfigurasi geografis, sehingga ruang-sosial tidak lagi semata dipetakan dengan kawasan teritorial, jarak teritorial, dan batasbatas teritorial. Dalam konteks ini, globalisasi juga dipahami sebagai sebuah proses (atau serangkaian proses) yang melahirkan sebuah transformasi dalam spatial organisation dari hubungan sosial dan transaksi-ditinjau dari segi ekstensitas, intensitas, kecepatan dan dampaknya-yang memutar mobilitas antar-benua atau antar-regional serta jejaringan aktivitas (Scholte, 2002 dalam Suroso, 2010).

2.3. Peningkatan Mutu Guru

            Pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat, dapat bergerak cepat menemukan dan memperbaiki celah – celah yang dapat menyulut kesenjangan dalam dunia pendidikan. Salah satunya dengan cara menjadikan pendidikan di Indonesia semakin murah atau bahkan gratis tapi bukan pendidikan yang murahan tanpa kualitas. Hal ini memang sudah dimulai di beberapa daerah di Indonesia yang menyediakan sekolah unggulan berkualitas yang bebas biaya. Namun hal tersebut baru berupa kebijakan regional di daerah tertentu. Alangkah baiknya jika pemerintah pusat menerapkan kebijakan tersebut dalam skala nasional . Untuk dapat mewujudkan hal tersebut pemerintah perlu melakukan pembenahan terutama dalam bidang birokrasi. Korupsi mesti segera diberantas, karena korupsi merupakan salah satu yang menghancurkan bangsa ini.

            Ide Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Moh. Nuh yang mengingatkan, bahwa dalam dunia pendidikan tak boleh ada sikap diskriminatif yang disebabkan adanya perbedaan kaya dengan miskin akibat faktor wilayah kota dan desa sehingga seseorang kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan. Perlu diimplentasikan dan dilaksanakan dengan segera, agar hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak dapat segera terwujud, dan dapat mendorong lembaga pendidikan untuk mempertimbangkan kurikulum maupun metodologi yang tidak banyak mengeluarkan biaya.

            Selain itu membuat standar baru tentang kualitas pendidikan yang tidak saja menyentuh kemampuan dan kreativitas siswa melainkan juga ongkos sekolah. Kriteria yang mempersyaratkan kemampuan menampung siswa tidak mampu sekaligus kemampuan untuk mensejahterakan guru. Sekolah tidak lagi diukur dari kemampuannya mencetak siswa yang pintar melainkan bagaimana mengajarkan siswa untuk saling bertanggung jawab dan mempunyai solidaritas tinggi. Standar internasional tentang kemampuan intelektual tidak akan bisa diraih dengan kondisi struktural yang masih mengalami persoalan ketimpangan dan kesenjangan sosial. Selain itu solusi-solusi lain yang dapat dilaksanakan adalah

  • Meningkatkan mutu SDM terutama Guru dalam penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Asing lainnya
  • Peningkatan Mutu Guru dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
  • Peningkatan Mutu Manajemen sekolah dan Manajemen pelayanan pendidikan
  • Peningkatan Mutu sarana dan Prasarana
  • Penanaman nilai-nilai keteladanan
  • Pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan
  • Penelitian dan pengembangan pendidikan

 3. Penutup

Indonesia telah memulai upaya reformasi guru yang ambisius dan banyak langkah-langkah positif yang telah diambil. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam tulisan ini, banyak tantangan baru telah muncul dan masih banyak sekali langkah lain yang harus diambil sebelum semua tujuan reformasi tercapai. Berbagai kebijakan yang diambil pada titik reformasi sekarang ini akan menentukan masa depan angkatan kerja pendidikan dan membentuk kualitas sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Implikasi anggaran dari reformasi ini benar-benar harus diingatkan kembali, dan perlu ditekankan bahwa inefisiensi pada sistem bisa berujung pada tidak tertanganinya aspek-aspek lain dari pendidikan. Langkah-langkah yang tepat, terutama dengan menciptakan kerangka penilaian guru dan sistem kenaikan pangkat dan jabatan yang berbasis prestasi, akan memungkinkan Indonesia untuk menciptakan angkatan guru yang berkualitas dan bermotivasi tinggi, yang bekerja di dalam sistem pendidikan yang efisien dan efektif. Pemetik manfaat terbesar dari itu semua pada masa mendatang adalah angkatan muda Indonesia dan negeri ini secara keseluruhan.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

HERMAWAN S., Rachman & Zulfikar Zen. Etika kepustakawanan: suatu pendekatan terhadap kode etik pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006

JANUAR S. Indra. Globalisasi Pendidikan. http://zag.7p.com/globalisasi_pendidikan.htm akses tanggal 10 Mei 2015

http://edukasi.kompas.com akses tanggal 10 Mei 2015

OCTAVIANUS, Petrus. Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055) jilid I. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2005

____________________ Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055) jilid II. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2005

___________________. Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055) jilid III. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2007

PRASETYO, Eko. Orang miskin dilarang sekolah. Yogyakarta: Resist Book, 2005

SUTARNO NS. Tanggung jawab perpustakaan: dalam mengembangkan masyarakat informasi. Jakarta: Panta Rei, 2005

TANJE, Sixtus. Globalisasi Pendidikan dan Ketidaksiapan Sekolah. http://re-searchengines.com/sixtus0409.html akses tanggal 10 Mei 2015

Feminimisme dalam Olahraga

  1. Sejarah Feminisme

            Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum perempuan itu akan selalu ada jika kaum perempuan tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah “mitra” melainkan sebagai pesaing dan musuh. Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan. Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriachal sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropah dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.

            Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk “;menaikkan derajat kaum perempuan”; tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul ´Vindication of the Right of Woman´ yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-40 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.

            Gelombang feminisme di Amerika Serikat mulai lebih keras bergaung pada era reformasi dengan terbitnya buku “The Feminine Mystique”; yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama ´National Organization for Woman´ (NOW) di tahun 1966 gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya ´Equal Pay Right´ (1963) sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ´Equal Right Act´ (1964) dimana kaum perempuan mempuntyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang.

            Gerakan perempuan atau feminisme berjalan terus, soalnya sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan. Di tahun 1967 dibentuklah ´Student for a Democratic Society´ (SDS) yang mengadakan konvensi nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama, dari sinilah mulai muncul kelompok ´feminisme radikal´ dengan membentuk ´Women´s Liberation Workshop´ yang lebih dikenal dengan singkatan ´Women´s Lib.´ Women´s Lib mengamati bahwa peran kaum perempuan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah. Di tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya ´Miss America Pegeant´ di Atlantic City yang mereka anggap sebagai ´pelecehan terhadap kaum wanita´ dan ´komersialisasi tubuh perempuan.´ Gema ´pembebasan kaum perempuan´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia.

  1. Macam-Macam Aliran Feminisme

2.1. Feminis Liberal

            Apa yang disebut sebagai Feminis Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki. Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai “Feminisme Kekuatan” yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.

            Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkan wannita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.

2.2. Feminisme Radikal

Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 70-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.

2.3. Feminisme Post Modern

Ide Posmo – menurut anggapan mereka – ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.

2.4. Feminisme Anarkis

Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

2.5. Feminisme Sosialis

Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang mendinginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender Dan lain sebagainya.

  1. MENGAPA ADA FEMINISME?

            Sebenarnya awal bangkitnya gerakan kaum perempuan itu banyak mendapat simpati bukan saja dari kaum perempuan sendiri tetapi juga dari banyak kaum laki-laki, tetapi perilaku kelompok feminisme radikal yang bersembunyi di balik “women´s liberation” telah melakukan usaha-usaha yang lebih radikal yang berbalik mendapat kritikan dan tantangan dari kaum perempuan sendiri dan lebih-lebih dari kaum laki-laki. Organisasi-organisasi agama kemudian juga menyatakan sikapnya yang kurang menerima tuntutan “Women´s Lib” itu karena mereka kemudian banyak mengusulkan pembebasan termasuk pembebasan kaum perempuan dari agama dan moralitasnya yang mereka anggap sebagai kaku dan buah dari ´agama patriachy´ atau ´agama kaum laki-laki.´

            Memang memperjuangkan kesamaan hak dalam memperoleh pekerjaan, gaji yang layak, perumahan maupun pendidikan harus diperjuangkan, dan bahkan pemberian hak-suara kepada kaum perempuan juga harus diperjuangkan, tetapi kaum perempuan juga harus sadar bahwa secara kodrati mereka lebih unggul dalam kehidupan sebagai pemelihara keluarga, itulah sebabnya adalah salah kaprah kalau kemudian hanya karena kaum perempuan mau bekerja lalu kaum laki-laki harus tinggal di rumah memelihara anak-anak dan memasak.

            Bagaimanapun kehidupan modern, kaum perempuan harus tetap menjadi ibu rumah tangga. Ini tidak berarti bahwa kaum perempuan harus selalu berada di rumah, ia dapat mengangkat pembantu atau suster bila penghasilan keluarga cukup dan kepada mereka dapat didelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga, tetapi sekalipun begitu seorang isteri harus tetap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dan rumah tangga tidak dilepaskan begitu saja.

