Tantangan Dunia Pendidikan dalam Menghadapi Globalisasi

  1. Pendahuluan

            Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat.

            Melalui globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri. Pendidikan model ini juga membuat siswa memperoleh keterampilan teknis yang komplit dan detil, mulai dari bahasa asing, komputer, internet sampai tata pergaulan dengan orang asing dan lain-lain. sisi positif lain dari liberalisasi pendidikan yaitu adanya kompetisi. Sekolah-sekolah saling berkompetisi meningkatkan kualitas pendidikannya untuk mencari peserta didik.

            Globalisasi seperti gelombang yang akan menerjang, tidak ada kompromi, kalau kita tidak siap maka kita akan diterjang, kalau kita tidak mampu maka kita akan menjadi orang tak berguna dan kita hanya akan jadi penonton saja. Akibatnya banyak Desakan dari orang tua yang menuntut sekolah menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional dan desakan dari siswa untuk bisa ikut ujian sertifikasi internasional. Sehingga sekolah yang masih konvensional banyak ditinggalkan siswa dan pada akhirnya banyak pula yang gulung tikar alias tutup karena tidak mendapatkan siswa.

            Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

 

 

  1. Pembahasan

2.1. Guru Dalam Globalisasi Pendidikan

Mengingat bahwa dalam era global, pendidikan nasional harus pula memperhatikan perkembangan yang terjadi secara internasional, maka kajian kompetensi  guru sebagai  unsur  pokok  dalam  penyelenggaraan  pendidikan  formal, perlu  pula  mempertimbangkan  bagaimana kompetensi guru dibina dan dikembangkan pada beberapa negara lain. Departemen Pendidikan dan Latihan Australia Barat (Department of Education and Training, Western Australia) menentukan kerangka kompetensi untuk guru dengan menerbitkan Compentncy Framework For Teachers. Standar kompetensi guru ditentukan dalam tiga fase yang merupakan suatu kontinu dalam praktek pembelajaran.  Fase tersebut  bukan merupakan  sesuatu  yang dinamik dan bukan merupakan  suatu bentuk penjenjangan  atau lama waktu bertugas. Misalnya seorang  guru  yang  baru  bertugas,  mampu menunjukkan kompetensinya dalam bebarapa indikator dalam setiap fase. Berdasarkan hal itu guru tersebut dapat menentukan sendiri kompetensi apa yang belum dikuasai, baik pada fase pertama, kedua maupun ketiga, dan kemudian berusaha untuk   dapat melaksanakan kompetensi dengan berbagai cara yang dimungkinkan.

Di  Amerika  Serikat,  masing-masing  negara  bagian  mempunyai  ketentuan dalam memberikan lisensi kepada guru baru. Sedangkan untuk guru berpengalaman diterbitkan panduan oleh National Board for Professional Teaching Standards. Panduan ini sifatnya sukarela, tidak ada keharusan bagi negara bagian untuk menggunakan dalam memberikan   pengakuan atas kompetensi guru. Panduan tersebut diterbitkan dengan judul What Teachers Should Know and Be Able to Do (apa  yang  perlu  dipahami  dan  mampu  dilaksanakan oleh guru). Proposisi inti tentang kompetensi guru meliputi: (1) Guru mempunyai komitmen terhadap siswa dan belajar mereka; (2) Guru menguasai materi yang pelajaran dan cara mengajarnya; (3) Guru bertanggung jawab dalam mengelola dan memonitor belajar siswa; (4) Guru berpikir secara sistematik mengenai tugasnya dan    belajar dari pengalamannya; dan (5) Guru menjadi anggota dari masyarakat belajar.

Berkaitan dengan pelaksanaan  pembelajaran,  guru  perlu  memperhatikan bahwa siswa memiliki berbagai potensi dalam dirinya. Di antaranya rasa ingin tahu dan  berimajinasi, dua  hal  ini  adalah  potensi yang  harus  dikembangkan   atau distimulasi melalui kegiatan  pembelajaran. Karena kedua hal tersebut adalah modal dasar bagi berkembangnya  sikap berpikir kritis dan kreatif. Sikap berpikir kritis dan kreatif adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Agar mampu berpikir kritis dan kreatif,  sifat rasa  ingin  tahu dan berimajinasi  yang  sudah  dimiliki  siswa  perlu dikembangkan.   Untuk  mengembangkan   kedua  sifat  yang  dimiliki  siswa  tersebut secara optimal perlu diciptakan suasana pembelajaran yang bermakna.

