Feminimisme dalam Olahraga

  1. Sejarah Feminisme

            Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum perempuan itu akan selalu ada jika kaum perempuan tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah “mitra” melainkan sebagai pesaing dan musuh. Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan. Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriachal sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropah dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.

            Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk “;menaikkan derajat kaum perempuan”; tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul ´Vindication of the Right of Woman´ yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-40 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.

            Gelombang feminisme di Amerika Serikat mulai lebih keras bergaung pada era reformasi dengan terbitnya buku “The Feminine Mystique”; yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama ´National Organization for Woman´ (NOW) di tahun 1966 gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya ´Equal Pay Right´ (1963) sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ´Equal Right Act´ (1964) dimana kaum perempuan mempuntyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang.

            Gerakan perempuan atau feminisme berjalan terus, soalnya sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan. Di tahun 1967 dibentuklah ´Student for a Democratic Society´ (SDS) yang mengadakan konvensi nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama, dari sinilah mulai muncul kelompok ´feminisme radikal´ dengan membentuk ´Women´s Liberation Workshop´ yang lebih dikenal dengan singkatan ´Women´s Lib.´ Women´s Lib mengamati bahwa peran kaum perempuan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah. Di tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya ´Miss America Pegeant´ di Atlantic City yang mereka anggap sebagai ´pelecehan terhadap kaum wanita´ dan ´komersialisasi tubuh perempuan.´ Gema ´pembebasan kaum perempuan´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia.

  1. Macam-Macam Aliran Feminisme

2.1. Feminis Liberal

            Apa yang disebut sebagai Feminis Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki. Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai “Feminisme Kekuatan” yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.

            Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkan wannita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.

2.2. Feminisme Radikal

Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 70-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.

2.3. Feminisme Post Modern

Ide Posmo – menurut anggapan mereka – ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.

2.4. Feminisme Anarkis

Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

2.5. Feminisme Sosialis

Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang mendinginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender Dan lain sebagainya.

  1. MENGAPA ADA FEMINISME?

            Sebenarnya awal bangkitnya gerakan kaum perempuan itu banyak mendapat simpati bukan saja dari kaum perempuan sendiri tetapi juga dari banyak kaum laki-laki, tetapi perilaku kelompok feminisme radikal yang bersembunyi di balik “women´s liberation” telah melakukan usaha-usaha yang lebih radikal yang berbalik mendapat kritikan dan tantangan dari kaum perempuan sendiri dan lebih-lebih dari kaum laki-laki. Organisasi-organisasi agama kemudian juga menyatakan sikapnya yang kurang menerima tuntutan “Women´s Lib” itu karena mereka kemudian banyak mengusulkan pembebasan termasuk pembebasan kaum perempuan dari agama dan moralitasnya yang mereka anggap sebagai kaku dan buah dari ´agama patriachy´ atau ´agama kaum laki-laki.´

            Memang memperjuangkan kesamaan hak dalam memperoleh pekerjaan, gaji yang layak, perumahan maupun pendidikan harus diperjuangkan, dan bahkan pemberian hak-suara kepada kaum perempuan juga harus diperjuangkan, tetapi kaum perempuan juga harus sadar bahwa secara kodrati mereka lebih unggul dalam kehidupan sebagai pemelihara keluarga, itulah sebabnya adalah salah kaprah kalau kemudian hanya karena kaum perempuan mau bekerja lalu kaum laki-laki harus tinggal di rumah memelihara anak-anak dan memasak.

            Bagaimanapun kehidupan modern, kaum perempuan harus tetap menjadi ibu rumah tangga. Ini tidak berarti bahwa kaum perempuan harus selalu berada di rumah, ia dapat mengangkat pembantu atau suster bila penghasilan keluarga cukup dan kepada mereka dapat didelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga, tetapi sekalipun begitu seorang isteri harus tetap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dan rumah tangga tidak dilepaskan begitu saja.