Bila semula gerakan kaum perempuan “feminisme” itu lebih mengarah pada perbaikan nasib hidup dam kesamaan hak, kelompok radikal “Women´s Lib” telah mendorongnya untuk mengarah lebih jauh dalam bentuk kebebasan yang tanpa batas dan telah menjadikan feminisme menjadi suatu “agama baru.” Sebenarnya halangan yang dihadapi ´feminisme´ bukan saja dari luar tetapi dari dalam juga. Banyak kaum perempuan memang karena tradisi yang terlalu melekat masih lebih senang ´diperlakukan demikian,´ atau bahkan ikut mengembangkan perilaku ´maskulinisme´ dimana laki-laki dominan Sebagai contoh dalam soal pembebasan kaum perempuan dari ´pelecehan seksual´ banyak kaum perempuan yang karena dorongan ekonomi atau karena kesenangannya pamer justru mendorong meluasnya prostitusi dan pornografi. Banyak kaum perempuan memang ingin cantik dan dipuji kecantikannya melalui gebyar-gebyar pemilihan ´Miss´ ini dan ´Miss” itu, akibatnya usaha menghentikan yang dianggap ´pelecehan´itu terhalang oleh sikap sebagian kaum perempuan sendiri yang justru ´senang berbuat begitu.´

            Halangan juga datang dari kaum laki-laki. Kita tahu bahwa secara tradisional masyarakat pada umumnya menempatkan kaum laki-laki sebagai ´penguasa masyarakat,´ (male dominated society) bahkan masyarakat agama dengan ajaran-ajarannya yang orthodox cenderung mempertebal perilaku demikian. Kritikan prinsip yang dilontarkan pada feminisme khususnya yang radikal (Women´s Lib) adalah bahwa mereka dalam obsesinya kemudian ´mau menghilangkan semua perbedaan yang ada antara perempuan dan laki-laki.´ Jelas sikap radikal yang mengabaikan perbedaan kodrat antara kaum perempuan dan laki-laki itu tidak realistis karena faktanya toh berbeda dan menghasilkan dilema, sebab kalau kaum perempuan dilarang meminta cuti haid karena kaum laki-laki tidak haid pasti timbul protes, sebaliknya tentu pengusaha akan protes kalau kaum laki-laki diperbolehkan ikut menikmati ´cuti haid dan hamil´ padahal mereka tidak pernah haid dan tidak mungkin hamil.

            Dalam etika kehidupan-pun, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap kaum perempuan adalah kaum yang lebih lemah. Kita jumpai dalam setiap kejadian emergency, kebakaran, kecelakaan dan bencana lainnya. Para “team penolong” selalu akan menolong “women and children” lebih dahulu. Ini sebenarnya didasari atas rasa kemanusiaan saja bukan atas diskriminasi gender. Kesalahan fatal feminisme radikal ini kemudian menjadikan laki-laki bukan lagi sebagai mitra atau partner tetapi sebagai ´saingan´ (rival) bahkan ´musuh ´ (enemy)!´ Sikap feminisme yang dirusak citranya oleh kelompok radikal sehingga menjadikannya ´sangat eksklusif´ itulah yang kemudian mendapat kritikan luas.

Kritikan lain juga diajukan adalah karena dalam membela kaum perempuan dari sikap ´pelecehan seksual;´ mereka kemudian ingin melakukan kebebasan seksual tanpa batas, seperti ´Women´s Lib´ mendorong kebebasan seksual sebebas-bebasnya termasuk melakukan masturbasi, poliandri, hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak, lesbianisme, bahkan liberalisasi aborsi dalam setiap tahap kehamilan. Kebebasan ini tidak berhenti disini karena ada kelompok radikal yang ´menolak peran kaum perempuan sebagai Sungguh sangat disayangkan bahwa banyak tokoh-tokoh perempuan sendiri tidak mengakui “pekerjaan ibu rumah tangga sebagai profesi” dan menganggapnya lebih inferior daripada misalnya pekerjaan sebagai dokter, pengacara atau pengusaha, dalam sikap ini kita dapat melihat sampai dimana kuku feminisme radikal sudah pelan-pelan menusuk daging. Pernah ketika ada kunjungan Gorbachev, presiden Rusia waktu itu, yang berkunjung ke Amerika Serikat, isterinya “Raisa” bersama “Barbara”, isteri presiden Amerika Serikat George Bush Sr. , diundang untuk berbicara disuatu “Universitas perempuan yang terkenal.” Ketika keduanya berbicara, sekelompok perempuan yang bergabung dengan “women”s lib” meneriakkan yel-yel bahkan membawa poster yang mencemooh mereka karena mereka hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak bisa mempunyai karier sendiri. Bahkan, beberapa profesor perempuan menolak hadir karena merasa direndahkan bila mendengar pembicara perempuan yang hanya seorang ibu rumah tangga. Pembawa Acara, menanggapi kritikan-kritikan itu kemudian berkomentar bahwa “memang keduanya adalah ibu rumah tangga, tetapi karena dampingan keduanya, dua orang paling berkuasa di dunia dapat menciptakan kedamaian di dunia, suatu profesi luhur yang tiada taranya!”

  1. Feminisme dalam Olahraga

            Feminisme adalah gerakan untuk menghentikan tekanan pada perbedaan jenis kelamin (Hooks, 1984). Tantangan feminist terhadap kekuasaan dominasi pria dan kritik mereka terhadap sistem pengetahuan androsentris dalam industri budaya barat dimulai pada abad ke 18 (Anderson, Dovovon, 1985). Gerakan perempuan modern tahun 1960-an disertai oleh pertumbuhan pada “studi tentang perempuan” (atau studi feminis atau studi gender) di Australia, Canada, Eropa Barat, Scandinavia dan Amerika.

            Analisa feminis pada olah raga merupakan hal yang baru (messner & Sabo,1990). Pada tahun 1970-an para feminis mengkritik olah raga sebagai “institusi fundamental yang membedakan jenis kelamin, didominasi oleh pria dan berorintasi maskulin (Theberge, 1981). Tahun 1980-an bea siswa banyak diberikan untuk studi olah raga oleh feminis. Analisa mereka membongkar sejarah atletik perempuan, mengkaji perbedaan jenis kelamin dalam bidang sosialisasi olah raga dan menjelaskan bagaimana bentuk dominan institusi olah raga telah membuat dominasi pria dan menguntungkan pria atas wanita. Pemisahan dan tidak dihargainya atlet wanita menyebabkan dominasi struktural dan ideologi pria atas wanita.

            Teori feminisme mengembangkan batasan dan perhatian politis mereka di tahun 1980an. Mereka mulai memperhatikan hal lain selain gender, yaitu dominasi pada tingkatan sosial, ras, etnis, atau pilihan jenis kelamin. Singkatnya, studi feminis menjadi lebih kritis, yaitu pada teoritis yang mengkonsepsikan hubungan gender dalam olah raga dan kaitannya dengan sistem dominasi, hubungan kekuasaan yang tumpang tindih dan perjuangan kebebasan.  Dalam edisi ini M. Ann Hall mengajak pembaca untuk mengikuti perubahan pemikiran feminis dalam studi olah raga. Fokunya pada tulisan-tulisan sosiologi tentang olah raga dan gender sejak tahun 1988 dan menjelaskan bahwa teori dan riset menuju “analisa hubungan” dan perkembangan “studi budaya feminis.” Dijelaskan pula kecenderungan pada teori feminis yang beralih dari riset deskriptif menuju analisa olah raga sebagai “representasi budaya atas hubungan sosial” yang “secara sejarah, sosial dan budaya dibentuk untuk melayani kebutuhan kelompok yang kuat dalam masyarakat.”

            Menurut Hall studi budaya sulit dijelaskan atau dimengerti. Bennett (1992) secara umum menganggap studi budaya sebagai “istilah untuk memudahkan penempatan posisi pada teori dan politik yang meskipun berbeda pada aspek lain tapi mempunyai komitmen yang sama dalam mengkaji praktek budaya dalam pandangan interaksi mereka dengan dan dalam kaitannya dengan kekuasaan.” Seperti feminisme, studi budaya juga merupakan gerakan intelektual internasional yang berasal dari perbedaan budaya dan pandangan teoritis. Studi budaya dijelaskan sebagai “antar disiplin ilmu, multidisiplin ilmu dan antidisiplin ilmu” (Nelson, dkk. 1992).

            Sosiologi tradisional cenderung menerima berbagai bentuk determinisme (seperti bentuk struktural atau ekonomi yang menetukan kejadian atau perilaku), para peneliti budaya menyadari adanya pengaruh manusiawi dan tantangan politis dalam kehidupan sosial. Fische (1992) mengatakan,”tingkatan sosial membatasi dan menekan orang, namun juga memberikan sumber daya untuk menentang batasan tersebut.” Seperti halnya studi feminisme, studi budaya juga bukan hanya kegiatan akademis, namun bertujuan untuk secara politis berpartisipasi dan merubah dunia sosial yang ditelitinya. Untuk itu Hall menulis,”Sosiologi, termasuk juga sosiologi olah raga dan hobi, harus secara politis berguna dan tidak boleh ada dikotomi antara fungsi seseorang sebagai warga dan sebagai ilmuwan.”

            Adanya kaitan antara studi budaya dan teori feminis, menunjukkan adanya perkembangan ketergantungan secara global. Studi budaya feminisme memiliki pandangan-pandangan teoritis dan pendekatan-pendekatan metodologi yang melewati batas antar negara, politik dan budaya. Hubungan antara studi budaya dan sosiologi olah raga ini memberikan pengertian akan proses globalisasi melalui analisa perubahan hubungan antara budaya dominan dan yang didominasinya, pemisahan antara pria dan wanita serta perbedaan warna kulit.