Di lain pihak, perlu diperhatikan  bahwa  para siswa berasal  dari lingkungan keluarga   yang  bervariasi   dan  memiliki   kemampuan   yang  berbeda. Perbedaan individual  perlu  diperhatikan  dan  harus  tercermin  dalam  kegiatan  pembelajaran. Semua siswa dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda  sesuai  dengan  kecepatan  belajarnya.  Siswa  yang  memiliki  kemampuan lebih  dapat  dimanfaatkan  untuk  membantu  temannya  yang  lemah  (tutor  sebaya). Dengan  mengenal  kemampuan  siswa,  guru  dapat  membantunya  bila  mendapat kesulitan sehingga siswa tersebut belajar secara optimal.

Ruang  kelas  yang  menarik  merupakan  hal yang  sangat  disarankan  dalam pembelajaran.  Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas   seperti   itu.   Selain   itu,   hasil   pekerjaan   yang   diapajangkan   diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Benda  yang dipajangkan  dapat berupa  hasil kerja perorangan,  berpasangan,  atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan   dan   sebagainya.   Ruang   kelas   yang   penuh   dengan   pajangan   hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

Selain  itu,  lingkungan  (fisik,  sosial  atau  budaya)  merupakan  sumber  yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan  dapat berperan  sebagai media belajar,  tetapi juga sebagai  objek kajian (sumber  belajar).  Penggunaan  lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar. Belajar dengan  menggunakan   lingkungan   tidak  harus  selalu  keluar  kelas.  Bahan  dari lingkungan   dapat  dibawa  ke  ruang  kelas  untuk  menghemat   biaya  dan  waktu.

Mutu  hasil  belajar   akan  meningkat   bila  terjadi   interaksi   dalam  belajar. Pemberian  umpan  balik  dari  guru  kepada  siswa  merupakan  salah  satu  bentuk interaksi   antara   guru   dan   siswa.   Umpan   balik   hendaknya   lebih   mengungkap kekuatan  daripada  kelemahan  siswa. Selain itu, cara memberikan  umpan balikpun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan  siswa  dan  memberikan  komentar  dan  catatan.  Catatan  guru  berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan  diri siswa dari hanya sekedar angka.

Berdasarkan uraian tersebut kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan  yang dimaksud  dalam  pengkajian   ini adalah  seperangkat  karakteristik umum  dari  kinerja  seseorang  guru  dalam  bentuk  pelaksanaan  prosedur pembelajaran  dalam  menyajikan  bahan  ajar  yang  bersifat  mendasar  dan  umum. Indikator  dari  kompetensi  mengelola  pembelajaran   tersebut  meliputi  kompetensi dalam  mendemonstrasikan:  (1) memulai  pelajaran;  (2) mengelola  kegiatan  belajar dan  pembelajaran  termasuk;  (3)    mengorganisasikan   waktu,  siswa  dan  fasilitas belajar; (4) melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar; serta (5) menutup pelajaran.

Dari beberapa pendapat tentang kompetensi guru tersebut, pada penelitian ini baru meliputi kompetensi pedagogik dengan indikator-indikator: menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar dan pembelajaran siswa, serta pengawasan dan tindak lanjut hasil pembelajaran; serta kompetensi  profesional  guru,  dengan  indikator:  guru  komitmen  terhadap  belajar siswa, guru menguasai  materi pembelajaran  secara  luas, guru bertanggung  jawab mengatur dan memonitor belajar siswa, guru belajar reflektif dari apa yang dilakukan, serta guru adalah bagian dari warga belajar.

2.2. Tantangan Pendidik dalam Globalisasi Pendidikan

            Globalisasi, menurut Stiglitz (2003), merupakan interdependensi yang tidak simetris antar negara, lembaga dan aktornya. Karena itu interdependensi antar Negara yang seperti tersebut lebih menguntungkan negara yang memiliki keunggulan ekonomi dan teknologi. Padahal, pada awalnya globalisasi bertujuan untuk membuka perluang bagi Negara-negara berkembang untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui perdagangan global.

            WTO telah mengidentifikasi 4 mode penyediaan jasa pendidikan sebagai berikut: (1) Cross-border supply, institusi pendidikan tinggi luar negeri menawarkan kuliah-kuliah melalui internet dan on-line degree program, atau Mode 1; (2) Consumption abroad, adalah bentuk penyediaan jasa pendidikan tinggi yang paling dominan, mahasiswa belajar di perguruan tinggi luar negeri atau Mode 2; (3) Commercial presence, atau kehadiran perguruan tinggi luar negeri dengan membentuk partnership, subsidiary, twinning arrangement dengan perguruan tinggi lokal., atau Mode 3, dan (4) Presence of natural persons, dosen atau pengajar asing mengajar pada lembaga pendidikan lokan, atau Mode 4. Liberalisasi pendidikan tinggi menuju perdagangan bebas jasa yang dipromosikan oleh WTO adalah untuk mendorong agar pemerintah negara-negara anggota tidak menghambat empat mode penyediaan jasa tersebut dengan kebijakan-kebijakan intervensionis.