Bila semula gerakan kaum perempuan “feminisme” itu lebih mengarah pada perbaikan nasib hidup dam kesamaan hak, kelompok radikal “Women´s Lib” telah mendorongnya untuk mengarah lebih jauh dalam bentuk kebebasan yang tanpa batas dan telah menjadikan feminisme menjadi suatu “agama baru.” Sebenarnya halangan yang dihadapi ´feminisme´ bukan saja dari luar tetapi dari dalam juga. Banyak kaum perempuan memang karena tradisi yang terlalu melekat masih lebih senang ´diperlakukan demikian,´ atau bahkan ikut mengembangkan perilaku ´maskulinisme´ dimana laki-laki dominan Sebagai contoh dalam soal pembebasan kaum perempuan dari ´pelecehan seksual´ banyak kaum perempuan yang karena dorongan ekonomi atau karena kesenangannya pamer justru mendorong meluasnya prostitusi dan pornografi. Banyak kaum perempuan memang ingin cantik dan dipuji kecantikannya melalui gebyar-gebyar pemilihan ´Miss´ ini dan ´Miss” itu, akibatnya usaha menghentikan yang dianggap ´pelecehan´itu terhalang oleh sikap sebagian kaum perempuan sendiri yang justru ´senang berbuat begitu.´

            Halangan juga datang dari kaum laki-laki. Kita tahu bahwa secara tradisional masyarakat pada umumnya menempatkan kaum laki-laki sebagai ´penguasa masyarakat,´ (male dominated society) bahkan masyarakat agama dengan ajaran-ajarannya yang orthodox cenderung mempertebal perilaku demikian. Kritikan prinsip yang dilontarkan pada feminisme khususnya yang radikal (Women´s Lib) adalah bahwa mereka dalam obsesinya kemudian ´mau menghilangkan semua perbedaan yang ada antara perempuan dan laki-laki.´ Jelas sikap radikal yang mengabaikan perbedaan kodrat antara kaum perempuan dan laki-laki itu tidak realistis karena faktanya toh berbeda dan menghasilkan dilema, sebab kalau kaum perempuan dilarang meminta cuti haid karena kaum laki-laki tidak haid pasti timbul protes, sebaliknya tentu pengusaha akan protes kalau kaum laki-laki diperbolehkan ikut menikmati ´cuti haid dan hamil´ padahal mereka tidak pernah haid dan tidak mungkin hamil.

            Dalam etika kehidupan-pun, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap kaum perempuan adalah kaum yang lebih lemah. Kita jumpai dalam setiap kejadian emergency, kebakaran, kecelakaan dan bencana lainnya. Para “team penolong” selalu akan menolong “women and children” lebih dahulu. Ini sebenarnya didasari atas rasa kemanusiaan saja bukan atas diskriminasi gender. Kesalahan fatal feminisme radikal ini kemudian menjadikan laki-laki bukan lagi sebagai mitra atau partner tetapi sebagai ´saingan´ (rival) bahkan ´musuh ´ (enemy)!´ Sikap feminisme yang dirusak citranya oleh kelompok radikal sehingga menjadikannya ´sangat eksklusif´ itulah yang kemudian mendapat kritikan luas.