               Wanita pertama mengambil bagian dalam Olimpiade 1900, dengan 22 wanita bersaing hanya golf dan tenis. Sejak saat itu, partisipasi perempuan dalam permainan telah perlahan-lahan, tapi pasti, meningkat. Dalam Olimpiade London 2012, wanita terdiri lebih dari 44% dari peserta. Para wanita AS memperoleh 58 medali dalam semua, termasuk 29 Gold – lebih dari orang-orang AS. Jumlah acara olahraga Olimpiade untuk wanita juga meningkat, dengan tinju perempuan akhirnya diterima oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk 2012. Meskipun kemajuan dalam partisipasi perempuan, ketidakadilan dalam pengobatan lanjutan. Pada tahun 2010, The International Boxing Association menyarankan wanita harus mengenakan rok untuk membantu “membedakan” mereka dari laki-laki, karena semua pejuang memakai tutup kepala.

                Pada Oktober 2011 kejuaraan dunia, Polandia Boxing membuat rok wajib, mengatakan mereka lebih “elegan.” Pada tahun 2012, Komite Olimpiade London membuat rok opsional, namun kontroversi terus. Buti perempuan, bahkan final medali emas, semua dijadwalkan untuk sore – sedangkan slot waktu malam perdana diisi oleh serangan pria. Serangan perempuan itu pada hari-hari berturut-turut, sedangkan laki-laki mendapat hari istirahat antara perkelahian.         Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak diberlakukannya Judul IX, federal melarang hukum diskriminasi seks dalam pendidikan yang didanai pemerintah federal, termasuk atletik. Sebagai hasil dari Judul IX, perempuan dan anak perempuan mendapat keuntungan dari lebih banyak kesempatan partisipasi atletik dan fasilitas yang lebih adil. Karena Judul IX, lebih banyak perempuan telah menerima beasiswa atletik dan dengan demikian peluang untuk pendidikan tinggi bahwa beberapa mungkin belum mampu membayar sebaliknya. Selain itu, karena dari Judul IX gaji pelatih untuk tim perempuan meningkat. Tapi perempuan dan atlet perempuan belum mencapai paritas dengan laki-laki. Perempuan masih hanya sekitar sepertiga dari atlet antarsekolah dan antar perguruan. Selain itu, atlet perempuan perguruan tinggi menerima kurang dari 26% dari anggaran operasional perguruan tinggi olahraga ‘, dan kurang dari 28% dari perguruan tinggi merekrut uang (Perempuan Yayasan Olahraga, 1101).

               1978 Amatir Olahraga Act, memerlukan Komite Olimpiade Amerika Serikat dan yang Badan Nasional Pemerintahan untuk beroperasi di non-seks secara diskriminatif untuk setiap olahraga. Pada tahun 1998, Ted Stevens Olimpiade dan Amatir Olahraga Undang revisi UU Amatir Olahraga dengan menghilangkan persyaratan yang bersaing dalam olahraga yang paling internasional diperlukan statusnya amatir. Hal ini juga memperluas peran Amerika Komite Olimpiade Amerika (USOC) untuk menyertakan Paralimpiade dan peningkatan representasi atlet perempuan. Tapi tidak seperti Judul IX untuk atlet AS, undang-undang ini tidak memberikan jalur hukum terhadap Komite Olimpiade Nasional (NOC) karena gagal untuk mengatasi masalah kesetaraan gender.

               Meskipun Dewan USOC Direksi telah menjadi lebih jender yang seimbang, tidak banyak yang berubah untuk 134 anggota (termasuk anggota kehormatan) Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang hanya 24 anggota perempuan pada 2012. IOC dan NOC harus terus meningkat partisipasi perempuan dalam olahraga Olimpiade dan Paralimpiade, dengan penekanan pada kesetaraan gender dalam peran kepemimpinan bagi perempuan. Setiap empat tahun, IOC menyelenggarakan konferensi dunia tentang Perempuan dan Olahraga. Konferensi terakhir diadakan pada bulan Februari 2012 di Los Angeles, California. Para delegasi dengan suara bulat menyetujui “The Los Angeles Deklarasi,” serangkaian rekomendasi yang bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan gender dalam olahraga dan menggunakan olahraga sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan wanita di seluruh dunia.Meskipun banyak prestasi, masih ada diskriminasi seks. Meskipun Olimpiade 2012 adalah yang pertama di mana hampir setiap negara mengirimkan setidaknya satu wanita, banyak negara Muslim masih mencegah atlet wanita dari bersaing di depan umum.               Setelah Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2013, Anita DeFrantz, Ketua Perempuan dan Olahraga Komisi IOC, berbicara pada Sidang ke-57 Komisi PBB tentang Status Perempuan untuk menyoroti peran olahraga dalam upaya untuk menghilangkan dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di dunia.Meskipun kemajuan perempuan, lebih harus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam Olimpiade dan Paralimpiade olahraga dan meningkatkan jumlah kejadian perempuan yang memenuhi syarat itu. Dengan pengecualian dari AS, sebagian besar negara mendukung dan mendanai Tim Olimpiade. Atlet AS didanai oleh sumbangan dari perusahaan dan individu.               Aspek lain dari olahraga dan perempuan adalah kekerasan terhadap perempuan terkait dengan olahraga kontak seperti sepak bola, basket, rugby, dan hoki es. Kasus O.J. Simpson telah melatih perhatian pada hubungan antara atlet laki-laki dan kekerasan terhadap perempuan. Mariah Burton Nelson, dalam bukunya The Stronger Perempuan Dapatkan, Lebih Men Cinta Football, menunjukkan bahwa pelatih olahraga ini sering menasihati pemain untuk tampil lebih baik dengan mengatakan kepada mereka untuk tidak 6 4 banci “atau” anak perempuan. “Dia mengutip lagu rugby yang menggambarkan kekerasan terhadap perempuan, dan berbicara tentang wanita-merendahkan bahasa yang digunakan oleh pemain olahraga kontak. Pemain mengejek tim lawan dengan menyebut mereka “anak perempuan.” Menjadi baik di olahraga ini, dengan kata lain, terkait dengan menempatkan perempuan ke bawah. Wanita tidak dilihat sebagai sesama atlet harus dihormati.               Sementara atlet ini berbicara tentang perempuan dalam kekerasan, menurunkan istilah, adalah laki-laki atlet lebih mungkin untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan? Sebuah studi baru-baru ini siswa-atlet di sepuluh Divisi I universitas menunjukkan bahwa sementara atlet laki-laki terdiri hanya 3,3% dari populasi universitas laki-laki, mereka adalah 19% dari siswa dilaporkan untuk kekerasan seksual. Dari laki-laki siswa-atlet S dilaporkan untuk kekerasan seksual, 67% adalah sepak bola atau basket pemain. Studi lain oleh Mary Koss dan John Gaines di University of Arizona juga menunjukkan ada hubungan antara laki-laki atlet dan kekerasan terhadap perempuan. Menurut survei dari 530 orang sarjana di Universitas Arizona, mahasiswa laki-laki perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam atletik resmi sedikit lebih mungkin merasa bermusuhan terhadap perempuan, dan untuk terlibat dalam agresi seksual, dibandingkan laki-laki lain. Prediktor terbaik agresi seksual dan permusuhan terhadap perempuan adalah alkohol yang tinggi dan use.56 nikotin               Namun perguruan tinggi dan pemain sepak bola profesional yang melakukan kekerasan seksual sering mendapatkan perlakuan khusus oleh polisi, hakim, dan otoritas olahraga, menurut sebuah artikel Washington Post. Sebagai contoh, NFL biasanya tidak menangguhkan pemain yang telah dihukum karena kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau kekerasan lainnya, dan pemain ini sering tidak kehilangan kontrak dukungan menguntungkan either.57 Dengan mendorong anak-anak untuk menjadi agresif, atlet kekerasan, dan dengan mendorong gadis-gadis untuk menghibur bagi mereka, kami mengabadikan siklus agresi laki-laki dan kekerasan terhadap perempuan.

  1. Penutup

Dibalik kritikan yang ditujukan terhadap “Women”s Lib” khususnya dan “Feminisme” umumnya, kita perlu melakukan introspeksi karena sebenarnya “feminisme” itu timbul sebagai reaksi atas sikap kaum laki-laki yang cenderung dominan dan merendahkan kaum perempuan. Ini terjadi bukan saja di kalangan umum tetapi lebih-lebih di kalangan yang meng “atas namakan” agama memang sering berperilaku menekan kepada kaum perempuan.

Dalam menyikapi “feminisme” sebagai suatu gerakan, kita harus berhati-hati untuk tidak menolaknya secara total, sebab sebagai “gerakan persamaan hak” harus disadari bahwa usaha gerakan itu baik dan harus didukung bahkan diusahakan oleh kaum-laki-laki yang dianggap bertanggung jawab atas kepincangan sosial-ekonomi-hukum-politis di masyarakat itu khususnya yang menyangkut gender. Yang perlu diwaspadai adalah bila feminisme itu mengambil bentuk radikal melewati batas kodrati sebagai “gerakan pembebasan kaum perempuan” seperti yang secara fanatik diperjuangkan oleh “Women”s Lib.”