            Perlu disadari bersama bahwa globalisasi bukanlah merupakan suatu proses alami melainkan suatu proses yang dimunculkan berdasarkan gagasan, yang selanjutnya ditawarkan kepada dunia untuk diikuti oleh bangsa lain. Dengan demikian, globalisasi yang telah menghasilkan kesepakatan bersama sangat syarat dengan muatan kepentingan dan keuntungan bagi yang menciptakan. Proses globalisasi yang telah berlangsung pada semua bidang kehidupan (seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosiologi, kebudayaan pertahanan keamanan, politik internasional dan lain-lain) akan memberikan dampak negatif pada negara-negara yang tidak memiliki jatidiri yang jelas. Adanya globalisasi sudah barang tentu akan memunculkan negara-negara sebagai subyek dan objek yang masing-masing perannya sangat berbeda.

            Banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya. Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi pendidikan sekolah (Tanje, 2008). Mastuhu dalam Wicaksono (2008) mengemukakan bahwa Globalisasi sering diterjemahkan “mendunia” atau “mensejagat”.

            Sesuatu entitas, betapapun kecilnya, disampaikan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun, dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia, baik berupa ide, gagasan, data, informasi, produksi, temuan obat-obatan, pembangunan, pemberontakan, sabotase, dan sebagainya; begitu disampaikan, saat itu pula diketahui oleh semua orang di seluruh dunia. Hal ini biasanya banyak terjadi di lingkungan politik, bisnis, atau perdagangan, dan berpeluang mampu mengubah kebiasaan, tradisi, dan bahkan budaya. Menurut pendapat Scholte (2002) dalam Suroso (2010) menyatakan bahwa setidaknya ada lima kategori pengertian globalisasi yang umum ditemukan dalam literatur. Kelima kategori definisi tersebut berkaitan satu sama lain dan kadangkala saling tumpang-tindih, namun masing-masing mengandung unsur khas yang dapat dikemukakan sbb.

  1. Globalisasi sebagai internasionalisasi

            Globalisasi dipandang sebagai sebuah kata sifat (adjective) untuk menggambarkan hubungan antar-batas dari berbagai negara. Ia menggambarkan pertumbuhan dalam pertukaran dan interdependensi internasional. Semakin besar volume perdagangan dan investasi modal, maka ekonomi antar-negara semakin terintegrasi menuju ekonomi global di mana ekonomi nasional yang distingtif dilepas dan diartikulasikan kembali kedalam suatu sistem melalui proses dan kesepakatan internasional

  1. Globalisasi sebagai liberalisasi

            Dalam pengertian ini, globalisasi merujuk pada sebuah proses penghapusan hambatan-hambatan yang dibuat oleh pemerintah terhadap mobilitas antar negara untuk menciptakan sebuah ekonomi dunia yang terbuka dan tanpabatas. Mereka yang berpendapat pentingnya menghapus hambatan-hambatan perdagangan dan kontrol modal biasanya berlindung di balik mantel globalisasi.

  1. Globalisasi sebagai universalisasi

            Dalam konsep ini, kata global digunakan dengan pemahaman bahwa proses mendunia dan globalisasi merupakan proses penyebaran berbagai obyek dan pengalaman kepada semua orang ke seluruh penjuru dunia. Contoh klasik dari konsep ini adalah penyebaran teknologi komputer, televisi, internet, dll.

  1. Globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi (lebih dalam bentuk yang Americanised)

            Globalisasi dalam konteks ini dipahami sebagai sebuah dinamika, di mana struktur-struktur sosial modernitas (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme, dsb.) disebarkan ke seluruh penjuru dunia, yang dalam prosesnya cenderung merusak budaya setempat yang telah mapan serta merampas hak self-determination rakyat setempat.

  1. Globalisasi sebagai penghapusan batas-batas teritorial (atau sebagai

persebaran supra-teritorialitas)

            Globalisasi mendorong rekonfigurasi geografis, sehingga ruang-sosial tidak lagi semata dipetakan dengan kawasan teritorial, jarak teritorial, dan batasbatas teritorial. Dalam konteks ini, globalisasi juga dipahami sebagai sebuah proses (atau serangkaian proses) yang melahirkan sebuah transformasi dalam spatial organisation dari hubungan sosial dan transaksi-ditinjau dari segi ekstensitas, intensitas, kecepatan dan dampaknya-yang memutar mobilitas antar-benua atau antar-regional serta jejaringan aktivitas (Scholte, 2002 dalam Suroso, 2010).