Kritikan lain juga diajukan adalah karena dalam membela kaum perempuan dari sikap ´pelecehan seksual;´ mereka kemudian ingin melakukan kebebasan seksual tanpa batas, seperti ´Women´s Lib´ mendorong kebebasan seksual sebebas-bebasnya termasuk melakukan masturbasi, poliandri, hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak, lesbianisme, bahkan liberalisasi aborsi dalam setiap tahap kehamilan. Kebebasan ini tidak berhenti disini karena ada kelompok radikal yang ´menolak peran kaum perempuan sebagai Sungguh sangat disayangkan bahwa banyak tokoh-tokoh perempuan sendiri tidak mengakui “pekerjaan ibu rumah tangga sebagai profesi” dan menganggapnya lebih inferior daripada misalnya pekerjaan sebagai dokter, pengacara atau pengusaha, dalam sikap ini kita dapat melihat sampai dimana kuku feminisme radikal sudah pelan-pelan menusuk daging. Pernah ketika ada kunjungan Gorbachev, presiden Rusia waktu itu, yang berkunjung ke Amerika Serikat, isterinya “Raisa” bersama “Barbara”, isteri presiden Amerika Serikat George Bush Sr. , diundang untuk berbicara disuatu “Universitas perempuan yang terkenal.” Ketika keduanya berbicara, sekelompok perempuan yang bergabung dengan “women”s lib” meneriakkan yel-yel bahkan membawa poster yang mencemooh mereka karena mereka hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak bisa mempunyai karier sendiri. Bahkan, beberapa profesor perempuan menolak hadir karena merasa direndahkan bila mendengar pembicara perempuan yang hanya seorang ibu rumah tangga. Pembawa Acara, menanggapi kritikan-kritikan itu kemudian berkomentar bahwa “memang keduanya adalah ibu rumah tangga, tetapi karena dampingan keduanya, dua orang paling berkuasa di dunia dapat menciptakan kedamaian di dunia, suatu profesi luhur yang tiada taranya!”

  1. Feminisme dalam Olahraga

            Feminisme adalah gerakan untuk menghentikan tekanan pada perbedaan jenis kelamin (Hooks, 1984). Tantangan feminist terhadap kekuasaan dominasi pria dan kritik mereka terhadap sistem pengetahuan androsentris dalam industri budaya barat dimulai pada abad ke 18 (Anderson, Dovovon, 1985). Gerakan perempuan modern tahun 1960-an disertai oleh pertumbuhan pada “studi tentang perempuan” (atau studi feminis atau studi gender) di Australia, Canada, Eropa Barat, Scandinavia dan Amerika.

            Analisa feminis pada olah raga merupakan hal yang baru (messner & Sabo,1990). Pada tahun 1970-an para feminis mengkritik olah raga sebagai “institusi fundamental yang membedakan jenis kelamin, didominasi oleh pria dan berorintasi maskulin (Theberge, 1981). Tahun 1980-an bea siswa banyak diberikan untuk studi olah raga oleh feminis. Analisa mereka membongkar sejarah atletik perempuan, mengkaji perbedaan jenis kelamin dalam bidang sosialisasi olah raga dan menjelaskan bagaimana bentuk dominan institusi olah raga telah membuat dominasi pria dan menguntungkan pria atas wanita. Pemisahan dan tidak dihargainya atlet wanita menyebabkan dominasi struktural dan ideologi pria atas wanita.

            Teori feminisme mengembangkan batasan dan perhatian politis mereka di tahun 1980an. Mereka mulai memperhatikan hal lain selain gender, yaitu dominasi pada tingkatan sosial, ras, etnis, atau pilihan jenis kelamin. Singkatnya, studi feminis menjadi lebih kritis, yaitu pada teoritis yang mengkonsepsikan hubungan gender dalam olah raga dan kaitannya dengan sistem dominasi, hubungan kekuasaan yang tumpang tindih dan perjuangan kebebasan.  Dalam edisi ini M. Ann Hall mengajak pembaca untuk mengikuti perubahan pemikiran feminis dalam studi olah raga. Fokunya pada tulisan-tulisan sosiologi tentang olah raga dan gender sejak tahun 1988 dan menjelaskan bahwa teori dan riset menuju “analisa hubungan” dan perkembangan “studi budaya feminis.” Dijelaskan pula kecenderungan pada teori feminis yang beralih dari riset deskriptif menuju analisa olah raga sebagai “representasi budaya atas hubungan sosial” yang “secara sejarah, sosial dan budaya dibentuk untuk melayani kebutuhan kelompok yang kuat dalam masyarakat.”

            Menurut Hall studi budaya sulit dijelaskan atau dimengerti. Bennett (1992) secara umum menganggap studi budaya sebagai “istilah untuk memudahkan penempatan posisi pada teori dan politik yang meskipun berbeda pada aspek lain tapi mempunyai komitmen yang sama dalam mengkaji praktek budaya dalam pandangan interaksi mereka dengan dan dalam kaitannya dengan kekuasaan.” Seperti feminisme, studi budaya juga merupakan gerakan intelektual internasional yang berasal dari perbedaan budaya dan pandangan teoritis. Studi budaya dijelaskan sebagai “antar disiplin ilmu, multidisiplin ilmu dan antidisiplin ilmu” (Nelson, dkk. 1992).