            Gerakan feminisme sudah berada di tengah-tengah kita, peran kaum perempuan yang cenderung dimarginalkan dalam masyarakat “patriachy” sekarang sudah mulai menunjukkan ototnya. Semua perlu terbuka akan kritik kaum perempuan yang dikenal sebagai penganut “feminisme” tetapi feminisme harus pula mendengarkan kritikan dari kaum perempuan sendiri maupun kaum laki-laki agar “persamaan” (equality) tidak kemudian menjurus pada “kebebasan” (liberation) yang tidak bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

(Empowering Women in Sports, The Empowering Women Series, No. 4; A Publication of the Feminist Majority Foundation, 1995)

http://www.feminist.org/sports/index.asp

https://karimsalman.wordpress.com/2010/05/06/hakikat-wanita-antara-gender-dan-kodrat-artikel-1-buletin-karim-salman-edisi-9/

http://ukfeminista.org.uk/2012/03/feminists-target-nike-ahead-of-olympics-over-firms-exploitation-of-women/

Olahraga itu Apa?

  1. Pendahuluan

            Pada dasarnya kita semua telah memahami bahwa olahraga merupakan salah satu media yang positif untuk mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan, salah satu diantaranya mengembangkan nilai-nilai sosial. Sebab dalam olahraga syarat dengan sejumlah aktivitas yang mencerminkan kehidupan yang sebenarnya, termasuk kehidupan dalam kaitannya dengan nilai-nilai sosial. Olahraga memainkan peranan penting dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat. Nilai nilai dalam olahraga sangat ter­kait dengan tradisi budaya masyarakat yang diwariskan secara turun menurun dari satu generasi ke generasi lainya. Karena itu, olahraga merefleksikan nilai-nilai sosial suatu masyarakat.

Olahraga dewasa ini kian meluas dan memiliki makna yang bersifat universal dan unik. Berawal dari sekedar kegiatan fisik yang menyehatkan badan, mengisi waktu luang, dan media eksistensi diri, akhirnya bergeser menjadi kegiatan yang multi kompleks, telah mempengaruhi dan dipengaruhi oleh fenomena-fenomena lain seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. Sebagai sebuah fenomena global sekaligus miniatur kehidupan, olahraga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek-aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kesehatan, nilai moral, dan Iain-lain. Disebut sebagai miniatur kehi­dupan karena aktivitas olahraga sangat sarat dengan gambaran-gambaran kehidupan yang sebenarnya. Tidak heran jika kian hari kedudukannya kian penting dan menempati tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat.

Aktivitas jasmani atau olahraga yang dilakukan secara teratur bagi manusia bisa menjadikan manusia seutuhnya, disepanjang kehidupan manusia selalu berusaha agar hidup lebih nyaman, lebih mudah, lebih ringan. Dorongan itu menyebabkan budaya olahraga menjadi lebih berkembang dikehidupan masyarakat pada masa sekarang ini. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan manusia seperti berjalan kaki, bersepeda, berolahraga, menulis, bekerja, pergi ke kantor, untuk menunjang kegiatan tersebut diharapkan seseorang mengembangkan faktor-faktor fisik yaitu dengan olahraga. Untuk sangat penting bagi kita untuk berolahraga, selain itu kita harus mengetahui makna olahraga itu sendiri. Baik secara definisi, pembagian, tujuan dan manfaat olahraga, sehingga kita akan selalu melakukan olahraga dengan kesadaran yang tinggi.

  1. Apa itu Olahraga.

            Salah satu pengertian olahraga berasal dari dua suku kata, yaitu Olah dan raga, yang berarti memasak atau memanipulasi raga dengan tujuan membuat raga menjadi matang (Ateng, 1993).  Olahraga adalah aktivitas yang memiliki akar eksistensi ontologism sangat alami, yang dapat diamati sejak bayi dalam kandungan sampai dengan bentuk-bentuk gerakan terlatih. Olahraga juga adalah permainan, senada dengan eksistensi manusiawi sebagai makhluk bermain (homo ludens-nya Huizinga). Olahraga merupakan kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial (Kemenegpora RI, 2010: 3)

            Pengertian menurut International Council of Sport and education yang dikutip oleh Lutan (1992:17) bahwa “Olahraga adalah kegiatan fisik yang mengandung sifat permainan dan berisi perjuangan dengan diri sendiri atau perjuangan dengan orang lain serta konfrontasi dengan unsur alam”. Selanjutnya Engkos Kosasih (1985:4) menyatakan bahwa “Olahraga adalah kegiatan untuk memperkembangkan kekuatan fisik dan jasmani supaya badannya cukup kuat dan tenaganya cukup terlatih, menjadi tangkas untuk melakukan perjuangan hidupnya”. Kemal dan Supandi (1990), mengungkapkan beberapa definisi olahraga ditinjau dari kata asalnya, yaitu:

  • Disport/Disportare, yaitu bergerak dari satu tempat ke tempat lain (menghindarkan diri). Olahraga adalah suatu permulaan dari dan yang menimbulkan keinginan orang untuk menghindarkan diri atau melibatkan diri dalam kesenangan (rekreasi).
  • Field Sport, mula-mula dikenal diInggris abad 18. Kegiatannya dilakukan oleh para bangsawan/aristokrat, terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menmbak dan berburu pada waktu senggang.
  • Desporter, berarti membuang lelah (bahasa Perancis).
  • Sport, sebagai pemuasan atau hobi.
  • Olahraga adalah latihan gerak badan untuk menguatkan badan, seperti berenang, main bola, dsb. Olahraga adalah usaha mengolah, melatih raga/tubuh manusia untuk menjadi sehat dan kuat.

            Olahraga adalah tontonan, yang memiliki akar sejarah yang panjang, sejak jaman Yunani Kuno dengan arete, agon, pentathlon sampai dengan Olympic Games di masa modern, di mana dalam sejarahnya, perang dan damai selalu mengawal peristiwa keolahragaan itu. Olahraga adalah fenomena multidimensi, seperti halnya manusia itu sendiri (Pramono, 2003:1). Crowell (1998: 113) dengan mengeksplorasi secara mendalam feneomena olahraga sebagai tontonan dan permainan, mengungkap sisi-sisi buramnya: brutalitas, agresifitas, dan “merusak kesehatan”. Dalam hal yang terakhir, olahraga disebutnya sebagai alat alamiah untuk “war ondrugs”, olahraga ditampilkan sebagai alternatif pengobatan ketika para praktisi terkemuka menemukan obat-obatan sebagai bagian alami dari gaya hidup atlit olahraga.

            Apabila di jaman Yunani Kuno atlitnya mendemonstrasikan atletik dengan keahlian yang langsung berimplikasi pada keseharian si atlit, di mana nilai-nilai keksatriaan dimunculkan, pada atlit sekarang keberanian sedemikian otonomnya, sehingga yang menampak adalah demonstrasi ketiadaartian kecakapan. Tontonan menawarkan individu-individu yang mengkonsentrasikan seluruh keberadaannya, ke dalam satu permasalahan. Individu-individu tersebut meniru apa yang oleh Nietzsche disebut “inverse cripples” (ketimpangan terbalik), di mana keberadaan manusia “kurang segala sesuatunya kecuali untuk satu hal yang mereka terlalu banyak memilikinya – keberadaan manusia yang adalah tak lain daripada mata besar, mulut besar, perut besar, segalanya serba besar” (Crowell, 1998: 115).

  1. Pembagian olahraga di Indonesia

            Berdasarkan undang-undang sistem keolahragaan No. 25 Tahun 2005, olahraga dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu olahraga pendidikan, olahraga prestasi dan olahraga rekreasi. Olahraga pendidikan diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan, yang dilaksanakan baik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal melalui kegiatan intrakurikuler dan/atau ekstrakurikuler. Olahraga pendidikan dimulai pada usia dini, yang dibimbing oleh guru/dosen olahraga dan dapat dibantu oleh tenaga keolahragaan yang disiapkan.  Olahraga rekreasi dilakukan sebagai bagian proses pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran. Olahraga rekreasi dapat dilaksanakan oleh setiap orang, satuan pendidikan, lembaga, perkumpulan, atau organisasi olahraga. Olahraga rekreasi bertujuan: a. memperoleh kesehatan, kebugaran jasmani, dan kegembiraan, b. membangun hubungan sosial; dan/atau, c.melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional.

             Olahraga prestasi dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi olahragawan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Olahraga prestasi dilakukan oleh setiap orang yang memiliki bakat, kemampuan, dan potensi untuk mencapai prestasi, dilaksanakan melalui proses pembinaan dan pengembangan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Untuk memajukan olahraga prestasi, Berdasarkan Rancangan Repelita IV (1983 / 1984 – 1988 / 1989), Olahraga dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi, antara lain berdasarkan:

  1. Berdasarkan cabangnya, Olahraga dapat dibagi menjadi beberapa cabang, antara lain adalah :
  2. Atletik adalah jenis olahraga yang menggunakan tenaga otot dan lebih mengutamakan ketangkasan dan kecepatannya.
  3. Senam adalah cabang olahraga yang mengutamakan gerakan– gerakan badan yang ditunjang dengan ketangkasan, keuletan, kelincahan serta latihan keseimbangan yang dinamis dan kelenturan tubuh..
  4. Permainan adalah cabang olahraga dimana hampir seluruh unsur gerakan tubuh manusia dipergunakan.
  5. Berdasarkan ruang kegiatannya, Olahraga dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain adalah :
  6. Olahraga in – door yaitu dimana cabang olahraga yang dimainkan dapat dilakukan di dalam ruangan saja dan tidak memerlukan tempat yang terbuka. Contohnya : bilyard, tenis meja, bowling, squash, senam, fitness, dan sebagainya.
  7. Olahraga out – door yaitu dimana cabang olahraga yang dimainkan hanya dapat dilakukan diluar ruangan dan membutuhkan tempat yang terbuka. Contohnya : Golf, lari, lompat jauh, voli pantai, sepak bola, pacuan kuda, kasti / softball, dan sebagainya.
  8. Olahraga semi in – door dan out – door yaitu dimana cabang – cabang olahraga yang dimainkan dapat dilakukan didalam ataupun diluar ruangan. Contohnya : bola basket, renang, badminton, voli, dan sebagainya.
  9. Mengapa Harus berolahraga?