2.3. Peningkatan Mutu Guru

            Pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat, dapat bergerak cepat menemukan dan memperbaiki celah – celah yang dapat menyulut kesenjangan dalam dunia pendidikan. Salah satunya dengan cara menjadikan pendidikan di Indonesia semakin murah atau bahkan gratis tapi bukan pendidikan yang murahan tanpa kualitas. Hal ini memang sudah dimulai di beberapa daerah di Indonesia yang menyediakan sekolah unggulan berkualitas yang bebas biaya. Namun hal tersebut baru berupa kebijakan regional di daerah tertentu. Alangkah baiknya jika pemerintah pusat menerapkan kebijakan tersebut dalam skala nasional . Untuk dapat mewujudkan hal tersebut pemerintah perlu melakukan pembenahan terutama dalam bidang birokrasi. Korupsi mesti segera diberantas, karena korupsi merupakan salah satu yang menghancurkan bangsa ini.

            Ide Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Moh. Nuh yang mengingatkan, bahwa dalam dunia pendidikan tak boleh ada sikap diskriminatif yang disebabkan adanya perbedaan kaya dengan miskin akibat faktor wilayah kota dan desa sehingga seseorang kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan. Perlu diimplentasikan dan dilaksanakan dengan segera, agar hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak dapat segera terwujud, dan dapat mendorong lembaga pendidikan untuk mempertimbangkan kurikulum maupun metodologi yang tidak banyak mengeluarkan biaya.

            Selain itu membuat standar baru tentang kualitas pendidikan yang tidak saja menyentuh kemampuan dan kreativitas siswa melainkan juga ongkos sekolah. Kriteria yang mempersyaratkan kemampuan menampung siswa tidak mampu sekaligus kemampuan untuk mensejahterakan guru. Sekolah tidak lagi diukur dari kemampuannya mencetak siswa yang pintar melainkan bagaimana mengajarkan siswa untuk saling bertanggung jawab dan mempunyai solidaritas tinggi. Standar internasional tentang kemampuan intelektual tidak akan bisa diraih dengan kondisi struktural yang masih mengalami persoalan ketimpangan dan kesenjangan sosial. Selain itu solusi-solusi lain yang dapat dilaksanakan adalah

  • Meningkatkan mutu SDM terutama Guru dalam penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Asing lainnya
  • Peningkatan Mutu Guru dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
  • Peningkatan Mutu Manajemen sekolah dan Manajemen pelayanan pendidikan
  • Peningkatan Mutu sarana dan Prasarana
  • Penanaman nilai-nilai keteladanan
  • Pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan
  • Penelitian dan pengembangan pendidikan

 3. Penutup

Indonesia telah memulai upaya reformasi guru yang ambisius dan banyak langkah-langkah positif yang telah diambil. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam tulisan ini, banyak tantangan baru telah muncul dan masih banyak sekali langkah lain yang harus diambil sebelum semua tujuan reformasi tercapai. Berbagai kebijakan yang diambil pada titik reformasi sekarang ini akan menentukan masa depan angkatan kerja pendidikan dan membentuk kualitas sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Implikasi anggaran dari reformasi ini benar-benar harus diingatkan kembali, dan perlu ditekankan bahwa inefisiensi pada sistem bisa berujung pada tidak tertanganinya aspek-aspek lain dari pendidikan. Langkah-langkah yang tepat, terutama dengan menciptakan kerangka penilaian guru dan sistem kenaikan pangkat dan jabatan yang berbasis prestasi, akan memungkinkan Indonesia untuk menciptakan angkatan guru yang berkualitas dan bermotivasi tinggi, yang bekerja di dalam sistem pendidikan yang efisien dan efektif. Pemetik manfaat terbesar dari itu semua pada masa mendatang adalah angkatan muda Indonesia dan negeri ini secara keseluruhan.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

HERMAWAN S., Rachman & Zulfikar Zen. Etika kepustakawanan: suatu pendekatan terhadap kode etik pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006

JANUAR S. Indra. Globalisasi Pendidikan. http://zag.7p.com/globalisasi_pendidikan.htm akses tanggal 10 Mei 2015

http://edukasi.kompas.com akses tanggal 10 Mei 2015

OCTAVIANUS, Petrus. Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055) jilid I. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2005

____________________ Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055) jilid II. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2005

___________________. Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055) jilid III. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2007

PRASETYO, Eko. Orang miskin dilarang sekolah. Yogyakarta: Resist Book, 2005

SUTARNO NS. Tanggung jawab perpustakaan: dalam mengembangkan masyarakat informasi. Jakarta: Panta Rei, 2005

TANJE, Sixtus. Globalisasi Pendidikan dan Ketidaksiapan Sekolah. http://re-searchengines.com/sixtus0409.html akses tanggal 10 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s