            Sosiologi tradisional cenderung menerima berbagai bentuk determinisme (seperti bentuk struktural atau ekonomi yang menetukan kejadian atau perilaku), para peneliti budaya menyadari adanya pengaruh manusiawi dan tantangan politis dalam kehidupan sosial. Fische (1992) mengatakan,”tingkatan sosial membatasi dan menekan orang, namun juga memberikan sumber daya untuk menentang batasan tersebut.” Seperti halnya studi feminisme, studi budaya juga bukan hanya kegiatan akademis, namun bertujuan untuk secara politis berpartisipasi dan merubah dunia sosial yang ditelitinya. Untuk itu Hall menulis,”Sosiologi, termasuk juga sosiologi olah raga dan hobi, harus secara politis berguna dan tidak boleh ada dikotomi antara fungsi seseorang sebagai warga dan sebagai ilmuwan.”

            Adanya kaitan antara studi budaya dan teori feminis, menunjukkan adanya perkembangan ketergantungan secara global. Studi budaya feminisme memiliki pandangan-pandangan teoritis dan pendekatan-pendekatan metodologi yang melewati batas antar negara, politik dan budaya. Hubungan antara studi budaya dan sosiologi olah raga ini memberikan pengertian akan proses globalisasi melalui analisa perubahan hubungan antara budaya dominan dan yang didominasinya, pemisahan antara pria dan wanita serta perbedaan warna kulit.

               Wanita pertama mengambil bagian dalam Olimpiade 1900, dengan 22 wanita bersaing hanya golf dan tenis. Sejak saat itu, partisipasi perempuan dalam permainan telah perlahan-lahan, tapi pasti, meningkat. Dalam Olimpiade London 2012, wanita terdiri lebih dari 44% dari peserta. Para wanita AS memperoleh 58 medali dalam semua, termasuk 29 Gold – lebih dari orang-orang AS. Jumlah acara olahraga Olimpiade untuk wanita juga meningkat, dengan tinju perempuan akhirnya diterima oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk 2012. Meskipun kemajuan dalam partisipasi perempuan, ketidakadilan dalam pengobatan lanjutan. Pada tahun 2010, The International Boxing Association menyarankan wanita harus mengenakan rok untuk membantu “membedakan” mereka dari laki-laki, karena semua pejuang memakai tutup kepala.

                Pada Oktober 2011 kejuaraan dunia, Polandia Boxing membuat rok wajib, mengatakan mereka lebih “elegan.” Pada tahun 2012, Komite Olimpiade London membuat rok opsional, namun kontroversi terus. Buti perempuan, bahkan final medali emas, semua dijadwalkan untuk sore – sedangkan slot waktu malam perdana diisi oleh serangan pria. Serangan perempuan itu pada hari-hari berturut-turut, sedangkan laki-laki mendapat hari istirahat antara perkelahian.         Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak diberlakukannya Judul IX, federal melarang hukum diskriminasi seks dalam pendidikan yang didanai pemerintah federal, termasuk atletik. Sebagai hasil dari Judul IX, perempuan dan anak perempuan mendapat keuntungan dari lebih banyak kesempatan partisipasi atletik dan fasilitas yang lebih adil. Karena Judul IX, lebih banyak perempuan telah menerima beasiswa atletik dan dengan demikian peluang untuk pendidikan tinggi bahwa beberapa mungkin belum mampu membayar sebaliknya. Selain itu, karena dari Judul IX gaji pelatih untuk tim perempuan meningkat. Tapi perempuan dan atlet perempuan belum mencapai paritas dengan laki-laki. Perempuan masih hanya sekitar sepertiga dari atlet antarsekolah dan antar perguruan. Selain itu, atlet perempuan perguruan tinggi menerima kurang dari 26% dari anggaran operasional perguruan tinggi olahraga ‘, dan kurang dari 28% dari perguruan tinggi merekrut uang (Perempuan Yayasan Olahraga, 1101).