            Olahraga pada dasarnya berisi kegiatan yang berorientasi pada gerak, pelaksanaannya tergantung pada kemampuan dan tujuan apa yang hendak dicapai oleh pelakunya, seperti yang dijelaskan oleh Giriwijoyo (1992 : 80): “Melalui aktivitas jasmani akan terjadi perubahan berupa pegaruh positif terhadap kesehatan. Sebaliknya, akibat yang negatif akan diperoleh jika olahraga itu dilakukan dengan cara yang salah”. Melalui perkembangan faktor-faktor fisik dengan kegiatan olahraga secara teratur akan menunjang kehidupan manusia. Mengenai tujuan olahraga Soudan dan Everett melakukan penelitian terhadap mahasiswa yang dikutip oleh Arma Abdulah (1994 : 23) adalah sebagai berikut:

  1. Memelihara kesehatan dan kondisi jasmani yang baik
  2. Memperoleh kesenangan dan kegembiraan
  3. Memperoleh kepercayaan diri
  4. Memperoleh latihan secara teratur
  5. Membentuk kebiasan menggunakan waktu untuk aktivitas yang
  6. menyenangkan
  7. Mencegah, mengetahui, dan mengoreksi kelemahan dan cacat jasmani

            Selanjutnya Deprtemen pendidikan dan kebudayaan (1984/1985: 47) sebagai berikut:

  1. Untuk mencari kesenangan (rekreasi)
  2. Untuk mengisi waktu luang
  3. Untuk kesehatan tubuh
  4. Untuk physical fitnees
  5. Untuk penyembuhan / pengobatan
  6. Untuk pembentukan tubuh / sikapg. Untuk mencapai prestasi
  7. Untuk prestise
  8. Untuk mencari nafkah
  9. Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan

      Olahraga bukanlah hal yang baru bagi manusia di era kontemporer seperti sekarang ini. Aktivitas fisik yang bertujuan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan sudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai sarana olall’agapun diciptakan untuk mendukung gaya hidup tersebut, mulai dari munculnya pusat-pusat kebugaran (fitness centers) hingga inovasi teknologi baru yang ditawarkan melalui iklan-iklan di media elektronik. Hal tersebut rnenjadi salah satu bukti bahwa olahraga bukan hanya satu hal yang penting, namun juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup manusia saat ini. Menurut Slamet (2006), Manfaat kegiatan olahraga terhadap sosial antara lain:

  1. Membina kerja sama. Olahraga bukan semata-mata kegiatan individu, tetapi juga kegiatan yang dapat dilakukan secara bersama-sama seperti halnya kegiatan senam, sepak bola, bola voli, dan sebagai.
  2. Belajar bergaul. Tidak setiap orang dapat bergaul dengan orang lain. Melalui kegiatan olahraga secara bersama-sama atau melibatkan orang banyak tidak menutup kemungkinan seseorang akan bergaul dengan orang lain.
  3. Meningkatkan saling pengertian dan hubungan emosional yang lebih baik.
  4. Kesimpulan

            Olahraga telah didefinisikan sebagai aktivitas yang melibatkan unsur sebagai berikut : (1). keterampilan fisik, (2) kompetensi institusional, dan (3) kombinasi antara motivasi instrinsik dan ekstrinsik pada setiap pelaku olahraga. Selain itu juga hal lain yang perlu dicermati adalah sisi lain dari olahraga sebagai wahana bermain, rekreasi, kontes, dan tontonan. Nilai-nilai dalam olahraga menjadi sebuah refleksi dari nilai-nilai masyarakat yang mana olahraga dapat mengajari nilai-nilai tersebut bagi para pelakunya atau para partisipannya. Olahraga memainkan peranan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi dalam pengajarannya tidak perlu harus selalu guru atau pelatih yang menyampaikannya.

Giriwijoyo (1992 : 80): “Melalui aktivitas jasmani akan terjadi perubahan berupa pegaruh positif terhadap kesehatan. Sebaliknya, akibat yang negatif akan diperoleh jika olahraga itu dilakukan dengan cara yang salah”.  Sehingga dalam melakukan aktifitas olahraga seseorang harus mengetahui olahraga apa yang akan diikutinya, tujuan dan manfaat yang ingin didapatkan. Olahraga bukanlah hal yang baru bagi manusia di era kontemporer seperti sekarang ini.

            Aktivitas fisik yang bertujuan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan sudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut rnenjadi salah satu bukti bahwa olahraga bukan hanya satu hal yang penting, namun juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup manusia saat ini. Aktivitas jasmani atau olahraga yang dilakukan secara teratur bagi manusia bisa menjadikan manusia seutuhnya, disepanjang kehidupan manusia selalu berusaha agar hidup lebih nyaman, lebih mudah, lebih ringan. Dorongan itu menyebabkan budaya olahraga menjadi lebih berkembang dikehidupan masyarakat pada masa sekarang ini. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan manusia seperti berjalan kaki, bersepeda, berolahraga, menulis, bekerja, pergi ke kantor, untuk menunjang kegiatan tersebut diharapkan seseorang mengembangkan faktor-faktor fisik yaitu dengan olahraga.

            Olahraga memainkan peranan yang sangat berarti dalam kehidupan budaya dari seluruh masyarakat dan benar-benar telah memberikan peranan yang berarti tidak hanya bagi masyarakat moderen, tetapi juga bagi masyarakat primitif. Jutaan manusia dewasa ini sering terlibat dalam kegiatan olahraga kompetitif atau kegiatan olahraga lainnya. Hanya terbilang sedikit masyarakat yang terjun kedunia olahraga professional. Olahraga Selain mengembangkan faktor fisik, olahraga juga mengembangkan faktor social, rohani, kompetisi dan organisasi.

.6. Daftar Pustaka

Ateng, Abdulkadir.1993, Pendidikan Olahraga. Jakarta : IKIP Jakarta

Arma Abdulah. 1994. Dasar-dasar pendidikan Jasmani. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Crowell, S.G., 1998, Sport as Spectacle and as Play: Nietzscheian Reflections, dalam International Studies in Philosophy.

Doty, Joseph. (2006). “Sports Build Charactef’, Jowrnal of College & Character. Volume VII,No. 3, April 2006

Giriwijoyo (1992 : 80), Manusia dan Olahraga. Bandung

Kemal dan Supandi (1990), Sosiologi Olahraga. FPOK IKIP Bandung

Kemenpora RI. (2010)- Undang-undang RI Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta: Biro Humas dan Hukum Kemenpora RI.

Kosasih, Engkos. (1983). Olahraga Teknik & Program Latihan. Jakarta: Akademika Pressindo.

Lutan, Rusli dan Sumardianto. (2000). Filsafat Olahraga. Jakafia: Depdiknas.

Pramono, Made., 2003. DASAR-DASAR FILOSOFIS ILMU OLAHRAGA (Suatu Pengantar). Jurnal Filsafat, Agustus 2003, Jilid 34, Nomor 2. UNESA : Surabaya.

Slamet., Suherman. 2006. Modul Bermain. UPI : Bandung

Catatan Lapangan (Penelitian Kualitatif)

BAB I

PENDAHULUAN

            Penelitian kualitatif mengandalkan pengamatan atau wawancara dalam pengumpulan data di lapangan, Pada waktu berada di lapangan peneliti membuat catatan, setelah pulang ke rumah atau tempat tinggal barulah menyusun catatan lapangan. Catatan yang dibuat di lapangan sangat berbeda dengan catatan lapangan. Catatan itu berupa coret-coretan yang sangat dipersingkat, berisis kata-kata inti, frase, pokok-pokok isi pembicaraan atau pengamatan, mungkin gambar, sketsa, sosiogram dan lain-lain.

Catatatan itu hanya berguna untuk alat perantara antara apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan diraba dengan catatan sebenarnya dalam bentuk catatan lapangan. Catatan itu baru diubah ke dalam catatan yang lengkap dan dinamakan catatan lapangan setelah penelitian tiba dirumah. Proses itu dilakukan setiap kali selesai mengadakan pengamatan, wawancara, tidak boleh dilalaikan karena akan tercampur dengan informasi lain dan ingatan seseorang itu sifatnya terbatas (Moelong, 2005:153)

Catatan lapangan terdiri dari dua suku kata, yakni catatan dan lapangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “catatan“ mengandung arti; hasil pencatatatan; peringatan. Sedangkan kata “lapangan” sebagai bentuk kata benda mengandung tiga arti, yakni tempat atau tanah yang luas (biasanya rata); alun-alun; medan; tempat (gelanggang) pertandingan (bulutangkis, bola voli, bola basket); atau bidang (pekerjaan, pengetahuan, dan sebagainya), (Pusat Bahasa,2008). Catatan lapangan secara bahasa berarti hasil mencatat suatu bidang pengetahuan.

Menurut Bogdan dan Biklen (1982) catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif (Moloeng, 2005:153). Selain itu catatan penelitian merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran (Septiadi, 2008).

Idrus (2007:85) juga berpendapat bahwa catatan lapangan merupakan catatan yang ditulis secara rinci, cermat, luas, dan mendalam dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti tentang aktor, aktivitas ataupun tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Dalam penjelasan yang lebih lengkap mengenai pemahaan Idrus berkenaan dengan pendapat Bogdan dan Binklen (1982) tentang makna catatan lapangan di atas, ia memahaminya sebagai hasil observasi atau wawancara yang bermakna lebih kolektif, karena terdiri dari catatan lapangan yang dibuat oleh peneliti sendiri, dan ditambahkan dengan hasil karya orang lain yang berupa transkrip wawancara (transkip wawancara ini mungkin saja merupakan hasil karya orang lain, karena si peneliti sendiri menyerahkan hasil rekamannya kepada seorang ahli yang telah terbiasa menulis transkip hasil wawancara, sehingga tidak perlu dirinya sendiri yang mentranskripkannya), dokumen resmi yang ada, statistik resmi, gambar, foto, rekaman video, ataupun catatan resmi lainnya yang dikeluarkan pihak yang terkait dengan situasi fokus penelitian (Idrus,2007:85).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

            Catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Menurut Mandolang (2007) catatan lapangan adalah tulang punggung riset aksi etnografis (ethnographic action research). Catatan lapangan adalah catatan yang dibuat peneliti dalam sebuah penelitian etnografi dari lapangan. Catatan tersebut dapat bersifat deskriptif (sesuai yang teramati) atau reflektif (mengandung penafsiran peneliti).

Adapun krakteristik catatan lapangan, yakni meliputi:

  1. Akurat
  2. Rinci, namun bukan berarti memasukkan semua data yang tidak berkaitan
  3. Luas, agar pembaca memahami situasi dijelaskan
  4. Data dapat menyediakan ikhtisar budaya atau pengaturan.
  5. Para pengamat harus melakukan lebih dari sekedar melakukan perekaman situasi sederhana

2. Bentuk Catatan lapangan

Menurut Moelong (2001:154) bentuk catatan lapangan pada dasarnya adalah wajah catatan lapangan yang terdiri dari halaman depan dan halaman-halaman berikutnya disertai petunjuk paragraf dan baris tepi.

1) Halaman Pertama

Menurut Lexy J. Moleong (2001:154) pada halaman pertama  setiap catatan lapangan diberi judul informasi yang dijaring, waktu yang terdiri dari tanggal dan jam dilakukannya pengamatan dan waktu menyusun catatan lapangan, tempat dilaksanakannya pengamatan itu, dan diberi nomor urut sebagai bagian dari seluruh perangkat catatan lapangan.

2) Alinea dan batas tepi

Alinea atau paragraf dalam catatan lapangan memegang peranan khusus dalam kaitannya dengan analisis data. Oleh karena itu, setiap kali menuliskan satu pokok persoalan, peneliti harus membuat alinea baru. Kemudian, batas tepi kanan catatan lapangan harus diperlebar dari biasanya karena akan digunakan untuk memberikan kode pada waktu analisis. Kode tersebut berupa nomor dan judul-judul tertentu. Atas dasar pemberian kode dengan judul-judul tersebut dapat diperkirakan berapa lembar batas tepi yang perlu disisakan. Menurut Idrus (2007:93) mengenai bentuk catatan lapangan pada dasarnya belum ada kesepakatan antar para ahli ethnografi tentang bagaimana bentuk catatan lapangan yang baik. Namun demikian sebagai persiapan tentang isi catatan lapangan itu harus memuat:

1) Judul atau tema yang ditulis

Penulisan tema ini penting agar memudah peneliti dalam membuat kategori-kategori. Tentu saja tema ini dapat diambil sesuai topik yang dibicarakan. Hanya saja perlu diingat tema tersebut tidak boleh lepas dari kerangka besar desain penelitian yang sedang dirancang.

2) Menjelaskan tentang kapan aktivitas itu terjadi (jam, tanggal, hari).

Peneliti hendaknya menuliskan secara rinci kapan suatu dialog itu terjadi lengkap denga tanggal, hari, jam saat di mulai dan saat wawancara itu selesai dilakukan. Proses ini berguna saat peneliti hendak melakukan uji keabsahan data. Dari catatan tersebut peneliti dapat memperkirakan kapan lagi jika suatu data hendak dilakukan keabsahannya.

3) Menyebutkan siapa yang terlibat dalam aktivitas itu (baik si pengamat maupun yang diamati).

Pada bagian ini sebutkanlah siapa yang diamati dan siapa yang berposisi sebagai pengamat. Menjelaskan aktivitas apa yang sedang terjadi. Paparkan aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh subyek. Penggambaran aktivitas ini penting agar peneliti dapat memahami perilaku sesuai konteks yang dialami oleh informan. Di mana aktivitas itu terjadi. Jelaskan di mana aktivitas itu berlangsung.

3. Model Catatan Lapangan

Dalam penjelasannya, Moleong mengungkapkan bahwa model suatu catatan lapangan membaginya ke dalam tiga macam, yakni catatan pengamatan, catatan teori, dan catatan metodologi (2001:154-156).

a. Catatan Pengamatan (CP)

Catatan pengamatan adalah pernyataan tentang semua yang dialami yaitu yang dilihat dan didengar dengan menceritakan siapa yang menyatakan atau melakukan apa dalam situasi tertentu (Moleong, 2001:155). Catatan pengamatan dilakukan selama tindakan berlangsung (Widyawati, 2008). Pernyataan tersebut tidak boleh berisi penafsiran, hanya merupakan catatan sebagaimana adanya dan pernyataan yang datanya sudah teruji kepercayaan dan keabsahannya.

Setiap catatan pengamatan mewakili peristiwa yang penting sebagai bagian yang akan dimasukkan ke dalam proposisi yang akan disusun atau sebagai kawasan suatu konteks atau situasi. Moleong (2001:155) menambahkan bahwa catatan pengamatan merupakan catatan tentang siapa, apa, bilamana, di mana, dan bagaiamana suatau kegiatan manusia. Hal itu menceritakan ”siapa mengatakan” atau ”melakukan apa” dalam kondisi tertentu.

Setiap catatan pengamatan merupakan suatu kesatuan yang menunjukkan adanya satu datum atau sesuatu yang sangat berkaitan atau menjelaskan peristiwa atau situasi yang ada pada catatan pengamatan lainnya. Jika catatan pengamatan itu merupakan kutipan, sebaiknya dikutip secara tepat.

b. Catatan Teori (CT)

Catatan teori yakni digunakan untuk menampung peneliti yang ingin mempersoalkan melebihi fakta. Catatan teori mewakili usaha yang terkontrol dan dilakukan secara sadar untuk memperoleh pengertian dari satu atau beberapa catatan pengamatan. Peneliti sebagai pencatatan senantiasa berpikir tentang apa yang dialaminya dan membuat pernyataan khusus tentang arti sesuatu yang dirasakannya sebagai sesuatu yang menghasilkan suatu pemikiran konseptual. Dengan demkian ia mulai menafsirkan, menyimpulkan, berhipotesis, bahkan berteori. Ia mulai mengembangkan konsep baru, menghubungkannya dengan konsep lama, atau menghubungkan antara sesuatu yang diamatinya dari segi lain yang akan menghasilkan suatu perubahan sosial.

c. Catatan Metodologi (CM)

Menurut Moleong (2001:156) catatan metodologi ialah pernyataan yang berisi tindakan operasional yang berpengaruh terhadap suatu kegiatan pengamatan yang direncanakan atau yang sudah diselesaikan. Jadi, catatan metodologi berupa instruksi-instruksi terhadap pengamat sendiri, peringatan, kritik terhadap taktiknya. Hal itu berisi soal waktu, penata urutan kegiatan, penetapan dan kestabilan langkah, pengaturan situasi dan tempat, cara pengamat berkelit dalam taktik, dan lain sebagainya. Catatan metodologi mempermasalahkan tindakan diri peneliti dan proses metodologinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

            Catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialamai, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitif (Moloeng,2005:153). Selain itu catatan penelitian merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran (Septiadi, 2008).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

—-http://andiprastowo.wordpress.com/2010/07/09/mengenal-teknik-catatan-lapangan-dalam-penelitian-kualitatif/ diakses pukul 12.10 tanggal 10 oktober 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Evaluasi Olahraga: Pelaporan evaluasi

Pelaporan Evaluasi

A. Rasional

Evaluasi merupakan kegiatan yang harus dikuasai oleh seorang guru, sebab jika terdapat kekeliruan melakukan evaluasi akan merugikan siswa yang dievaluasi. Maksudnya jika terjadi kesalahan dalam mengevaluasi, bisa terjadi siswa yang seharusnya lulus menjadi tidak lulus, atau sebaliknya, artinya akan terjadi kesalahan dalam penilaian terhadap siswa. Pada akhir proses evaluasi tentu ada suatu laporan. Laporan ini disebut pelaporan evaluasi yang memuat hasil nyata proses evaluasi. Sehingga perlu diperhatikan bahwa laporan ini sangat bermakna. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh guru, dan anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai. Mengingat betapa pentingnya pelaporan evaluasi, maka untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bahasan berikut ini.