               1978 Amatir Olahraga Act, memerlukan Komite Olimpiade Amerika Serikat dan yang Badan Nasional Pemerintahan untuk beroperasi di non-seks secara diskriminatif untuk setiap olahraga. Pada tahun 1998, Ted Stevens Olimpiade dan Amatir Olahraga Undang revisi UU Amatir Olahraga dengan menghilangkan persyaratan yang bersaing dalam olahraga yang paling internasional diperlukan statusnya amatir. Hal ini juga memperluas peran Amerika Komite Olimpiade Amerika (USOC) untuk menyertakan Paralimpiade dan peningkatan representasi atlet perempuan. Tapi tidak seperti Judul IX untuk atlet AS, undang-undang ini tidak memberikan jalur hukum terhadap Komite Olimpiade Nasional (NOC) karena gagal untuk mengatasi masalah kesetaraan gender.

               Meskipun Dewan USOC Direksi telah menjadi lebih jender yang seimbang, tidak banyak yang berubah untuk 134 anggota (termasuk anggota kehormatan) Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang hanya 24 anggota perempuan pada 2012. IOC dan NOC harus terus meningkat partisipasi perempuan dalam olahraga Olimpiade dan Paralimpiade, dengan penekanan pada kesetaraan gender dalam peran kepemimpinan bagi perempuan. Setiap empat tahun, IOC menyelenggarakan konferensi dunia tentang Perempuan dan Olahraga. Konferensi terakhir diadakan pada bulan Februari 2012 di Los Angeles, California. Para delegasi dengan suara bulat menyetujui “The Los Angeles Deklarasi,” serangkaian rekomendasi yang bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan gender dalam olahraga dan menggunakan olahraga sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan wanita di seluruh dunia.Meskipun banyak prestasi, masih ada diskriminasi seks. Meskipun Olimpiade 2012 adalah yang pertama di mana hampir setiap negara mengirimkan setidaknya satu wanita, banyak negara Muslim masih mencegah atlet wanita dari bersaing di depan umum.               Setelah Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2013, Anita DeFrantz, Ketua Perempuan dan Olahraga Komisi IOC, berbicara pada Sidang ke-57 Komisi PBB tentang Status Perempuan untuk menyoroti peran olahraga dalam upaya untuk menghilangkan dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di dunia.Meskipun kemajuan perempuan, lebih harus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam Olimpiade dan Paralimpiade olahraga dan meningkatkan jumlah kejadian perempuan yang memenuhi syarat itu. Dengan pengecualian dari AS, sebagian besar negara mendukung dan mendanai Tim Olimpiade. Atlet AS didanai oleh sumbangan dari perusahaan dan individu.               Aspek lain dari olahraga dan perempuan adalah kekerasan terhadap perempuan terkait dengan olahraga kontak seperti sepak bola, basket, rugby, dan hoki es. Kasus O.J. Simpson telah melatih perhatian pada hubungan antara atlet laki-laki dan kekerasan terhadap perempuan. Mariah Burton Nelson, dalam bukunya The Stronger Perempuan Dapatkan, Lebih Men Cinta Football, menunjukkan bahwa pelatih olahraga ini sering menasihati pemain untuk tampil lebih baik dengan mengatakan kepada mereka untuk tidak 6 4 banci “atau” anak perempuan. “Dia mengutip lagu rugby yang menggambarkan kekerasan terhadap perempuan, dan berbicara tentang wanita-merendahkan bahasa yang digunakan oleh pemain olahraga kontak. Pemain mengejek tim lawan dengan menyebut mereka “anak perempuan.” Menjadi baik di olahraga ini, dengan kata lain, terkait dengan menempatkan perempuan ke bawah. Wanita tidak dilihat sebagai sesama atlet harus dihormati.               Sementara atlet ini berbicara tentang perempuan dalam kekerasan, menurunkan istilah, adalah laki-laki atlet lebih mungkin untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan? Sebuah studi baru-baru ini siswa-atlet di sepuluh Divisi I universitas menunjukkan bahwa sementara atlet laki-laki terdiri hanya 3,3% dari populasi universitas laki-laki, mereka adalah 19% dari siswa dilaporkan untuk kekerasan seksual. Dari laki-laki siswa-atlet S dilaporkan untuk kekerasan seksual, 67% adalah sepak bola atau basket pemain. Studi lain oleh Mary Koss dan John Gaines di University of Arizona juga menunjukkan ada hubungan antara laki-laki atlet dan kekerasan terhadap perempuan. Menurut survei dari 530 orang sarjana di Universitas Arizona, mahasiswa laki-laki perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam atletik resmi sedikit lebih mungkin merasa bermusuhan terhadap perempuan, dan untuk terlibat dalam agresi seksual, dibandingkan laki-laki lain. Prediktor terbaik agresi seksual dan permusuhan terhadap perempuan adalah alkohol yang tinggi dan use.56 nikotin               Namun perguruan tinggi dan pemain sepak bola profesional yang melakukan kekerasan seksual sering mendapatkan perlakuan khusus oleh polisi, hakim, dan otoritas olahraga, menurut sebuah artikel Washington Post. Sebagai contoh, NFL biasanya tidak menangguhkan pemain yang telah dihukum karena kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau kekerasan lainnya, dan pemain ini sering tidak kehilangan kontrak dukungan menguntungkan either.57 Dengan mendorong anak-anak untuk menjadi agresif, atlet kekerasan, dan dengan mendorong gadis-gadis untuk menghibur bagi mereka, kami mengabadikan siklus agresi laki-laki dan kekerasan terhadap perempuan.