B. Pembahasan

Defenisi, Tujuan dan Pelaporan

Pelaporan merupakan salah satu tahapan evaluasi yang amat penting. Pelaporan ini dibuat dan diberikan kepada siswa, orang tua siswa dan pihak sakolah. Pelaporan merupakan salah satu bukti diselenggarakannya evaluasi yang selanjutnya dipakai sebagai umpan balik yang sangat berguna. Pelaporan evaluasi dapat didefenisikan sebagai laporan akhir dari suatu proses kegiatan (dalam hal ini adalah pembelajaran peserta didik), yang mana kegiatan tersebut telah menjalani proses evaluasi. Tujuan pelaporan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana perkembangan, peningkatan, dan pencapaian kegiatan belajar peserta didik. Beberapa bentuk-bentuk pelaporan yang sering kita jumpai di sekolah-sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam:

1. Isi Laporan Isi laporan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu memuat:

• Nilai

• Data

• Data dan saran

• Nilai, data, dan saran

Sedangkan beberapa bentuk nilai yang biasanya diberikan oleh para guru penjas antara lain adalah:

• Dalam bentuk angka, misalnya: merentang dari 1 hingga 10

• Dalam bentuk huruf, misalnya: merentang dari A, B, C, D, dan E atau G

• Dalam bentuk kata

• Dalam bentuk prosentasi

• Dalam bentuk dua kelas dikotomi, misalnya: berhasil dan gagal. Dilihat dari sisi format laporan, paling tidak ada tiga format yang sering digunakan, yaitu format laporan tradisional, format kartu fortofolio, dan format gabungan atau modifikasi.

Kedua format terakhir biasanya berisikan data perkembangan kemajuan belajar siswa berikut saran-sarannya bagi orang tua siswa. Sementara itu format laporan tradisonal biasanya terbatas hanya pada melaporkan nilai saja. Format ini merupakan format tradisional yang sering kita jumpai di sekolah-sekolah dasar negeri di Indonesia.

2. Manfaat Laporan

Secara sistematis dapat dikemukakan bahwa laporan tentang siswa bermanfaat bagi beberapa pihak yaitu sebagai berikut:

1) Siswa sendiri

Bagi siswa, laporan kemajuan atau laporan prestasi akan sangat bermanfaat karena :

• Secara alamiah setiap orang selalu ingin tau akibat dari apa yang telah mereka lakukan, apakah hasil itu menggembirakan atau mengecewakan. Menurut Gestalt (Arikunto, 2009: 282) menyatakan “perbuatan-hasil” merupakan satu keseluruhan yang tidak terpisahkan. Dengan demikian, jika ada perbuatan tetapi belum ada hasil berarti kesatuan itu belum selesai dan manusia selalu menuntut keutuhannya.

• Dengan mengetahui hasil yang positif dari perbuatannya, maka pengetahuan yang diperoleh akan dikuatkan.

• Dengan mendapat informasi bahwa jawabannya salah, maka lain kali siswa tersebut tidak akan menjawab seperti itu lagi.

2) Guru yang mengajar

Seperti halnya siswa yang ingin tau akan hasil usahanya, guru-guru yang mengajar siswa pun pasti juga ingin tau hasil usaha yang telah dilakukannya terhadap siswa. Dengan melihat catatan laporan kemajuan, maka guru akan merasa tenang mengamati hasil tersebut. Daftar nilai yang disimpan oleh guru masih merupakan catatan sementara, dan masih bersifat rahasia. Tetapi laporan kemajuan siswa yang berupa raport atau STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) sudah merupakan laporan resmi yang bersifat tetap dan terbuka. Oleh karena laporan itu merupakan titik tolak bagi guru untuk menentukan langkah selanjutnya, maka laporan itu dibuat sejujur dan setepat mungkin. Amat disayangkan bahwa apa yang dicantumkan dibuku rapor kadang-kadang sudah tidak murni merupakan cermin siswa lagi karena sudah dibumbui oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan.

3) Guru lain Yang dimaksud dengan guru lain di sini adalah guru yang akan mengggantikan guru yang mengajar terdahulu karena siswa tersebut sudah naik kelas atau adanya perpindahan baik siswa yang pindah atau guru yang pindah dari tempat lain. Apabila tidak ada catatan atau laporan mengenai siswa, maka guru yang mengganti dan mengajar akan tidak tau bagaimana memperlakukan siswa tersebut.

4) Petugas lain di sekolah Siswa yang berada di suat sekolah, sebenarnya bukan hanya merupakan asuhan atau tanggung jawab guru yang mengajar saja. Kepala Sekolah, Wali Kelas dan Guru Pembimbing, ketiganya merupakan personal-personal penting yang juga memerlukan catatan tentang siswa. Dengan demikian maka hasil belajar siswa akan diperhatikan dan dipikirkan oleh beberapa pihak.

5) Orang tua Secara alamiah orang tua mempunyai tanggung jawab utama terhadap pendidikan anak. Akan tetapi karena berkembangnya pengetahuan secara pesat, meyebabkan orang tua kurang mampu menguasai seluruh ilmu yang ada. Ditambah juga dengan kesibukan orang tua mencari nafkah, maka tugas mendidik sebagian dilimpahkan kepada sekolah. Dengan menyerahkan ke sekolah bukan berarti orang tua dapat lepas pemikiran dan menyerahkan tanggungjawabnya kepada guru. Orang tua masih tetap merupakan penanggung jawab utama, dan masih pula menentukan cita-cita bagi anaknya. Itulah sebabnya maka orang tua masih ingin selalu mengetahui kemajuan anaknya dari hari ke hari, yang dapat dilihat melalui laporan yang diberikan oleh guru.

6) Pemakai lulusan Setiap siswa yang sudah lulus dari pendidikan, selalu membawa bukti bahwa ia telah memiliki suatu pengetahuan dan keterampilan tertentu. Namun pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari suatu sekolah, tidaklah sama bagi semua siswa. Ada siswa yang sangat berhasil, berhasil atau agak berhasil. Tingkat keberhasilan ini dinyatakan secara lengkap dalam laporan prestasi. Catatan tentang diri lulusan akan berguna baginya apabila:

1. Mencari pekerjaan Dengan gambaran yang tercantum dalam laporan, maka lapangan kerja akan mengetahui sesuai atau tidaknya bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh lulusan dengan tuntutan bagi pekerjaan/tugas yang akan diembannya.

2. Mencari kelanjutan studi Seperti halnya lapangan kerja, lembaga pendidikan yang merupakan kelanjutan dari lembaga di mana siswa belajar, juga menginginkan adanya catatan yang menggambarkan keadaan atau keberhasilan siswa selama menuntut ilmu. Catatan ini akan berguna untuk:

(1) Memupuk apa yang sudah berhasil di lembaga sebelumnya

(2) Mengatasi masalah yang ada, baik yang sudah dicoba untuk diatasi maupun yang belum.

3. Cara Membuat Laporan Pada dasarnya, catatan/laporan tentang diri siswa ini diusahakan selengkap mungkin agar dapat diperoleh informasi yang selengkapnya pula. Akan tetapi kita sadari bahwa membuat catatan yang lengkap setiap saat, merupakan tugas yang berat dan meminta banyak waktu. Oleh karena itu, pembuatan catatan/laporan ini kadang-kadang lalu disingkat, hanya disesuaikan dengan kondisi yang mendesak. Secara garis besar catatan/pelaporan evaluasi tentang siswa, dapat dibuat dengan dua macam cara, yakni sebagai berikut:

(1) Catatan lengkap

Catatan lengkap adalah catatan tentang siswa yang berisi baik prestasi maupun aspek-aspek pribadi yang lain, misalnya kejujuran, kebersihan, kerajinan, sikap social, kebiasaan bekerja, kepercayaan terhadap diri sendiri, disiplin, ketelitian dan sebagainya. Tentang isi catatannya ada yang dinyatakan dengan singkat seperti “Baik”, “Sedang”, “Kurang”, atau dengan keterangan yang lebih terperinci.

(2) Catatan tidak lengkap adalah catatan tentang siswa yang hanya berisi gambaran tentang prestasi siswa, dan hanya sedikit saja menyinggung tentang kepribadian. Tentang prestasi belajar siswa itu sendiri dapat dibedakan atas 2 cara:

• Dengan pernyataan lulus-belum lulus Penilaian atas prestasi belajar dalam system pengajaran yang menganut prinsip belajar tuntas didasarkan atas sudah berhasil atau belumnya seorang siswa dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini bahan pelajaran dibagi atas unit-unit kecil yang masing-masing unit sudah disertai dengan tujuan yang sudah dirumuskan secara terperinci. Apabila seorang siswa telah mencapai tujuan (paling sedikit 75% tujuan), maka pada unit tersebut diberi tanda (misalnya tanda silang), untuk membedakannya dari unit yang belum diselesaikan. Dengan demikian maka akan tergambar banyak sedikitnya unit yang telah diselesaikan per bidang studi. Gambaran inilah yang disebut profil keberhasilan siswa.

• Dengan nilai siswa Pencatatan dengan nilai dilakukan apabila seluruh siswa dalam suatu kelompok berjalan bersama-sama secara klasikal. Dengan demikian maka prinsip belajar tuntas sangat sukar dilaksanakan dan pencatatan nilai didasarkan atas nilai-nilai ulangan yang telah diikuti.