  1. Penutup

Dibalik kritikan yang ditujukan terhadap “Women”s Lib” khususnya dan “Feminisme” umumnya, kita perlu melakukan introspeksi karena sebenarnya “feminisme” itu timbul sebagai reaksi atas sikap kaum laki-laki yang cenderung dominan dan merendahkan kaum perempuan. Ini terjadi bukan saja di kalangan umum tetapi lebih-lebih di kalangan yang meng “atas namakan” agama memang sering berperilaku menekan kepada kaum perempuan.

Dalam menyikapi “feminisme” sebagai suatu gerakan, kita harus berhati-hati untuk tidak menolaknya secara total, sebab sebagai “gerakan persamaan hak” harus disadari bahwa usaha gerakan itu baik dan harus didukung bahkan diusahakan oleh kaum-laki-laki yang dianggap bertanggung jawab atas kepincangan sosial-ekonomi-hukum-politis di masyarakat itu khususnya yang menyangkut gender. Yang perlu diwaspadai adalah bila feminisme itu mengambil bentuk radikal melewati batas kodrati sebagai “gerakan pembebasan kaum perempuan” seperti yang secara fanatik diperjuangkan oleh “Women”s Lib.”

            Gerakan feminisme sudah berada di tengah-tengah kita, peran kaum perempuan yang cenderung dimarginalkan dalam masyarakat “patriachy” sekarang sudah mulai menunjukkan ototnya. Semua perlu terbuka akan kritik kaum perempuan yang dikenal sebagai penganut “feminisme” tetapi feminisme harus pula mendengarkan kritikan dari kaum perempuan sendiri maupun kaum laki-laki agar “persamaan” (equality) tidak kemudian menjurus pada “kebebasan” (liberation) yang tidak bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

(Empowering Women in Sports, The Empowering Women Series, No. 4; A Publication of the Feminist Majority Foundation, 1995)

http://www.feminist.org/sports/index.asp

https://karimsalman.wordpress.com/2010/05/06/hakikat-wanita-antara-gender-dan-kodrat-artikel-1-buletin-karim-salman-edisi-9/

http://ukfeminista.org.uk/2012/03/feminists-target-nike-ahead-of-olympics-over-firms-exploitation-of-women/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s