C. Karakteristik Tes

Agar pelaporan evaluasi itu berhasil dan teruji kebenarannya, maka saat proses evaluasi dilakukan harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Dan tes yang mana sebagai alat ukur dalam evaluasi harus memiliki karakteristik agar dapat dipercaya, diyakini penggunaan dan hasilnya. Karakteristik itu pada bab-bab sebelumnya telah dibahas, antaralain:

• Kehandalan (reliable) Apabila suatu tes diberikan kepada suatu kelompok sampel dan kemudian tes itu diberikan kembali pada waktu yang berlainan pada kelompok lain, jika hasil pertama dan kedua tetap, maka itu dikatakan reliable.

• Objektivitas Identik dengan kejujuran.

• Validity (ketepatan)

• Norma Suatu norma adalah suatu standard, di mana suatu skor yang diperoleh dapat dibandingkan dengan norma tes tersebut sehingga diketahui kedudukan skor yang diperoleh.

D. Kegiatan Pelaporan

Ada dua wadah untuk menyampaikan laporan evaluasi terhadap hasil belajar siswa, yakni:

1. Pertemuan dengan orang tua peserta didik.

2. Buku laporan kemajuan atau buku rapor.

E. Penutup

Pada akhir proses evaluasi tentu ada suatu laporan. Laporan ini disebut pelaporan evaluasi, yang memuat hasil nyata dari belajar siswa yang telah menjalani proses evaluasi. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh guru, aparat sekolah, dan anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai. Pelaporan evaluasi sangatlah penting. Pelaporan ini dibuat dan diberikan kepada siswa, orang tua siswa dan pihak sakolah. Pelaporan merupakan salah satu bukti diselenggarakannya evaluasi yang selanjutnya dipakai sebagai umpan balik yang sangat berguna. Pelaporan evaluasi dapat didefenisikan sebagai laporan akhir dari suatu proses kegiatan (dalam hal ini adalah pembelajaran peserta didik). Tujuan pelaporan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana perkembangan, peningkatan, dan pencapaian kegiatan belajar peserta didik. Isi laporan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu memuat: 1) nilai, 2) data, 3) data dan saran, 4) nilai, data, dan saran. Dilihat dari sisi format laporan, paling tidak ada tiga format yang sering digunakan, yaitu format laporan tradisional, format kartu fortofolio, dan format gabungan atau modifikasi. Dan pelaporan evaluasi ini ada yang dibuat dengan lengkap mencakup seluruh aspek tujuan/ranah pendidikan, dan ada yang tidak lengkap.

Disusun Oleh

 Desi Selvia Syahzi,S.Pd & Wahyu Nopianto,S.Pd

Evaluasi Proses Pembelajaran

 EVALUASI PENDIDIKAN

“EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN”

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pembelajaran sebagai suatu sistem yang memiliki berbagai komponen yang saling berinteraksi, berinterelasi dan berinterdependensi. Dimana salah satu komponen pembelajaran adalah evaluasi. Dalam sistem pembelajaran, evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh guru atau dosen untuk mengetahui keefektifan suatu pembelajaran. Hasil yang diperoleh suatu evaluasi dapat di jadikan feed back bagi pengajar untuk memperbaiki dan menyempurnakan program dalam kegiatan pembelajaran.

Evaluasi juga dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah. Ruang lingkup evaluasi pembelajaran dapat ditinjau dari berbagai perspektif, yaitu domain hasil belajar, sistem pembelajaran, proses dan hasil belajar serta kompetensi. Dalam tulisan ini hanya akan membahas evaluasi hasil belajar saja. Hal ini dimaksudkan agar guru atau dosen betul-betul dapat membedakan antara evaluasi pembelajaran dengan penilaian hasil belajar sehingga tidak terjadi kekeliruan atau tumpang tindih dalam penggunaannya.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru atau dosen dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi adalah suatu proses mengukur dan menilai (Uno, 2006). Sedangkan Bloom dalam Daryanto (2007) mengungkapkan bahwa evaluasi sebagaimana dapat dilihat adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam keyataan terdapat perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri siswa.

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan Sesuai pendapat Grondlund dan Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secaras sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran.

Untuk memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi.

Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi konteks, input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:

(1)perencanaan,

(2)pengumpulan data,

(3)verifikasi data,

(4)analisis data, dan

(5)interpretasi data.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai

B.Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

1).Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

2).Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.

3).Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.

4).Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik,guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:

a).Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.

b).Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.

c).Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.

C. Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. Oleh karena itu, pembahasan evaluasi hasil pembelajaran dengan lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil tes, juga secara khusus akan membahas pengembangan tes untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi.

1).Teknik Tes

Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinyapiring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.

Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.

Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:

a).Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.

b).Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.

Fungsi (a) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran, sedang fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.

2) Tes Menurut Tujuannya

Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi menjadi:

a).Tes Kecepatan (Speed Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. Waktu yang disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif singkat dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya.Tes yang termasuk kategori tes kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu alat.

b).Tes Kemampuan (Power Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif maupun psikomotorik. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan segala kemampuannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.

c).Tes Hasil Belajar (Achievement Test)

Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan. Tes Hasil Belajar (THB), baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.

d).Tes Kemajuan Belajar ( Gains/Achievement Test)

Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk mengetahui kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan kondisi akhir testi digunakan post-tes.

e).Tes Diagnostik (Diagnostic Test)

Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.

f).Tes Formatif

Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pembelajaran tertentu.

g).Tes Sumatif

Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti jumlah. Dengan demikian tes sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.

3).Bentuk Tes

Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis :

a).Tes lisan (oral test)

b).Tes tertulis (written test)

c).Tes tindakan atau perbuatan (performance test)

Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap.

D. PENDEKATAN ACUAN DALAM EVALUASI

Pendekatan merupakan sudut pandang seseorang dalam mempelajari sesuatu. Dengan demikian pendekatan evaluasi merupakan sudut pandang seseorang dalam menelaah atau mempelajari evaluasi. Uno (2006) menyatakan bahwa ada 2 (dua) jenis acuan penilaian dalam pengambilan keputusan saat evaluasi yaitu :
1. Penilaian acuan patokan (PAP)

Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik.  Dengan kata lain, kemampuan-kemampuan apa yang telah dicapai peserta didik sesudah menyelesaikan satu bagian kecil dari suatu keseluruhan program. Jadi penilaian acuan patokan meneliti apa yang dapat dikerjakan oleh peserta didik dan bukan membandingkan seseorang peserta didik dengan teman sekelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau patokan yang spesifik. Kriteria yang dimaksud adalah suatu tingkat pengalaman belajar yang diharapkan tercapai sesudah selesai kegiatan beljar atau sejumlah kompetensi dasar yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar berlangsung (Arifin, 2009).
Tujuan dari PAP adalah untuk mengukur secara pasti tujuan atau kompetensi yang ditetapkan sebagai kriteria keberhasilannya. PAP sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar sebab peserta didik diusahakan untuk mencapai standar yang telah ditentukan dan hasil belajar peserta didik dapat diketahui derajat pencapaiannya.

Dengan menggunakan PAP kita akan melakukan pengambilan keputusan yang mengacu pada nilai baku yang telah ditentukan terlebih dahulu sebelum ujian. Nilai baku ini merupakan kriteria kelulusan. Nilai baku tersebut dapat berupa persyaratan jumlah nilai misal ≥ 60 maka mahasiswa yang memiliki nilai 60 atau lebih dinyatakan lulus. Dapat juga nilai lulus tersebut berupa persyaratan jumlah sasaran belajar misalnya 5 sasaran belajar, yang artinya jika mahasiswa sudah mencapai 5 sasaran belajar berarti lulus. Dengan menggunakan PAP akan memungkinkan mutu pendidikan dapat dipertahankan. Hanya siswa yang dapat menyamai atau melampaui nilai baku yang dapat lulus.
2. Penilaian acuan norma (PAN)

Pada umumnya PAN dipergunakan untuk seleksi, disisi lain penggunaan PAN merupakan cara pengambilan keputusan dengan menggunakan norma kelas atau norma kelompok sebagai acuan pengambilan keputusan. Tujuan PAN adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Adapun norma ini tidak dapat ditentukan sebelum ujian tetapi justru setelah ujian ini terselenggara. Akan didapatkan kurva dengan rata-rata sebagai nilai rata-rata kelas ditetapkan sebagai norma kelulusan.

Dengan PAN ini maka jumlah kelulusan akan menjadi tinggi karena hasil tidak terikat pada nilai baku yang telah ditentukan terlebih dahulu. Namun standar mutu pendidikan dengan demikian akan menurun.Oleh sebab itu penggunaan PAN sulit untuk mengevaluasi standar mutu pendidikan, disamping PAN kurang memacu mahasiswa untuk mencapai prestasi tinggi. Oleh karena itu sebaiknnya PAN digunakan sebagai diagnostik maupun seleksi karena lebih tepat menggambarkan kemampuan umum mahasiswa dibandingkan dengan PAP.

BAB III

KESIMPULAN

BErdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa:

–          Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.

–          Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Selain itu yaitu Fungsi seleksi. Fungsi Penempatan. Fungsi Diagnostik.

–          Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati, Mudjiono., 2006, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Kiranawati, 2008, Evaluasi Pembelajaran,http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/, di ambil tanggal 26 April 2010.

Rusliana, Ade, 2007, Konsep Dasar Evaluasi Hasil Belajar, http://aderusliana.wordpress.com/2007/11/05/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar/, diambil tanggal 2 Mei 2010.

http://materibidan.blogspot.com/2010/05/evaluasi-hasil-pembelajaran.html

http://ventidanokarsa.blogspot.com/2009/05/evaluasi-pembelajaran.html